Dark/Light Mode

Di Konferensi Tokyo 2025

SBY Serukan Kolaborasi Antar Negara

Kamis, 6 Maret 2025 07:30 WIB
Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbicara dalam Konferensi Tokyo 2025, di Jepang, Selasa (4/3/2025). (Foto: Instagram)
Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbicara dalam Konferensi Tokyo 2025, di Jepang, Selasa (4/3/2025). (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerukan pentingnya kerja sama, kemitraan dan kolaborasi antar negara di Konferensi Tokyo 2025, di Jepang, Selasa (4/3/2025).

Di hadapan ratusan peserta dari berbagai negara, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu memberikan pidato kunci yang menggambarkan dunia dalam kondisi terpecah-belah.

“Multilateralisme saat ini sedang dalam krisis. Benar bahwa tidak ada lagi Perang Dunia sejak 1945. Tapi kini, lihat di Ukraina, Gaza, Kongo dan Sudan, dan yang lebih dekat, perang sipil di Myanmar," kata SBY, dalam keterangannya, Rabu (5/3/2025).

SBY menjelaskan, situasi ter­pecah belah ini terlihat dari gam­baran Amerika Serikat (AS) se­bagai negara yang menciptakan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), justru mundur dari se­jumlah perjanjian multilateral. Dalam analisanya, persaingan geopolitik menghambat kerjasa­ma kawasan dan multilateral.

Baca juga : OJK Minta Masyarakat Selalu Waspada

“Ke-aku-an (me-ism), dan bukannya ke-kita-an (we-ism) yang berkembang cepat. Dewan Keamanan PBB lumpuh, gagal menghentikan genosida di Gaza maupun perang di Ukraina. Ada persepsi kuat tentang standar ganda dalam penerapan hukum dan norma internasional,” te­gasnya.

Dalam sudut pandang SBY, PBB adalah gabungan dari kega­galan. Hal itu, tercermin dari berbagai perang yang masih ber­lanjut saat ini, dan keberhasilan dengan munculnya negara-negara merdeka dari bayang-bayang kolonialisme maupun konflik yang dipecahkan PBB.

Meskipun mengungkapkan situasi dunia yang terpecah belah, SBY memberikan solusi mengatasi krisis multilateralisme. Sebagai solusi atau jalan keluar dari krisis global. Yaitu, dengan memperkuat PBB sebagai perwujudan multilateralisme global.

“Mengatasi kelumpuhan Dewan Keamanan dengan melepaskannya dari cengkeraman veto dari lima negara; memberdayakan Majelis Umum; me­ningkatkan operasi penjaga perdamaian; serta menciptakan sistem pendanaan yang stabil, sehingga tidak ada lagi negara adidaya yang bisa mengintimi­dasi PBB dengan mengancam membekukan pendanaannya," rincinya.

Baca juga : Pemkab Tasikmalaya Silakan Koordinasi Ke Pemprov Jabar

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ini menekankan, reformasi PBB hanya dapat dilakukan jika ada kekompakan dari sebagian besar anggotanya, sesuai namanya sebagai persatuan bangsa-bangsa.

"Bukan sekelompok bangsa yang terbelah antara yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan miskin. Tanpa persatuan, negara-negara tidak dapat saling bekerja bersama. Jika mereka tidak dapat saling bekerja bersama, maka multilateralisme menjadi tidak berarti," tegas SBY.

Seruan SBY ini berangkat dari pengalamannya menghadiri forum-forum global. Tokoh bangsa asal Pacitan, Jawa Timur ini mengaku pernah merasakan semangat kerja sama dalam mengatasi krisis keuangan global2008, negosiasi perubahan iklim, dan adopsi SDGs.

Menutup pidatonya, SBY me­nyampaikan seruan pada dunia. "Untuk menghindari bencana iklim, menghindari perang dunia besar lainnya, demi mencegah lebih banyak penderitaan manusia, mari kita kembali ke jalur kerja sama, kemitraan, dan kolaborasi. Tak ada negara yang bisa mengatasi problem global sendirian. Tidak ada negara yang bisa merasa aman, dengan mem­buat negara-negara lain merasa tidak aman," katanya.

Baca juga : Duit Hasil Penambangan Ilegal Ditampung Di Rekening Si OB

Mengutip pepatah Afrika, SBY mengingatkan, "Jika ingin cepat, pergilah sendiri. Jika ingin jauh, pergilah bersama-sama. Jadi, marilah kita pergi jauh, bersama-sama," pungkasnya.

Diketahui, dalam forum in­ternasional ini, Presiden ke-6 RI SBY diundang untuk me­nyampaikan pidato kunci, dan kemudian juga menjadi panelis diskusi. Konferensi Tokyo mu­lai diselenggarakan pada tahun 2017, bekerja sama dengan 10 lembaga terkemuka. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.