Dark/Light Mode

Kecelakaan Pesawat Jeju Air, 179 Orang Tewas, Tak Ada WNI

Senin, 30 Desember 2024 08:00 WIB
Pesawat Jeju Air yang berangkat dari Bangkok, Thailand menuju Jeolla Selatan, Korea Selatan, hangus terbakar usai mengalami kecelakaan, di Bandara Internasional Muan, Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan, Minggu (29/12/2024). 179 orang tewas, dan dua orang selamat. (Foto: Istimewa)
Pesawat Jeju Air yang berangkat dari Bangkok, Thailand menuju Jeolla Selatan, Korea Selatan, hangus terbakar usai mengalami kecelakaan, di Bandara Internasional Muan, Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan, Minggu (29/12/2024). 179 orang tewas, dan dua orang selamat. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabar duka datang dari Korea Selatan (Korsel). Pesawat Jeju Air yang berangkat dari Bangkok, Thailand menuju Jeolla Selatan-Korsel, Minggu (29/12/2024), mengalami kecelakaan yang membuat 179 orang tewas. Dari seluruh korban jiwa, dipastikan tidak ada WNI yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Jeju Air dengan nomor seri 7C2216 membawa 175 penumpang dan 6 awak dari Thailand menuju Korea Selatan. Nahas, saat mendarat di Bandara Internasional Muan, pesawat tergelincir dan meledak.

Rob McBride dari Al Jazeera melaporkan, ada kerusakan pada roda pendaratan. Dugaan itu mencuat usai pesawat mendarat dengan posisi miring, meluncur deras di sepanjang landasan, hingga menyebabkan ledakan. Dari keterangan para saksi mata, terdapat rangkaian ledakan sehingga menimbulkan kebakaran dahsyat.

Berdasarkan rekaman yang beredar di media sosial, pesawat Boeing 737-800 itu, tergelincir di landasan pacu. Dengan kecepatan tinggi, pesawat kemudian menabrak seperti penghalang beton, meledak, dan sejumlah bagian pesawat beterbangan ke udara.

Gumpalan asap tebal mengepul ke angkasa. Api dengan lahapnya menghanguskan bagian pesawat. Para petugas pemadam kebakaran dan kendaraan darurat telah bersiaga.

Baca juga : Prabowo Ucapkan Terima Kasih Kepada Kapolri & Panglima TNI

Menurut The Guardian, Jeju Air mencoba satu pendaratan sebelum dipaksa untuk “berputar-putar” ketika roda pendaratan gagal turun secara normal. Go-around adalah manuver penerbangan standar di mana pilot membatalkan upaya pendaratan dan berputar-putar untuk mencoba lagi. Tabrakan burung diduga telah menyebabkan kerusakan roda pendaratan, meskipun hal ini masih dalam penyelidikan.

Pria bermarga Lee, seorang pramugara merupakan korban selamat. Setelah sadar, ia mengaku tak mengingat saat ledakan terjadi. Lee hanya ingat saat terbangun sudah berada di rumah sakit.

“Saat saya terbangun, saya sudah diselamatkan,” katanya kepada dokter di rumah sakit, menurut Direktur Rumah Sakit Ju Woong dalam konferensi pers dikutip Yonhap News.

Ju berharap Lee yang saat ini dirawat di unit perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Wanita Ewha di Seoul barat, cepat sembuh setelah didiagnosis mengalami beberapa patah tulang. Lee mendapatkan perawatan khusus karena kemungkinan efek lanjutan, termasuk kelumpuhan total.

Sementara itu, korban selamat lainnya, seorang pramugari berusia 25 tahun bermarga Koo, sedang dirawat di Pusat Medis Asan di bagian timur Seoul. Koo dilaporkan dalam kondisi stabil, meski mengalami cedera di pergelangan kaki dan kepala. Staf medis menolak menjawab pertanyaan wartawan tentang kondisinya.

Baca juga : NasDem Pastikan, Hubungan Paloh-Prabowo Tetap Hangat

Atas kejadian ini, Pemerintah Korea Selatan mengumumkan masa berkabung nasional selama 7 hari. Presiden sementara Choi Sangmok juga memerintahkan agar mengibarkan bendera setengah tiang di semua kementerian, gedung pemerintah, dan institusi publik sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.

Pengumuman masa berkabung ini disampaikan Choi Sangmok dalam pertemuan darurat beberapa jam setelah insiden pesawat Jeju Air Flight 2216 dilaporkan terjatuh.

“Kami menyampaikan belasungkawa dan simpati yang terdalam kepada keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang kehilangan nyawa dalam tragedi yang tidak terduga ini,” kata Choi dikutip media lokal, Yonhap.

Choi menyampaikan, masa berkabung nasional dilaksanakan selama sepekan mulai Minggu 29 Desember 2024 hingga malam Sabtu, 4 Januari 2025. Para pegawai negeri juga diwajibkan mengenakan pita hitam sebagai tanda belasungkawa.

Choi juga menetapkan Bandara Internasional Muan yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat Jeju Air sebagai zona khusus bencana. Tak hanya itu, industri hiburan Negeri Ginseng itu juga turut memberikan penghormatan atas peristiwa tragis tersebut dengan membatalkan agenda dan sejumlam program siaran penghargaan, termasuk 2024 MBC Entertainment Awards.

Baca juga : Demokrat Dan Gerindra Tangsel Makin Lengket

Direktorat Jenderal Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI memastikan tidak ada WNI dalam pesawat tersebut. Direktur Jenderal PWNI Judha Nugraha mengatakan, berdasarkan informasi informal yang diperoleh, tidak terdapat penumpang WNI dalam pesawat tersebut.

Meski begitu, Kemenlu dan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Seoul terus memantau perkembangan yang terjadi. Judha menambahkan bahwa KBRI tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat terkait musibah tersebut. [MEN/BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.