Dark/Light Mode

Rusuh Penjara Guatemala: Sejumlah Sandera Dibebaskan, Napi Masih Tahan 37 Orang

Minggu, 18 Januari 2026 22:30 WIB
Seorang narapidana memandang keluar dari menara keamanan di Penjara Renovacion 1 di Escuintla, Guatemala, Minggu (18/1/2026). (Foto Josue Decavele/Reuters)
Seorang narapidana memandang keluar dari menara keamanan di Penjara Renovacion 1 di Escuintla, Guatemala, Minggu (18/1/2026). (Foto Josue Decavele/Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Aparat berhasil mengambil alih Penjara Keamanan Maksimum Renovación 1 di Escuintla, Guatemala, setelah terjadi kerusuhan besar yang dipicu narapidana. Sejumlah sandera telah dibebaskan, namun hingga Minggu (18/1/2026), sebanyak 37 petugas penjara masih ditahan di dua lembaga pemasyarakatan lainnya.

Pemerintah menyebutkan sedikitnya 46 petugas sempat disandera dalam kerusuhan yang terjadi di tiga penjara sejak Sabtu. Aksi tersebut diduga terkoordinasi dan dilakukan anggota geng Barrio 18. 

Pemicu Kerusuhan Penjara Venezuela

Genk kriminal itu awalnya meminta kepolisian membatalkan pencabutan sejumlah hak istimewa serta meminta pemindahan pimpinan geng ke penjara dengan fasilitas yang lebih baik.

Baca juga : Kuasa Hukum Sebut Nadiem Masih Pemulihan, Belum Bisa Sidang

Menteri Dalam Negeri Guatemala Marco Antonio Villeda menegaskan pemerintah tidak akan bernegosiasi dengan kelompok kriminal. Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka di pihak sandera.

“Saya tidak akan membuat kesepakatan dengan kelompok teroris. Pemerintah tidak akan tunduk pada pemerasan,” tegas Villeda dalam konferensi pers, Minggu.

Mayoritas sandera merupakan petugas penjaga penjara. Disebutkan pula, seorang psikolog turut ditahan.

Baca juga : Gubernur Pramono Ajak Mall Gelar Lomba Diskon Sambut Natal dan Tahun Baru 2026

Kepolisian dan militer sebelumnya mengepung Penjara Renovación 1.  Ambulans dan mobil pemadam kebakaran disiagakan di sekitar lokasi.

Dari dalam penjara, sejumlah narapidana terlihat mengawasi situasi dari menara pengawas. Seorang narapidana bertopeng, berbicara dari balik kawat berduri. Dia mengaku penjara tidak aman, dan menuntut untuk dipindahkan.

“Mereka bahkan tidak bisa menjamin keamanan mereka sendiri, jadi bagaimana mereka bisa menjamin keamanan kita,” katanya, merujuk pada otoritas penjara, dikutip Al Jazeera.

Baca juga : Paramadina Dorong Sekolah Bebas Kekerasan Lewat Edukasi Langsung

Guatemala selama beberapa tahun terakhir menghadapi kesulitan mengendalikan sistem pemasyarakatan akibat kuatnya pengaruh geng kriminal. Kondisi penjara yang keras dan tidak aman kerap dikeluhkan para tahanan.

Pada Oktober lalu, Presiden Bernardo Arevalo menerima pengunduran diri tiga pejabat keamanan tinggi setelah 20 anggota geng berhasil melarikan diri dari penjara.  Arevalo menegaskan pentingnya memutus keterkaitan antara kejahatan di dalam dan di luar lembaga pemasyarakatan demi memulihkan kendali negara.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.