Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Pekerja pabrik bernama Vladimir Rychagov di Khanty-Mansiysk, Rusia, menjadi sorotan pemberitaan di Negeri Beruang Merah. Sebab, dia menolak mengembalikan uang sebanyak 7 juta rubel (sekitar Rp 1,46 miliar) yang tidak sengaja terkirim ke rekeningnya.
Dia hanya menantikan uang cuti sebesar sekitar 46 ribu rubel (sekitar Rp 9,57 juta) di awal tahun. Namun ketika membuka aplikasi banknya di awal tahun, dia kaget karena mendapati jumlah yang jauh lebih besar masuk ke rekeningnya.
Pada saat itu, di antara rekan-rekannya memang beredar rumor bahwa perusahaan akan memberikan ‘gaji ke-13’ sebagai bonus. Maka dari itu, Rychagov mengira mungkin uang itu bonus besar yang dijanjikan. Namun, kegembiraannya berubah menjadi masalah ketika pihak akuntan menghubunginya.
Akuntan itu mengatakan, uang tersebut terkirim karena kesalahan sistem. Dia diminta mengembalikan sebagian uang tersebut.
Baca juga : Rupiah Naik Tipis Ke Rp 16.617 Per Dolar AS
Rychagov kemudian mencari informasi di internet untuk menemukan beberapa kasus hukum serupa. Menurut informasi yang diperolehnya, ada hukum yang menyatakan, jika uang salah transfer karena kesalahan teknis, penerimanya tidak wajib mengembalikan.
Berdasarkan pemahaman itu, dia memutuskan tidak akan mengembalikan uang tersebut. “Terserah saya, apakah mau mengembalikan atau tidak. Tapi kalau itu kesalahan penagihan, saya wajib mengembalikannya,” kata Rychagov dikutip dari Oddity Central pada 31 Oktober lalu.
Menurut dokumen pengadilan yang diajukan perusahaan, uang tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk membayar gaji 34 karyawan di cabang lain. Namun akibat gangguan sistem, semuanya justru masuk ke rekening Rychagov.
Dalam pembelaannya, Rychagov mengklaim dana tersebut dikirim atas nama perusahaan, bukan cabang tertentu dan tertulis sebagai “gaji” dalam slip pembayaran, sehingga dia merasa berhak menerimanya.
Baca juga : Kejagung Sebut Harvey Moeis Transfer Rp 14 Miliar ke Sandra Dewi untuk Beli Tas
Setelah dia menolak mengembalikannya, perusahaan menuduhnya bersekongkol dengan staf akuntansi. Tuduhan tersebut kemudian gugur karena tidak ada bukti.
Rychagov mengaku, perusahaan mulai menekan dan mengancamnya untuk mengembalikan uang itu. Merasa tidak nyaman, dia menggunakan sebagian dana tersebut untuk membeli mobil baru dan pindah bersama keluarganya ke kota lain.
Saat dalam perjalanan menuju kota lain, perusahaan menggugatnya ke pengadilan dan rekeningnya dibekukan. Pengadilan tingkat pertama dan banding memutuskan bahwa Rychagov harus mengembalikan seluruh uang tersebut.
Rychagov belum menyerah dan kini mengajukan banding ke Mahkamah Agung Rusia, yang telah menerima kasus itu untuk dipertimbangkan. Dia tetap bersikeras uang tersebut adalah miliknya secara sah dan tidak akan dikembalikan.
Baca juga : Panin Dai-ichi Life Bayar Klaim Asuransi Ahli Waris Nasabah Rp 16,3 Miliar
Media Rusia, Channel 5 mencoba menghubungi pihak perusahaan. Chief Executive Officer (CEO) perusahaan itu Roman Tudachkov menegaskan, bahwa uang itu merupakan transfer salah kirim, bukan bonus. Perusahaan akan menyelesaikan kasus ini melalui jalur hukum.
“Kami tidak akan berkomentar. Tidak ada gaji ke-13, itu transfer yang salah. Kami memiliki perintah pengadilan dan beroperasi sesuai hukum melalui departemen hukum kami. Interpretasinya aneh, tetapi sekali lagi, kami akan menanganinya secara hukum,” kata Tudachkov dilansir Oddity Central.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya