Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Peringatan 1500 Tahun Maulid Nabi Muhammad SAW
Moderasi Islam dan Kehidupan Kontemporer yang Seimbang
Selasa, 4 November 2025 09:00 WIB
Sebelumnya
Nabi Muhammad (saw) diperintahkan untuk mengikuti agama moderat Ibrahim (as). Dari ayat-ayat ini, dapat dipahami bahwa sentralitas kebenaran dan "tauhid" merupakan inti umum Islam moderat. Jika seorang Muslim sejati mencari watak dan hati nurani yang murni dan berpaling kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupannya, ia akan terlindungi dari bahaya ekstremisme.
Hakikat Tauhid adalah Penolakan Ibadah kepada Selain Tuhan Yang Maha Esa
Tauhid bukan sekadar keyakinan di dalam hati. Ia merupakan sebuah konsep, pemahaman yang disertai dengan tugas dan tanggung jawab tertentu bagi manusia. Tauhid adalah hakikat utama dari semua prinsip Islam. Ia bagaikan udara murni dan halus yang mengalir di dalam semua komponen struktur yang disebut Islam.
Baca juga : Dimulai Sejak Berangkat, Masa Kerja Dan Kepulangan
Dalam pandangan dunia Islam, tauhid berarti bahwa dunia ini memiliki Sang Pencipta dan bahwa semua komponen dunia ini diatur oleh kedaulatan-Nya. Ketika seorang Muslim memandang dunia dari perspektif Islam, ia melihatnya sebagai entitas yang terhubung dengan kekuatan yang lebih tinggi, bukan entitas yang berdiri sendiri. Tauhid mengacu pada penolakan keilahian dalam apa pun selain Tuhan Yang Maha Esa dan kekurangan mereka. Apa pun yang terbukti tentang Tuhan Yang Maha Esa adalah apa yang disangkal tentang para pengaku keilahian palsu.
Siapa pun yang berniat menyembah Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjadi seorang monoteis, wajib mempersembahkan ketaatan eksklusifnya kepada-Nya, Tuhan semesta alam. Semua nabi ilahi diangkat dengan paradigma monoteistik ini untuk menyebarkan monoteisme di antara manusia, dan tugas serta tanggung jawab utama mereka adalah membebaskan umat mereka dari belenggu ketaatan kepada apa pun selain kepada Tuhan Yang Maha Esa. Al-Qur'an menekankan hal ini dengan menyatakan: "...dan lepaskanlah mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang menimpa mereka..." [Surah Al-A’raf/7, Ayat 157]
Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran
Ketika monoteisme dipandang dari perspektif ini, akan dipahami bahwa monoteisme adalah 'sebuah prinsip yang mengatur kualitas hidup masyarakat manusia, dan terkait dengan sistem sosial serta orientasi moral, bawaan, nurani, dan ketuhanan manusia dalam segala situasi.' [Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran, “Pemikiran Islam dalam Al-Qur’an”, bagian tentang Tauhid”]
Baca juga : Presiden Ingatkan Para Pejabat Jangan Malu Koreksi Diri dan Akui Kekurangan
Moderasi Beragama dan Rasial di Dunia Kontemporer, di Bawah Bayang-Bayang Tauhid Sejati
Hasil penafsiran konsep tauhid semacam itu, yang tidak hanya terbatas pada Islam, adalah menyediakan landasan bagi moderasi dalam hal agama dan isu-isu lain di dunia kontemporer. Hal ini disebabkan oleh poros ekstremisme beragama dan ras, tren diskriminatif, dan pandangan ekstremis, yang tak terelakkan mengarah pada ketidakberagamaan dan hilangnya agama, yang mengabaikan esensi tauhid agama.
Dengan mengikuti hawa nafsu egois dan sektarian mereka, para ekstremis beragama, sektarian, dan rasial bermaksud untuk memiliki dominasi dan otoritas yang lebih besar, tetapi mereka, sadar atau tidak sadar, menjadi pion di tangan kekuatan arogan yang, dengan mengikuti hawa nafsu mereka, tunduk pada perbudakan pihak lain. Dari perspektif Islam, hasrat dan kecenderungan terhadap banyak tuhan ini setara dengan fenomena keliru 'politeisme', yang disebut sebagai penindasan besar dalam Al-Qur'an.
Baca juga : JEC Peringatkan Ancaman Uveitis dan Gangguan Retina yang Sering Diabaikan
Di sisi lain, beralih ke ekstremisme atas nama agama merupakan bentuk lain dari bermain di medan perang musuh-musuh agama Tuhan dan mendekati batas 'ateisme' serta pengingkaran terhadap Tuhan. Ekstremisme dalam keyakinan agama, yang mengutamakan dunia daripada akhirat, materialisme daripada spiritualitas, tubuh daripada jiwa, naluri daripada fitrah, mengejar kesenangan daripada kebebasan, dan kesombongan daripada mencari kebenaran, hanya menunjukkan penerimaan dan pengakuan pengabdian kepada selain Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian, memuji kesederhanaan dalam perkataan, dan sekaligus berperilaku memecah belah, yang pada akhirnya mengarah pada politeisme dan ateisme, disebabkan oleh fakta bahwa hakikat tauhid, yaitu penolakan menyembah selain Tuhan, telah disalahpahami dan diabaikan.
Hal ini karena gagasan kembali kepada tauhid sejati dan tunduk kepadanya dalam konteks nilai-nilai sejati masyarakat adalah satu-satunya hal yang dapat menjaga semangat agama moderat dan Islam moderat tetap hidup, serta melindungi individu, masyarakat, dan hukum internasional dari penyimpangan dan bahaya ekstremisme. Kaum terpelajar dan tokoh-tokoh elit negeri Indonesia yang bersahabat dan bersaudara merupakan salah satu pendukung terbesar Islam moderat dan moderasi Islam, dan senantiasa dipuji dan dikagumi oleh seluruh umat Islam dan pemeluk agama lain. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya