Dark/Light Mode

Pasukan Elite AS Tangkap Presiden Venezuela

Dakwa Maduro, Jaksa Agung Pamela Bondi: Rasakan Kemurkaan Pengadilan Amerika!

Sabtu, 3 Januari 2026 20:58 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang telah diborgol, Sabtu (3/1/2026), diapit personel DEA atau Drug Enforcement Administration, lembaga federal Amerika Serikat yang bertugas melawan peredaran narkoba dan kejahatan terkait narkoba di dalam dan luar negeri. (Foto X Tangkapan Layar)
Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang telah diborgol, Sabtu (3/1/2026), diapit personel DEA atau Drug Enforcement Administration, lembaga federal Amerika Serikat yang bertugas melawan peredaran narkoba dan kejahatan terkait narkoba di dalam dan luar negeri. (Foto X Tangkapan Layar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jagat internasional dikejutkan operasi militer kilat Amerika Serikat yang berhasil meringkus Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Jaksa Agung AS, Pamela Bondi, secara resmi mengumumkan bahwa pasangan tersebut telah didakwa di Southern District of New York (SDNY) atas rentetan kejahatan narkotika hingga penyelundupan senjata api yang mengancam keamanan nasional AS.

Operasi penangkapan ini berlangsung dramatis pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat, di mana militer AS melancarkan serangan berskala besar di Caracas. Setidaknya tujuh ledakan hebat mengguncang ibu kota Venezuela itu selama kurang dari 30 menit, sebelum akhirnya pasukan elite AS Delta Force membawa terbang Maduro dan Flores keluar dari negara tersebut menuju Amerika Serikat.

Jaksa Agung Pamela Bondi menegaskan bahwa dakwaan ini merupakan langkah besar untuk menyeret kepemimpinan Venezuela ke meja hijau atas aktivitas narkoterorisme. Melalui unggahan di platform X, Bondi menyatakan dengan tegas bahwa Maduro akan segera merasakan "kemurkaan penuh" dari sistem keadilan Amerika Serikat di pengadilan AS.

Dakwaan yang diajukan mencakup pasal-pasal berlapis yang sangat berat, mulai dari Konspirasi Narkoterorisme hingga Konspirasi Impor Kokain. Tak hanya itu, Maduro juga dijerat pasal kepemilikan senjata mesin dan perangkat perusak yang digunakan untuk mendukung operasi kartel internasional "Cartel de los Soles".

Maduro dituduh memimpin kelompok itu, sebuah jaringan perdagangan narkoba yang melibatkan pejabat tinggi militer Venezuela.

Baca juga : Trump Umumkan, AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro & Istri

Aksi berani militer AS menuai pujian dari internal pemerintahan. Pamela Bondi secara khusus berterima kasih kepada profesionalisme militer AS.

"Atas nama seluruh Departemen Kehakiman AS, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump atas keberaniannya menuntut pertanggungjawaban atas nama rakyat Amerika, dan ucapan terima kasih yang besar kepada militer kita yang berani yang telah melaksanakan misi luar biasa dan sangat sukses untuk menangkap dua tersangka pengedar narkoba internasional," ujar Bondi.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi keberhasilan operasi ini melalui media sosial Truth Social miliknya sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Trump menyebut aksi heroik ini sebagai operasi gabungan antara militer dan penegak hukum AS, yang menjadi pembuktian janjinya untuk menumpas diktator yang terlibat jaringan narkoba global.

Pemerintahan Donald Trump sebelumnya memang telah menaikkan nilai imbalan atas kepala Maduro hingga 50 juta dolar AS. Penangkapan ini menjadi pembuktian janji kampanye Trump untuk menindak tegas diktator yang terlibat kartel internasional.

Baca juga : Jalankan Titah Presiden, Ara Gaspol Bangun Hunian Korban Banjir Sumatera

Pada 2020, pengadilan Amerika Serikat mendakwa Maduro dengan tudingan terlibat lebih dari selusin tindakan terorisme. Mereka menyebut, presiden berusia 63 tahun ini dan sejumlah pejabat pemerintahannya telah bekerja sama dengan kelompok gerilya Kolombia, Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia, untuk menyelundupkan kokain dan senjata ke Amerika Serikat. Landasan hukum inilah yang digunakan untuk memburu Maduro.

Langkah ekstrem AS ini mengingatkan publik pada sejarah kelam invasi Panama tahun 1990 yang menggulingkan Manuel Noriega, tepat 36 tahun yang lalu.

Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyebut momen ini sebagai "fajar baru bagi Venezuela" dan dengan lantang menyatakan bahwa sang tirani telah tumbang.

Senator Mike Lee mengungkapkan bahwa penangkapan dilakukan langsung oleh personel AS untuk memastikan Maduro berdiri di hadapan hakim Amerika.

Di sisi lain, situasi di Venezuela dilaporkan mencekam dan penuh ketidakpastian setelah penangkapan mendadak sang pemimpin. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, mengaku kehilangan kontak dan menuntut "bukti kehidupan" dari pihak Amerika Serikat terkait kondisi terkini Maduro dan istrinya.

Baca juga : Tokoh Lintas Agama: Presiden Dengar, Pahami, dan Berupaya Penuhi Aspirasi Rakyat

Sementara itu, pihak oposisi yang dipimpin Maria Corina Machado—peraih Nobel Perdamaian—masih memilih bungkam dan belum memberikan komentar resmi terkait serangan militer ini.

Meskipun dasar hukum serangan skala besar ini masih diperdebatkan di Washington, proses hukum di New York dipastikan akan terus bergulir. Kasus ini diprediksi akan menjadi persidangan paling fenomenal di abad ini, yang mempertaruhkan supremasi hukum AS di kancah politik global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.