Dark/Light Mode

ICWA dan Kemlu Dorong Kerja Sama Multilateral Yang Lebih Inklusif

Rabu, 8 Oktober 2025 06:07 WIB
Dari kiri: Dubes Bagas Hapsoro, Dubes Tri Edi Mulyani, Dubes Soemadi DM Brotodiningrat, Dubes Artauli Tobing, dan Dubes Prayono Atiyanto. (Foto ICWA)
Dari kiri: Dubes Bagas Hapsoro, Dubes Tri Edi Mulyani, Dubes Soemadi DM Brotodiningrat, Dubes Artauli Tobing, dan Dubes Prayono Atiyanto. (Foto ICWA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan dominasi kekuatan adidaya yang makin menjauh dari cita-cita Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia justru tampil mengingatkan pentingnya kerja sama nyata dalam menghadapi tantangan global.

Demikian pandangan mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Swedia Dubes Bagas Hapsoro bersama segenap pengurus Indonesian Council on World Affairs (ICWA), saat mengadakan pertemuan dengan Dirjen Kerja Sama Multilateral Kemlu, Tri Tharyat beserta jajarannya di Kemlu, Jl. Pejambon 6, Jakarta (7/10/2025).

Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral, Tri Tharyat, menyambut baik pandangan ICWA. Dia menyebut, pernyataan Presiden Prabowo dalam Sidang Majelis Umum PBB baru-baru ini merupakan sikap berani Indonesia sebagai negara berdaulat yang menjunjung tinggi perdamaian dunia.

"Pernyataan Presiden bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan sikap tegas bangsa Indonesia. Suara Indonesia kali ini terdengar lantang," ujar Tri yang baru pulang dari New York.

Dari kiri: Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata (KIPS) Caka Alverdi Alwi, Direktur PELH Tri Purnajaya, Dirjen KS Multilateral Tri Tharyat, dan Dubes Prayono Atiyantom. (Foto ICWA)

Siap Hadapi Konflik Global

Baca juga : CK Dorong Petani Mitra Terapkan Praktik Pertanian Lebih Ramah Lingkungan

Tri menekankan perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak konflik global, serta memperkuat kesiapan dalam negeri sebagai respons atas sikap luar negeri Indonesia.

ICWA mencatat, beberapa lembaga pemikir dari India, Iran, dan Selandia Baru telah membuka komunikasi terkait langkah damai yang diinisiasi Indonesia. Menanggapi hal ini, Kemlu berencana menggelar pertemuan dengan Tim Koordinasi Pasukan Pemelihara Perdamaian.

"Indonesia punya PMPP TNI di Sentul, markas pelatihan pasukan perdamaian. Ini jadi andalan Indonesia dalam misi PBB sejak 1957," jelas Tri.

Kontingen Garuda selama ini dikenal netral dan mampu jadi penengah dalam konflik. Reputasi ini menjadikan Indonesia semakin dipercaya di forum internasional.

Multilateralisme Tak Hanya Soal PBB

Baca juga : Prabowo Dan Jokowi Ketemu Di Kertanegara, Sjafrie: Silaturahmi Kebangsaan

Ketua Dewan Pertimbangan ICWA, Dubes Soemadi Brotodiningrat, mengingatkan perlunya pemahaman luas tentang multilateralisme. Dia menegaskan, kerja sama multilateral tak terbatas hanya pada kerangka PBB, tetapi juga forum lain seperti BRICS.

 "Indonesia sudah bergabung dengan BRICS sejak 6 Januari 2025. Ini langkah strategis untuk memperkuat posisi dalam ekonomi global dan membuka kerja sama lebih luas," katanya.

Menurutnya, BRICS membawa semangat solidaritas baru yang mampu mengimbangi ketimpangan global.

Bahas Isu Air dan Pembangunan

Ke depan, ICWA dan Kemlu akan menggelar diskusi penting bertajuk Air dan Pembangunan dalam Kerangka PBB pada 31 Oktober 2025 di Kantin Diplomasi, Kemlu, Jakarta.

Baca juga : Dubes UEA Dukung Kerja Sama Budaya & Pertukaran Intelektual

Diskusi ini akan menghadirkan mantan Menlu RI Retno Marsudi sebagai keynote speaker. Diketahui, Retno saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air sejak November 2024.

"Indonesia juga sudah jadi tuan rumah Forum Air Dunia ke-10 di Bali, Mei lalu. Ini jadi langkah lanjut yang relevan," kata Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup (PELH), Tri Purnajaya.

Diskusi akan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bappenas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pemerintah daerah. Organisasi internasional adalah United Nations Development Programme (UNDP), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Food and Agriculture Organization (FAO), Asian Development Bank dan organisasi riset negara-negara sahabat. 

Harapan Kerja Sama Inklusif

Pertemuan hangat antara ICWA dan Kemlu menunjukkan pentingnya inklusivitas dan kerja sama multilateral untuk menghadapi tantangan global. Akademisi dan pusat studi hubungan internasional pun diharapkan aktif menyumbangkan pemikiran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.