Dark/Light Mode

Banjir Bandang Di Pakistan 337 Orang Tewas, Pemerintah Panen Diprotes

Selasa, 19 Agustus 2025 06:37 WIB
Usai banjir bandang, warga melihat kondisi kawasan distrik Buner, barat laut Pakistan yang luluh lantak dan banyak pohon tumbang, Jumat (15/8/2025). (Foto Tangkapan Layar)
Usai banjir bandang, warga melihat kondisi kawasan distrik Buner, barat laut Pakistan yang luluh lantak dan banyak pohon tumbang, Jumat (15/8/2025). (Foto Tangkapan Layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang yang dipicu hujan deras telah menewaskan sekitar 337 warga di Pakistan, khususnya di Khyber Pakhtunkhwa dan distrik Buner, wilayah barat laut Pakistan. Banyak orang masih hilang, dan ratusan lainnya luka-luka.

Dilansir Al-Jazeera, Otoritas Manajemen Bencana Nasional Pakistan menerjunkan tim darurat untuk melakukan upaya penyelamatan di desa terpencil Chositi, di distrik Kishtwar, Minggu (17/8/2025). Di distrik tersebut ditemukan sekitar 60 jenazah. Sekitar 150 orang mengalami luka-luka, 50 orang di antaranya dalam kondisi kritis.

Sementara di distrik pegunungan Buner, petugas penyelamat menemukan 54 jenazah setelah berjam-jam pencarian. Pencarian korban masih terus dilakukan di sekitar lokasi banjir bandang. 

Dalam satu kasus tragis, 28 anggota keluarga tewas saat sedang bersiap untuk pesta pernikahan di Qadar Nagar, sebuah desa terpencil di Pakistan utara. Pencarian korban masih terus berlangsung Mingora, Pakistan.

"Pihak berwenang mengatakan akan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membersihkan jalan, dan baru setelah itu pekerjaan perbaikan dapat dimulai. Kerusakan infrastruktur sangat parah, dengan peringatan akan datangnya lebih banyak badai," kata jurnalis Al-Jazeera Kamal Hyder.

Banjir Di Kashmir India

Baca juga : Fahira Idris Paparkan 6 Terobosan Pengentasan Kemiskinan

Sementara di dua desa di distrik Kathua, Kashmir yang dikelola India, tujuh orang tewas dan melukai lima lainnya. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan belasungkawa. Dia menyatakan, bahwa tim PBB siap membantu pemerintah Pakistan dan India.

"Sekretaris Jenderal menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga korban dan menyatakan solidaritas dengan mereka yang terdampak bencana ini," ujar juru bicara Guterres, Stéphane Dujarric. 

Banjir bandang tersebut dipicu hujan deras pada Jumat (15/8/2025). Hal ini diperparah dengan fenomena cloudburst, alias curah hujan sangat deras dalam waktu singkat.

Hujan monsun tahun ini diperkirakan 50 persen lebih deras dibanding tahun lalu dan akan terus berlangsung sepanjang bulan. Pihak berwenang memperingatkan kemungkinan akan banjir susulan dan longsor hingga Selasa (19/8/2025).

Masyarakat Tidak Mendapat Peringatan Dini Banjir

Banyak warga Pakistan di daerah terdampak protes karena merasa tidak mendapat peringatan dini untuk mengungsi. Di daerah terpencil, biasanya peringatan disiarkan melalui pengeras suara masjid, namun kali ini tidak dilakukan.

Baca juga : Prabowo Bangga, Transisi dari Jokowi ke Pemerintahannya Dapat Apresiasi Dunia

“Para korban selamat lolos tanpa membawa apa-apa. Jika masyarakat diberitahu lebih awal, nyawa bisa diselamatkan dan warga bisa mengungsi ke tempat yang lebih aman," kata seorang guru sekolah di desa Pir Baba bernama Mohammad Iqbal, sebagaimana dikutip Associated Press (AP) News.

Namun Pemerintah Pakistan membela diri dengan mengatakan, sistem peringatan dini sudah ada. Tetapi, curah hujan yang sangat deras datang terlalu tiba-tiba, sehingga tidak sempat memperingatkan warga. 

"Tidak ada sistem prakiraan cuaca di mana pun di dunia yang dapat memprediksi waktu dan lokasi hujan deras secara tepat," kata Direktur Jenderal Badan Penanggulangan Bencana Pakistan Asfandyar Khan Khattak. 

Sementara pejabat penanggulangan bencana di pakistan Idrees Mahsud mengatakan, sistem peringatan dini Pakistan menggunakan citra satelit dan data meteorologi untuk mengirimkan peringatan kepada otoritas lokal. Data ini dibagikan melalui media dan tokoh masyarakat.

Hujan musiman dulunya hanya menyebabkan sungai meluap, kini juga memicu banjir perkotaan. Para ahli mengatakan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa cuaca ekstrem di Asia Selatan. 

Baca juga : GPR Champions 2025 Publikasikan Kinerja Humas Pemerintah Berprestasi

Meskipun Pakistan diperkirakan menghasilkan kurang dari 1 persen emisi pemanasan global, negara itu menghadapi gelombang panas, hujan lebat, banjir akibat letusan gletser, dan hujan deras yang menghancurkan masyarakat setempat dalam hitungan jam.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.