Dark/Light Mode

AS Buka Pos Pertahanan Di Qatar, Teheran Panas

Kamis, 15 Januari 2026 04:05 WIB
Warga Iran melakukan unjuk rasa di Teheran, Iran, Selasa malam (13/1/2026). (Foto via Reuters)
Warga Iran melakukan unjuk rasa di Teheran, Iran, Selasa malam (13/1/2026). (Foto via Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) kembali mengencangkan otot militernya di Timur Tengah. Negeri Paman Sam resmi membuka pusat baru pertahanan udara dan rudal di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang sedang diguncang gelombang demonstrasi besar-besaran.

Pembukaan fasilitas bernama Middle East Air Defense–Combined Defense Operations Cell (MEAD-CDOC) itu diumumkan Komando Pusat AS atau United States Central Command (USCentcom), Selasa (13/1/2026) waktu setempat. Sebanyak 17 negara disebut terlibat aktif di fasilitas militer strategis tersebut.

MEAD-CDOC berada di dalam Combined Air Operations Center (CAOC) dan diisi personel militer AS bersama mitra regional. Pusat ini akan menjadi simpul koordinasi pertahanan udara dan rudal di kawasan Timur Tengah.

“Ini langkah maju yang signifikan untuk memperkuat kerja sama pertahanan regional,” kata Komandan Centcom Laksamana Brad Cooper, dikutip Al Arabiya, Rabu (14/1/2026).

Menurut Cooper, pusat tersebut akan meningkatkan koordinasi pasukan kawasan dalam berbagi tanggung jawab pertahanan udara dan rudal. Angkatan Udara Pusat AS atau Air Forces Central (Afcent) juga akan menggandeng mitra regional untuk latihan multinasional dan respons keadaan darurat.

Langkah Washington ini memicu kecurigaan Teheran. Pemerintah Iran menilai, AS sedang mencari dalih untuk intervensi militer. Kecurigaan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman “tindakan keras” menyusul penanganan brutal terhadap aksi protes di Iran.

“Fantasi dan kebijakan AS terhadap Iran berakar pada perubahan rezim. Sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, hingga kekacauan dijadikan modus menciptakan dalih intervensi militer,” bunyi pernyataan Misi Iran di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) melalui media sosial X.

Iran menegaskan, strategi Washington itu akan kembali gagal. Qatar menjadi lokasi sensitif. Negara Teluk itu tercatat sebagai satu-satunya negara di kawasan yang pernah diserang Israel dan Iran. Pembukaan MEAD-CDOC juga menyusul pendirian dua pos bilateral pertahanan udara AS dengan Qatar dan Bahrain pada tahun lalu.

Trump Komporin Demonstran

Sementara, Trump secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk terus turun ke jalan. Lewat akun Truth Social, Presiden ke-47 AS itu bahkan menyerukan agar pendemo “mengambil alih institusi”.

“Para patriot Iran, teruslah berdemo. Ambil alih institusi! Bantuan segera datang,” tulis Trump, Selasa (13/1/2026).

Aksi protes di Negeri Mullah kini memasuki pekan ketiga. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding adanya penyusupan asing yang mengubah aksi damai menjadi anarkis.

Baca juga : Ace Hasan Ingatkan Ujian Pemimpin Makin Kompleks

Kerusuhan itu menelan korban besar. Reuters memberitakankan, sedikitnya 2.000 orang tewas. Kelompok aktivis menyebut 1.850 korban merupakan demonstran, sementara 135 lainnya berafiliasi dengan pemerintah. Sebanyak sembilan anak dan sembilan warga sipil non-demonstran turut menjadi korban. Lebih dari 16.700 orang dilaporkan ditahan.

Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan, kekacauan itu bukan ulah murni rakyat Iran.

“Aksi damai disusupi oknum asing dan kejahatan terorganisir,” ujarnya saat ditemui di sela-sela Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM) 2026 di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Menurut Boroujerdi, demonstrasi awal dipicu persoalan ekonomi, terutama fluktuasi nilai tukar riyal Iran yang memukul dunia usaha dan daya beli masyarakat. Tuntutan awal bersifat ekonomi dan berlangsung kondusif sejak 28 Desember 2025.

“Yang terjadi belakangan ini adalah aksi anarkis yang berada di luar perlindungan unjuk rasa damai menurut hukum HAM internasional,” katanya.

Iran menegaskan adanya perbedaan antara massa demo damai dan kelompok penyusup yang memanfaatkan situasi politik untuk memicu kerusuhan.

Di sisi lain, Trump menegaskan opsi militer terhadap Iran masih terbuka. Dia mengaku tidak akan berbicara dengan pejabat Iran sebelum “pembunuhan warga” dihentikan.

“Tindakan militer termasuk di antara opsi yang sedang dipertimbangkan,” kata Trump, dikutip Reuters.

Departemen Luar Negeri AS pun mendesak seluruh warga Amerika untuk segera meninggalkan Iran, termasuk melalui jalur darat menuju Turki atau Armenia.

Dengan akses internet yang terputus di sebagian besar wilayah Iran, pemantauan situasi makin sulit. Saksi mata yang berhasil dihubungi menggambarkan Teheran dipenuhi aparat keamanan, bangunan pemerintah terbakar, dan jalanan lengang. 

 

Baca juga : Nawakara Perkuat Keamanan Korporasi Lewat Sistem Terintegrasi Real-Time

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca juga : Mentan Tegas, Lawan Praktik Pangan Ilegal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.