Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mengikuti Southeast Asia Maritime Media Visits Project (1)
Menimba Ilmu Keamanan Laut di Negeri Kanguru
Rabu, 5 November 2025 07:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini membagikan cerita kunjungannya ke Canberra, Australia, dalam Southeast Asia Maritime Media Visits Projects (SEA MMVP) yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri & Perdagangan Australia (DFAT) dan La Trobe University. Program yang digelar pada 26-31 Oktober 2025 ini, semakin membuka mata para peserta bahwa laut yang komposisinya mencakup 70 persen dari luasan bumi, tak hanya menjadi pusaran geopolitik. Tetapi juga tempat manusia menggantungkan kehidupannya. Berikut laporannya.
Menginjakkan kaki di Negeri Kanguru untuk pertama kalinya, saya dan tiga jurnalis Indonesia lainnya, sangat antusias dan on fire. Kami terbang dari Jakarta dengan maskapai Qantas Airways pada Minggu (26/10/2025) malam, menuju Bandara Internasional Melbourne. Setelah terbang selama sekitar 7 jam, akhirnya mendarat Senin(27/19/2025) pagi. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Canberra, ibu kota Australia, juga dengan Qantas Airways. Saat itu, Australia sedang musim semi. Suhu udara di Canberra cukup dingin. Udaranya segar dan langitnya cerah. Blue sky.
Selasa (28/10/2025), kami mulai mengikuti rangkaian acara Southeast Asia Maritime Media Visits Projects. Australia ingin memastikan diri sebagai partner yang kompeten dan terpercaya di sektor keamanan laut (maritime security) untuk kawasan Asia Tenggara, yang merupakan salah satu jalur maritim tersibuk di dunia. Terlebih, 99 persen aktivitas impor dan ekspor Australia sangat bergantung pada pelayaran internasional.
Baca juga : Satriwan Salim: TKA Untuk Mengetahui Kemampuan Dan Kompetensi
Executive Director Asia-Pacific Development, Diplomacy & Defence Dialogue (AP4D) Melissa Conley Tyler menjelaskan, kebijakan luar negeri Australia selalu didefinisikan dengan hal-hal yang terkait keamanan, kemakmuran, dan kontribusi terhadap wilayah sekitarnya. Tak terkecuali, Asia Tenggara.
“Jika kita bicara soal pertahanan Australia, itu pasti terkait maritim. Itu sama pentingnya dengan kemakmuran,” kata Tyler dalam diskusi interaktif dengan 12 jurnalis Asia Tenggara peserta Southeast Asia Maritime Media Visits Project dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina di Kantor Australian Council for International Development (ACFID), Canberra.
Menurut Tyler, sebagai negara yang tidak menghasilkan sebagian besar kebutuhan domestik — terutama minyak bumi—, Australia sangat memandang penting jalur laut. Australia akan rugi besar, jika kemampuan berdagang dengan dunia terputus.
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Kami Akan Buka Ruang Dialog Dan Dengar Keluhan
Tyler berpendapat, isu internasional saat ini tidak terfokus pada dikotomi Barat-Timur atau Utara-Selatan. Saat ini, persoalan dunia ada pada kekuatan besar, menengah, dan kecil.
“Australia adalah kekuatan menengah. Kami ingin menemukan kekuatan besar dalam suatu sistem aturan. Kami tidak ingin, dunia diperintah oleh kekuatan. Kami ingin, dunia diperintah oleh norma dan konvensi yang dipahami,” tegas Tyler yang mendapat gelar kehormatan dari Australian Institute of International Affairs (AIIA).
Diskusi yang diikuti Rakyat Merdeka bersama tiga media lain dari Indonesia: Kompas, Tempo, dan CNN Indonesia ini, juga membahas tentang isu keamanan laut. Misalnya, konflik Laut China Selatan yang hingga kini masih terus berlanjut. Serta ancaman laut non tradisional seperti penangkapan ilegal, terorisme maritim, penyelundupan, dan kerusakan lingkungan. Baik yang diakibatkan oleh sampah plastik, perubahan iklim maupun kegiatan penambangan bawah laut. Narasumber untuk topik ini adalah Jane Hardy (United States Studies Centre), Dr Fitriani (Australian Strategic Policy Institute), dan Mira Sulistiyanto (Development Inteligence Lab).
Baca juga : Top, Usaha Kecil Bisa Tumbuh
Untuk memperdalam pengetahuan tentang maritime security, para peserta Program Southeast Asia Maritime Media Visits Project menjalani dua sesi kuliah umum di University of New South Wales (UNSW) Canberra. Dalam sesi pertama yang disampaikan Dosen Senior Sejarah dan Strategi Maritim UNSW, Dr. Richard Dunley, para jurnalis mendapatkan pemahaman tentang pentingnya laut dalam kehidupan dan keamanan negara. Serta sea power sebagai indikator prestise suatu negara.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya