Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Project (1)
Menimba Ilmu Keamanan Laut di Negeri Kanguru
Rabu, 5 November 2025 07:20 WIB
Sebelumnya
Sedangkan kuliah umum pada sesi kedua yang disampaikan Ahli Hukum dan Keamanan Internasional UNSW, Prof. Douglas Guilfoyle, para jurnalis menggali ilmu tentang zona maritim di bawah ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) atau Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982, berbagai ancaman laut non tradisional seperti terorisme, perlindungan kabel bawah laut sebagai infrastruktur penting, dan tantangan regional jika terjadi perang.
Sebelum terbang ke Canberra, para jurnalis peserta program ini juga telah mengikuti empat sesi workshop secara online tentang kemaritiman dari negara masing-masing. Dari workshop tersebut, kami juga mendapat pengayaan ilmu jurnalistik. Seperti cara menulis opini bersama Direktur Eksekutif AP4D Melissa Conley Tyler, perencanaan liputan terkait isu maritim bersama Direktur La Trobe Asia Prof. Bec Strating. Serta sharing session dengan jurnalis investigatif Australia yang telah meraih banyak penghargaan: Nick McKenzie, dipandu Prof. Andrea Carson dari La Trobe University.
Selain itu, selama program berlangsung, para peserta berkesempatan mengunjungi Australian War Memorial Museum dan Gedung Parlemen Australia, dua gedung ikonik di Canberra. Serta Kantor Departemen Luar Negeri Australia (DFAT) dan ASEAN-Australia Center di lokasi yang sama.
Laut Sumber Kehidupan
Baca juga : Satriwan Salim: TKA Untuk Mengetahui Kemampuan Dan Kompetensi
Research Fellow La Trobe University, Lupita Wijaya selaku inisiator Program Southeast Asia Maritime Media Visits Project mengatakan, program itu digagas bukannya tanpa alasan. Dia ingin, publik memiliki kesadaran tentang pentingnya laut bagi kehidupan. Sebab, faktanya kebutuhan pangan hingga perdagangan sangat bergantung pada laut.
“Selama ini, laut sering terasa jauh. Terutama, bagi mereka yang tidak tinggal di pesisir atau tidak bergantung langsung pada laut sebagai mata pencaharian. Padahal, sekitar 70 persen permukaan bumi adalah laut,” papar Lupita.
Dalam pandangannya, media adalah jembatan bagi publik untuk “melihat” laut. Lupita yang juga Dosen University of Melbourne percaya, masyarakat bisa memahami bagaimana isu-isu maritim berkaitan dengan keamanan, lingkungan, dan kesejahteraan lewat media. Karena itu, memperkuat kapasitas media dalam meliput isu-isu kelautan sangat krusial untuk memastikan laut tetap menjadi sumber kehidupan. Bukan sumber konflik.
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Kami Akan Buka Ruang Dialog Dan Dengar Keluhan
“Saya ingin, lebih banyak jurnalis dan masyarakat memahami, bahwa laut bukan hanya ruang ekonomi dan geopolitik, tetapi juga ruang kemanusiaan. Tempat jutaan orang bergantung untuk hidup,” tutur Lupita.
“Saya berharap, program ini dapat mendorong lahirnya liputan yang lebih mendalam, empatik, dan kolaboratif antar negara. Sehingga, media tidak hanya melaporkan ketegangan di laut. Tetapi juga kisah-kisah kerja sama, keberlanjutan, dan ketahanan masyarakat pesisir,” pungkasnya.
Setelah menimba ilmu di Australia, sebanyak 12 jurnalis Asia Tenggara ini akan melanjutkan program ke Manila, Filipina pada awal tahun 2026. (Bersambung)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya