Dark/Light Mode

Diplomasi Budaya: Indonesia Persembahkan Patung Sir Michael Somare untuk PNG

Jumat, 15 Agustus 2025 17:48 WIB
Tokoh budaya nasional Putu Supadma Rudana (Foto: Dok. Pribadi)
Tokoh budaya nasional Putu Supadma Rudana (Foto: Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kembali mencatatkan sejarah diplomasi budaya tingkat tinggi di kancah internasional. Melalui kontribusi langsung tokoh budaya nasional Putu Supadma Rudana, dengan menghadiri upacara peresmian/unveiling ceremony patung monumental Sir Michael Thomas Somare, Bapak Bangsa Papua Nugini/The Grand Chief, di Gedung Parlemen Nasional PNG, Port Moresby.

Patung perunggu setinggi 3,2 meter dan hampir 5 meter dengan fondasi ini merupakan karya seniman muda Indonesia, I Gede Sarantika, hasil kolaborasi Parlemen Papua Nugini dengan Museum Rudana, Bali. Pembuatan patung ini diinisiasi sejak 2023 oleh Wakil Ketua Parlemen PNG, Johnson Wapunai, bersama Presiden The Rudana Fine Art Institution, Putu Supadma Rudana, dengan dukungan penuh pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana.

“Patung berbahan perunggu murni ini bukan sekadar karya seni. Ia adalah monumen hidup tentang hubungan baik Indonesia dan Papua Nugini yang merupakan pintu gerbang ke negara-negara kepulauan pasifik," ujar Putu Rudana, dalam keterangannya, Jumat (15/8/2025).

Mantan Wakil Ketua BKSAP DPR ini melanjutkan, patung tersebut melambangkan hubungan persahabatan sejati dan abadi antara Indonesia dan Papua Nugini, melampaui batas-batas diplomasi politik, menembus ruang-ruang diplomasi formal, dan berakar pada nilai kemanusiaan serta kearifan/kebijaksanaan lokal. Patung ini merupakan bentuk penghormatan antar kedua bangsa dan masyarakatnya.

Baca juga : McDonald’s Indonesia Kembali Hadirkan Menu Spesial Khas Nusantara

"Saat kita memuliakan bapak bangsa mereka, mereka pun melakukan hal yang sama dengan menghormati kedaulatan kita. Ini merupakan diplomasi yang terelevasi tinggi berbasis kebudayaan dan persaudaraan,” ujar Putu Rudana.

Peresmian dilakukan pada 7 Agustus 2025 lalu, yang bertepatan dengan 50 tahun lahirnya Parlemen Nasional PNG, jelang HUT Kemerdekaan ke-50 PGN (16 September 2025), HUT ke-80 RI (17 Agustus 2025), dan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Papua Nugini. Berbagai pagelaran seni tari khas pasifik, pagelaran budaya yang juga memasukkan unsur seni pertunjukan spiritual dari daerah asal Sir Michael Thomas Sumari juga dihadirkan dalam upacara peresmian tersebut.

Apacara peresmian dihadiri oleh berbagai tokoh bangsa dan negara Papua Nugini. Seperti Gubernur Jenderal Sir Bob Dadae, Ketua Mahkamah Agung/Chief Justice Sir Gibuna Gibbs Salika, Ketua National Parlemen Sir Job Pomat dan Wakil Koni Iguan, Perdana Menteri James Marape, Wakil Perdana Menteri John Rosso, jajaran menteri, para anggota nasional parlemen, korps diplomatik, Kardinal Papua Nugini dan para tokoh masyarakat, termasuk istri mendiang Sir Michael Thomas Somare Veronica Somare didampingi seluruh keluarga besar Somare.

Putu Rudana hadir sebagai tamu kehormatan. Dia menjadi satu-satunya warga negara asing yang diberi kehormatan berpidato dan memberikan pemaknaan pada malam yang bersejarah tersebut di forum resmi negara Papua Nugini yang dihadiri Three Arms of Government dan Gubernur Jenderal. Ini merupakan sebuah kesempatan yang langka diberikan kepada warga negara asing, yang menegaskan bahwa diplomasi budaya, seni dan spiritualitas wisdom dapat menembus batas protokol negara.

Baca juga : 2 Hotel BUMN Diakui Dunia

“Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya di Papua Nugini yang telah mengundang saya untuk menghadiri upacara sakral/bersejarah ini. Upacara peresmian patung bapak bangsa Papua Nugini," ucapnya.

Putu melanjutkan, bangsa lain mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa Indonesia? "Jawabannya sederhana: karena kita percaya budaya, seni dan spiritual wisdom adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan perbedaan hingga menjadikannya rasa persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan dalam mencapai perdamaian dunia," ucapnya.

Patung ini, tambah Putu, adalah simbolisme mercusuar hubungan kedua negara dan bangsa, dengan Indonesia merupakan pimpinan di kawasan Asia Tenggara dan Papua Nugini merupakan pintu gerbang ke pasifik. "Saya tentu sangat berbangga dapat menjadi bagian dari sejarah ini,” ucap Putu Supadma Rudana.

Anggota DPR dua periode ini (2014 - 2024) menegaskan, upacara peresmian patung founding father PNG ini merupakan salah satu peran strategis Indonesia di kawasan Pasifik. Khususnya dengan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia merupakan rumpun melanesia dengan mengangkat dan mengelevasi diplomasi melalui jalur kebudayaan, kesenian, spiritualitas, dan kearifan lokal.

Baca juga : Dukung Inovasi Pendidikan Tinggi Indonesia, Pertamina Bangun Gedung Riset Di ITB

“Presiden Prabowo memiliki visi besar yaitu budaya sebagai soko guru bangsa. Indonesia mengirim pesan kuat kepada dunia, diplomasi terbaik tidak selalu dibangun di meja perundingan, tetapi juga di ruang hati dan ingatan kolektif sebuah bangsa melalui budaya, spiritualitas, kebijaksanaan dan lokal wisdom (kearifan lokal),” kata Putu Rudana.

Pembuatan Patung Sir Michael Somare oleh Museum Rudana dan keluarga besarnya dapat dimaknai sebagai peneguhan komitmen terhadap kemerdekaan, persaudaraan, dan perdamaian antarbangsa. Patung berbahan perunggu ini diperkirakan bertahan lintas generasi, bahkan akan berubah warna alami menjadi hijau seperti Patung Liberty di Amerika Serikat yang melambangkan ketahanan, kontinuitas, dan warisan abadi persahabatan kedua bangsa.

Patung tersebut juga memuat tiga nama tokoh Indonesia yang kontribusinya diabadikan selamanya, yaitu Nyoman Rudana Pendiri Museum Rudana, Putu Supadma Rudana sebagai budayawan, dan I Gede Sarantika selaku seniman pembuat patung.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.