Dark/Light Mode

Ukraina Siap Teken Kesepakatan Mineral Dengan AS Tanggal 28 Februari

Rabu, 26 Februari 2025 10:31 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Instagram)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ukraina akhirnya menyetujui syarat kesepakatan mineral dengan Amerika Serikat (AS), dan akan menandatanganinya pada tanggal 28 Februari mendatang. Demikian informasi yang diungkap pejabat Ukraina, seperti dilansir AFP.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi dasar jaminan keamanan masa depan dari Washington. Sesuai permintaan Presiden AS Donald Trump, yang mendesak Ukraina memberikan akses mineral tanah jarangnya sebagai kompensasi atas bantuan perang senilai miliaran dolar AS yang diterima di pemerintahan Presiden Joe Biden.

“Kesepakatan tersebut akan membuat AS dan Ukraina bersama-sama mengembangkan kekayaan mineral Ukraina. Pendapatan yang masuk, akan menjadi dana bersama Ukraina dan Amerika,” ungkap seorang sumber senior Ukraina kepada AFP, Selasa (25/2/2025).

Kabarnya, draft kesepakatan yang mencakup referensi keamanan itu tidak secara eksplisit menetapkan komitmen AS, yang merupakan salah satu tuntutan Kiev untuk menyepakati perjanjian.

"Ada klausul umum yang mengatakan Amerika akan berinvestasi di Ukraina yang berdaulat dan stabil, bahwa Amerika akan bekerja untuk perdamaian abadi, dan bahwa Amerika mendukung upaya untuk menjamin keamanan. Saat ini, pejabat pemerintah sedang mengerjakan perinciannya," beber sumber tersebut.

Sumber Ukraina itu mengatakan, kemungkinan, Presiden Volodymyr Zelensky akan menandatangani kesepakatan tersebut di Washington, paling cepat pada 28 Februari. Jadwal ini telah  dikonfirmasi oleh Trump.

"Saya mendengarnya. Saya mendengar bahwa dia akan datang pada hari Jumat," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Baca juga : Melindungi Kesehatan Warga Negara Yang Akan Ke Luar Negeri

"Dia ingin menandatanganinya bersama saya. Saya mengerti, itu adalah masalah besar, masalah yang sangat besar," lanjutnya.

Sebelumnya, Zelensky menolak permintaan Trump untuk memberikan mineral berharga senilai 500 miliar dolar AS (Rp 8,19 kuadriliun) yang digunakan dalam bidang kedirgantaraan, kendaraan listrik, dan teknologi lainnya kepada AS.

Nilai ini jauh di atas angka resmi bantuan militer AS untuk Ukraina sejak invasi Rusia tiga tahun lalu, yang mencapai 60 miliar dolar AS atau Rp 983,22 triliun.

Sumber tersebut mengatakan, Washington telah memangkas klausul ini, serta klausul lain yang tidak menguntungkan Ukraina. “Mereka menghapus semua klausul yang tidak menguntungkan kami,” papar sumber Ukraina tersebut.

Trump mengatakan, itu bisa menjadi kesepakatan senilai satu triliun dolar AS.  Bisa menjadi apa saja.

Namun, Trump tidak menjawab secara langsung, ketika ditanya apa yang akan didapatkan Ukraina sebagai balasan. Dia malah menunjuk pengiriman senjata AS di masa lalu.

"Biden menghambur-hamburkan uang seperti permen kapas. Kami ingin kembali mendapatkan uang itu," tuturnya.

Memperbaiki Hubungan 

Baca juga : Perkuat SDM Kesehatan, Indonesia Gandeng Saudi

Ukraina berharap, kesepakatan mineral dapat memperbaiki hubungan dengan pemerintahan Trump, yang belakangan ini memburuk.

Trump mengubah kebijakan luar negeri AS sejak menjabat pada Januari 2025. Dia telah membuka dialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sambil melontarkan ancaman terhadap sekutu tradisional Washington.

24 Februari lalu, Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), AS lebih memihak Rusia ketimbang sekutu-sekutunya di Eropa. Trump mendorong resolusi yang menyerukan perang diakhiri, tanpa mengutuk invasi Moskow terhadap tetangganya tiga tahun lalu atau bersikeras pada integritas teritorial Ukraina.

Minggu 23 Februari 2025, Trump mencap Zelensky sebagai diktator dan memintanya bergerak cepat mengakhiri perang. Sehari setelah pejabat Rusia dan AS menggelar  pembicaraan di Arab Saudi tanpa Kiev.

Sebelumnya, Zelensky menuduh Trump tinggal di "ruang disinformasi" Rusia.

Kegelisahan Eropa

Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dengan Trump pada 24 Februari, bertepatan dengan peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina.

Sumber pejabat menuturkan, Macron memberi pengarahan kepada Zelensky terkait pembicaraannya dengan Trump. Macro juga disebut akan berbicara dengan para pemimpin lainnya, melalui konferensi video pada 26 Februari.

Baca juga : Prabowo Pastikan, Danantara Dikelola Dengan Semangat Anti Korupsi

Saat berbicara di Gedung Putih, Macron memperingatkan Trump bahwa perdamaian tidak berarti Ukraina harus menyerah. Dia  juga meminta dukungan AS untuk setiap kemungkinan pengerahan pasukan Eropa, yang bertujuan untuk mempertahankan kesepakatan damai.

Perubahan sikap Trump terhadap Rusia telah memicu kekhawatiran berakhirnya dukungan AS untuk Kiev, dan untuk seluruh Eropa.

Esoknya, tanggal 25 Februari, Macron juga berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer. Downing Street mengatakan, Macron dan Starmer memuji Trump karena berusaha keras mencapai perdamaian yang langgeng di Ukraina.

Starmer yang akan mengunjungi Gedung Putih pada tanggal 27 Februari menegaskan, dukungan AS sangat penting untuk mencegah Rusia memulai invasi lain dalam beberapa tahun mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.