Dark/Light Mode

Drama Politik Ayah NATO dan Perang Zona Abu-Abu

Selasa, 8 Juli 2025 22:04 WIB
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut Presiden Trump sebagai daddy saat KTT NATO. (Foto: Chip Somodevilla/Win McNamee/Getty Images).
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut Presiden Trump sebagai daddy saat KTT NATO. (Foto: Chip Somodevilla/Win McNamee/Getty Images).

Lupakan dulu rudal Iran-Israel yang berkeliling langit seperti layang-layang mahal yang saling senggol. Lupakan juga bom Amerika yang menghajar fasilitas nuklir Teheran. Itu hanya hiburan perang besar yang penuh drama, gaduh tapi terkendali. Ibarat film laga Hollywood yang ending-nya bisa ditebak.

Dua minggu ini, saya sibuk mengikuti berita. Ternyata, dunia sudah berubah jauh lebih ngeri ketimbang film laga mana pun. Diam-diam, keamanan global sudah masuk era baru. Perang besar memang masih ada, tapi perang kecil yang tersembunyi justru lebih mematikan.

Sebuah momen lucu terjadi di KTT NATO minggu lalu. Sekjen NATO Mark Rutte memanggil Presiden AS Donald Trump dengan sebutan "Ayah" atau "Daddy." Ruangan tertawa geli. Tapi, di balik canda itu ada transaksi politik besar yang mahal sekali ongkosnya. Ini bukan sekadar lelucon, melainkan delusi strategis yang bikin saya geleng-geleng kepala.

Trump menekan Israel dan Iran untuk damai. Eropa memuji langkah ini sebagai bukti kepemimpinan Amerika telah kembali. Mereka bertepuk tangan lega, tapi seperti sulap profesional, tepuk tangan ini hanya pengalih perhatian dari harga sesungguhnya.

Baca juga : Gapasdap Pastikan Kapal Tua Wajib Lakukan Perawatan Rutin

Harga itu berupa janji negara-negara Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 3,5 persen dari PDB. Ini ibarat janji membeli Ferrari dengan uang hasil menjual sepeda motor bekas, mustahil terwujud dan malah bikin ribut besar di rumah masing-masing.

Cacat logika ini sebernarnya cukup mudah dibaca, bahwa janji yang sulit ditepati ini justru memberi Trump alasan kuat untuk menarik pulang tentara Amerika dari Eropa di masa depan. "Mereka sudah janji mau bayar mahal, sekarang waktunya mandiri," kira-kira begitu alasannya nanti.

Ironinya jelas, demi mempertahankan Amerika, Eropa malah sedang mempercepat hengkangnya Amerika dari Eropa. Seperti beli rasa nyaman sesaat dengan kartu kredit yang bunganya tinggi sekali.

Tapi, ini bukan soal uang saja. NATO sibuk mengurus anggaran seperti orang yang berencana perang parit, padahal musuh sudah perang menggunakan ponsel dan printer bekas. Perang era baru sudah masuk "zona abu-abu," tidak ada jelas siapa kawan, siapa lawan.

Baca juga : Program Listrik Desa, DPR Yakin Indonesia Terang Ada di Seluruh Kampung

Iran dan Israel contohnya, sudah perang gaya baru. Mossad merekrut mahasiswa Iran, dibayar hanya sekitar 500 dolar AS dalam Bitcoin untuk memotret lokasi militer. Mereka bahkan telepon jenderal-jenderal Iran, ancamannya ngeri sekali. Sebaliknya, Iran meretas ribuan CCTV di Israel untuk memandu rudal secara langsung. Kamera di supermarket, ATM, bahkan jalan raya tiba-tiba jadi mata-mata.

Perang ini menular ke Ukraina dan China. Di Ukraina, agen Rusia mengajak tentara kencan lewat Telegram, ternyata jebakan bom. Di China, pemerintah mengingatkan ada agen asing yang membeli printer bekas untuk mencuri data penting. Bayangkan, printer rongsokan di toko loak pun kini masuk kategori ancaman nasional!

Indonesia harus sadar dengan pola perang baru ini. Negara kita adalah target empuk. Populasi digital besar, banyak yang masih gaptek soal keamanan siber. Polarisasi sosial-politik juga mudah dipancing untuk bertengkar. Apalagi, hampir semua infrastruktur digital kita bergantung pada teknologi luar.

Kisah "Politik Ayah" di NATO jadi pelajaran berharga: di era sekarang, keamanan tidak bisa dibeli hanya dengan tepuk tangan atau sanjungan belaka. Ia butuh kewaspadaan tinggi dan kesadaran mendalam tentang ancaman nyata.

Baca juga : Politik Tanpa Pelayanan

Coba perhatikan QRIS di warung-warung kopi. Scan, bayar, selesai. Kelihatan gampang, tapi di baliknya ada data yang lari ke mana-mana. Ini tentu hanya analogi sederhananya saja. Dunia perang modern memang seperti itu, terlihat aman-aman saja tapi diam-diam mempersiapkan. Tiap kali kita klik tombol "setuju," sebenarnya kita sudah menyerahkan data pribadi kita ke dunia luar. Masalahnya bukan lagi apakah data kita bocor, tapi siapa nanti yang akan memanfaatkannya untuk menghajar kita.

Begitulah perang zaman sekarang, terlihat tenang di permukaan, tapi sudah mencekik di kedalaman.

Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Efatha Filomeno Borromeu Duarte, Dosen Geopolitik dan Geostrategi Universitas Udayana

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.