Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Depak Jerman, China Masuk 10 Besar Negara Terinovatif Versi PBB
Selasa, 16 September 2025 16:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Untuk pertama kalinya, China masuk ke dalam 10 negara terinovatif versi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Selasa (16/9/2025). Masuknya China ke daftar teratas berkat investasi besar-besaran banyak perusahaan China dalam penelitian dan pengembangan (litbang).
Sebelumnya, Jerman berada di posisi ke-10 negara terinovatif PBB. Untuk posisi pertama masih dipegang Swiss sejak 2011. Posisi kedua dan ketiga dipegang Swedia dan Amerika Serikat (AS).
Setelah AS, negara yang masuk negara terinovatif adalah Korea Selatan, Singapura, Inggris, Finlandia, Belanda, dan Denmark. Survei tersebut dilakukan Indeks Inovasi Global (GII) yang melibatkan 139 negara, yang memeringkatnya berdasarkan 78 indikator.
Baca juga : Bakal Jadi Ketum, Budi Djiwandono Diyakini Mampu Besarkan Karang Taruna
GII merupakan Global laporan tahunan bergengsi yang diterbitkan World Intellectual Property Organization (WIPO), lembaga khusus di bawah naungan PBB yang fokus pada hak kekayaan intelektual. Tujuan laporan ini adalah mengukur dan membandingkan kemampuan inovasi negara-negara di dunia.
Pertumbuhan Litbang Global Menurun
Terus naiknya pengeluaran perusahaan Negeri Tirai Bambu untuk penelitian dan pengembangan seiring dengan melambatnya dana yang dikeluarkan banyak negara lain untuk sektor yang sama. Pertumbuhan litbang global diperkirakan melambat menjadi 2,3 persen tahun ini dari 2,9 persen tahun lalu. Ini menjadi level terendah sejak 2010 setelah krisis keuangan.
China menyumbang sekitar seperempat dari total permohonan paten internasional pada 2024. Hingga kini, Beijing masih duduk di posisi teratas untuk pengajuan hak paten global.
Baca juga : GDPS Dipercaya Mengelola 600 Tenaga Operasional SPBU BP
Sementara itu, AS, Jepang, dan Jerman, yang menyumbang 40 persen dari total permohonan paten, mencatatkan penurunan.
Kepemilikan paten secara luas dipandang sebagai indikator penting kekuatan ekonomi dan keahlian industri suatu negara.
"Dalam jangka panjang, Jerman tidak perlu khawatir dengan penurunannya ke peringkat ke-11," ujar salah satu editor GII Sacha Wunsch-Vincent dikutip Reuters, Selasa (16/9/2025).
Baca juga : Empat Perwira Bintang Tiga Masuk Bursa Calon Kepala Staf AL
Dia menambahkan, peringkat baru tersebut tidak mencerminkan dampak tarif yang diberlakukan pemerintahan Trump di AS.
"Tantangan bagi Jerman adalah bagaimana untuk tetap menjadi pusat inovasi digital," ujar Direktur Jenderal WIPO Daren Tang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya