Dark/Light Mode

Peringatan 1500 Tahun Maulid Nabi Muhammad SAW

Moderasi Islam dan Kehidupan Kontemporer yang Seimbang

Selasa, 4 November 2025 09:00 WIB
Hujjatul Islam Dr. Mohammad Mahdi Imanipour, Pakar Senior Hubungan Internasional dari Republik Islam Iran
Hujjatul Islam Dr. Mohammad Mahdi Imanipour, Pakar Senior Hubungan Internasional dari Republik Islam Iran

RM.id  Rakyat Merdeka -  

Oleh: Hujjatul Islam Dr. Mohammad Mahdi Imanipour, Pakar Senior Hubungan Internasional dari Republik Islam Iran

Pendahuluan

Islam Moderat, atau Moderasi Islam, adalah pemahaman sempurna tentang Islam yang dibawa Nabi Muhammad (saw), keluarga beliau, dan para sahabat beliau, yang mengalir dengan indah di hati masyarakat Indonesia, negeri yang bersahabat dan bersaudara.

Baca juga : Dimulai Sejak Berangkat, Masa Kerja Dan Kepulangan

Tidak ada mazhab, sekte agama, atau kelompok intelektual yang menyebut dirinya ekstremis. "Menjaga moderasi" adalah sifat yang diinginkan yang dipuji semua orang, baik secara implisit maupun eksplisit, dan berusaha untuk dikaitkan dengan pemikiran, pandangan, dan tindakan mereka. Sayangnya, "menghindari moderasi" adalah sumber utama sebagian besar krisis pribadi dan sosial.

Apa yang tampaknya dipuji dalam teori justru menemukan manifestasi yang tidak masuk akal dalam praktik, yang mengakibatkan penerimaan terorisme dan ekstremisme agama dan etnis, di satu sisi, dan kompromi yang berlebihan, dengan mempertimbangkan kekurangan-kekurangannya di sisi lain. Bahkan di panggung global, yang disaksikan adalah kebangkitan dan manifestasi kediktatoran yang ekstremis dan opresif yang menentang koeksistensi damai berbasis hak asasi manusia. Akibat dari kesatuan dalam perkataan dan perbedaan dalam praktik adalah munculnya perbedaan mendasar, yang akan dibahas di bawah ini.

Konsep Moderasi Islam

"Moderasi" berarti kualitas atau keadaan bersikap masuk akal dan menghindari perilaku, ucapan, dll., yang ekstrem atau melampaui batas kewajaran atau kepatutan. Ada banyak ayat dalam Al-Qur'an tentang penerapan moderasi dalam bidang ideologi, sosial, dan ekonomi. Salah satu ayat yang paling sering dikutip yang merujuk pada moderasi Islam adalah ayat 143 Surat Al-Baqarah.

Baca juga : Presiden Ingatkan Para Pejabat Jangan Malu Koreksi Diri dan Akui Kekurangan

Ayat Al-Qur'an ini diturunkan ketika, menyusul perubahan kiblat umat Islam dari Yerusalem ke Mekah, kaum Yahudi fanatik mulai memprotes dan menciptakan kekacauan, dan dengan demikian, mereka bermaksud menjadikan keputusan baru ini sebagai tanda kesesatan dan penyimpangan umat Islam dari jalan tauhid. Namun, dengan menurunkan ayat ini, Allah SWT mengutuk kedangkalan mereka dan menunjukkan bahwa, dalam hal ritual keagamaan, yang terpenting adalah "berpusat pada kebenaran" dan autentisitas, dan bahwa Allah SWT-lah yang menentukan arah dan kiblat ibadah, dan semua doa harus ditujukan kepada-Nya.

Pendekatan ini melembagakan aturan dasar yang wajib diikuti oleh umat Islam dan Nabi mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an: "Demikianlah Kami jadikan kalain umat pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian."

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

[Surah Al-Baqarah/2, ayat ke-143] 

Baca juga : JEC Peringatkan Ancaman Uveitis dan Gangguan Retina yang Sering Diabaikan

Moderasi Islam cukup komprehensif dan mencakup semua persoalan dan urusan duniawi dan akhirat. Dengan dalil penting ini, Islam telah menetapkan keseimbangan dan kesetimbangan yang komprehensif antara ketuhanan dan kemanusiaan, roh dan materi, dunia dan akhirat, wahyu dan akal, masa lalu dan masa depan, individu dan masyarakat, realitas dan idealisme, serta determinisme dan kehendak bebas. Ini berarti bahwa tidak satu pun dari hal-hal yang tampaknya bertentangan ini yang lebih diutamakan daripada yang lain, dan masing-masing ditangani berdasarkan kebutuhan dan statusnya.

Istilah lain yang digunakan dalam Al-Qur'an dalam konteks konsep moderasi adalah "Hanif". Al-Qur'an menyebut Nabi Ibrahim (as) dan agamanya sebagai "Hanif". [Ibrahim bukanlah seorang Yahudi atau Kristen. Sebaliknya, ia seorang Hanif, seorang Muslim, dan ia bukan termasuk orang-orang musyrik. (Surah Ali Imran/, Ayat 67)]
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.