Dark/Light Mode

Perang Hebat Di Perbatasan, Thailand Dan Kamboja Abaikan Seruan Trump

Minggu, 14 Desember 2025 07:35 WIB
Warga perbatasan yang disengketakan di Provinsi, Oddar Meanchey, Kamboja mengungsi saat konflik dengan Thailand pecah. (Foto: Reuters)
Warga perbatasan yang disengketakan di Provinsi, Oddar Meanchey, Kamboja mengungsi saat konflik dengan Thailand pecah. (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendamaikan Thailand vs Kamboja gagal. Kedua negara yang bertetangga itu, masih terlibat perang hebat di perbatasan masing-masing. Perang yang kembali meletus pada Minggu (7/12/2025), masih berkobar di wilayah perbatasan Thailand-Kamboja. Bentrokan bersenjata yang melibatkan jet tempur F-16, tank Thailand, serta artileri berat dan anti-tank Kamboja ini, menewaskan sedikitnya 22 orang. 

Di pihak Kamboja, 10 warga sipil tewas dan 60 terluka, sementara lebih dari 190.000 warga mengungsi. Thailand melaporkan sembilan tentara tewas dan lebih dari 120 terluka, dengan total 200.000 warga sipil mengungsi dan tiga di antaranya tewas. 

Hampir 200 fasilitas kesehatan di kedua negara terdampak, memperburuk situasi kemanusiaan. 

Baca juga : Pemerintah Optimistis Ekonomi 2026 Stabil

Sabtu (13/12/2025), jet tempur Thai­­­land dilaporkan telah mengebom sedikitnya lima kasino di wilayah Kamboja yang diduga menjadi markas perjudian, serta sejumlah kompleks yang dicurigai sebagai pusat penipuan daring. 

Memanasnya situasi membuat Presiden Trump kembali turun tangan. Dua Kepala Negara yang sebelumnya sudah menyatakan gencatan senjata, dihubungi Trump melalui sambungan telepon. 

Lewat platform Truth Social, Trump mengumumkan hasil pembicaraannya dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet. 

Baca juga : Lantik Pimpinan DPW Kalbar, Ahmad Ali Target PSI Masuk Posisi 3 Besar

“Mereka telah setuju untuk menghentikan semua penembakan mulai malam ini, dan kembali ke perjanjian perdamaian awal yang dibuat dengan saya dan mereka dengan bantuan Perdana Menteri Malaysia yang hebat, Anwar Ibrahim,” katanya, merujuk pada kesepakatan yang dibuat pada bulan Juli 2025. 

Namun beberapa jam setelah Trump menyampaikan kabar baik itu, perang kembali meletus. Kedua negara sama-sama jual beli serangan menggunakan jet tempur dan tank. 

PM Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan, operasi militer akan terus dilakukan. “Thailand akan terus melakukan aksi militer hingga kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap tanah dan rakyat kami,” kata PM Anutin di unggahan di Facebook, dilansir AFP, Sabtu (13/12/2025). 

Baca juga : Mendekati Perayaan Nataru, Infrastruktur Dan Stok BBM Kunci Lancarnya Perjalanan

Kementerian Pertahanan Kamboja dalam sebuah unggahan di media sosial X, dilansir AFP, Sabtu (13/12/2025) menyebut, pada 13 Desember 2025, militer Thailand menggunakan dua jet tempur F-16 untuk menjatuhkan tujuh bom pada sejumlah target. 

“Pesawat-pesawat militer Thailand belum berhenti membom,” tulis unggahan tersebut. 

Wakil Menteri Negeri sekaligus Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata menyatakan, militer Thailand mengerahkan pesawat untuk membombardir daerah Veal Intry (di Provinsi Preah Vihear). Kata dia, militer Thailand juga meningkatkan intensitas penembakan artileri dan asap beracun di Desa Prey Chan di Provinsi Banteay Meanchey. [FAQ/BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.