Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Antisipasi Dampak Perang Timur Tengah
Status TNI Siaga 1, Politisi-Pengusaha Sambut Positif
Senin, 9 Maret 2026 08:31 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - TNI mengantisipasi serius dampak perang di Timur Tengah (Timteng). Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menerapkan status Siaga 1, meminta jajarannya menyiagakan pasukan dan senjata.
Status Siaga 1 ini diketahui melalui Surat Telegram bernomor TR/283/2026 tertanggal 1 Maret 2026. Ada tujuh instruksi di dalamnya.
Pertama, Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) TNI menyiagakan personel dan alutsista. Selain itu, personel menggelar patroli di objek vital strategis sentral perekonomian, bandara, pelabuhan laut/sungai, stasiun kereta api, terminal bus, hingga PLN.
Kedua, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) melaksanakan deteksi dini dan pengamatan udara secara berkala secara terus menerus selama 24 jam.
Ketiga, Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI memerintahkan Atase Pertahanan (Athan) RI di negara terdampak, mendata dan memetakan serta merencanakan evakuasi WNI bila diperlukan, serta berkoordinasi dengan Kemlu, KBRI, dan otoritas terkait sesuai eskalasi di kawasan Teluk.
Keempat, Kodam Jaya/Jayakarta diinstruksikan melaksanakan patroli di objek vital strategis dan kedutaan-kedutaan, serta mengantisipasi perkembangan situasi dalam menjaga kondusitivitas di wilayah DKI Jakarta.
Kelima, satuan intelijen TNI melaksanakan deteksi dini dan cegah dini kelompok di objek vital strategis dan kedutaan-kedutaan di wilayah DKI Jakarta.
Keenam, Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) melaksanakan siaga di satuan masing-masing.
Baca juga : Perang Teluk Makin Panas, Rudal Iran Bombarbir Langit Tel Aviv
Ketujuh, setiap perkembangan situasi yang terjadi dilaporkan kepada Panglima TNI.
Kapuspen TNI Brigjen Aulia Dwi Nasrullah menerangkan, mekanisme ini sudah sesuai tugas pokok lembaga. "Sesuai yang diamanatkan Undang-Undang TNI. Salah satu tugas pokok TNI adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara," ujar Aulia, di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Dia memastikan, TNI akan profesional dan selalu siap mengantisipasi dampak yang terjadi dari perang Amerika Serikat-Israel dan Iran. "Kami senantiasa memelihara kemampuan dan kekuatan agar selalu siap operasional, siap siaga mengantisipasi perkembangan di lingkungan strategis internasional, regional, maupun nasional," bebernya.
Untuk itu, agar selalu dalam kesiapsiagaan operasional yang tinggi, TNI melaksanakan rutin apel pengecekan kesiapan di berbagai level. Apel Siaga 1 sudah dilakukan di Kodam XXI/Radin Inten di Lapangan Satlog, Way Halim, Kota Bandar Lampung, Selasa (3/3/2026). Apel dipimpin Pangdam Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi.
Dalam arahannya, Kristomei meminta semua personel siap. Selain itu, sistem komando dan pengendalian harus senantiasa berada pada tingkat optimal. "Apel Siaga 1 ini wujud kesiapsiagaan satuan dalam menghadapi berbagai kemungkinan situasi dan dinamika yang berkembang, baik terkait stabilitas keamanan wilayah maupun kondisi sosial kemasyarakatan," tulis keterangan Kodam XXI/Radin Inten dalam Instagram @kodam.radinintem, yang diunggah Sabtu (7/3/2026).
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menilai, status Siaga 1 cermin komitmen kuat TNI menjaga keamanan nasional. Ini bentuk kesigapan TNI menghadapi dinamika global, sekaligus memberikan ketenangan bagi masyarakat.
"Perkembangan di Timur Tengah saat ini menuntut kewaspadaan. Komisi I DPR memandang kebijakan ini bagian dari strategi memperkuat ketahanan bangsa," kata Dave, dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026).
Dia menegaskan, sinergi antara TNI, Kementerian Pertahanan, dan Komisi I DPR menjadi fondasi penting agar setiap langkah yang ditempuh tetap sejalan dengan kepentingan rakyat, terbuka, dan mampu menumbuhkan kepercayaan publik. Dengan koordinasi yang solid antarlembaga, dia yakin negara ini akan tetap aman, stabil, dan mampu menghadapi tantangan global dengan semangat kebersamaan serta optimisme tinggi.
Baca juga : Percepat Pemulihan Sumatera, Pemerintah Suntik Dana Lagi 10,6 T
"Kita yakin Indonesia dapat menghadapi dinamika global dengan kepala tegak, menjaga stabilitas nasional, dan memperkuat kepercayaan rakyat terhadap institusi negara," ucap politisi Partai Golkar ini.
Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin meminta publik tak khawatir dengan status ini. Kata pria yang akrab disapa Kang TB ini, status siaga di lingkungan TNI mekanisme standar untuk menyiapkan kesiapan prajurit. "Itu cara menyiapkan personel, alutsista, maupun logistik agar sewaktu-waktu siap melaksanakan tugas," ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Dia memaparkan tingkatan siaga di tubuh TNI. Siaga 3 merupakan kondisi yang masih relatif normal. Kegiatan satuan berjalan biasa tanpa konsentrasi pasukan secara khusus. Siaga 2 menunjukkan tingkat kesiapan yang lebih tinggi. Biasanya sebagian kekuatan dalam kondisi standby. Sementara, Siaga 1 merupakan tingkat kesiapan tertinggi. Seluruh pasukan telah berkonsentrasi, alutsista dan logistik perorangan telah dipersiapkan. Umumnya bekal pokok dan logistik personel disiapkan untuk kebutuhan sekitar lima hingga tujuh hari.
"Status siaga bisa berbeda di setiap wilayah. Misalnya di suatu Kodam Siaga 1, wilayah lain 2 atau 3. Tergantung kondisi wilayah," bebernya.
Lantas, apa respons pelaku ekonomi terhadap kesiapsiagaan TNI ini? Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambut baik Siaga 1 TNI untuk mengantisipasi gejolak geopolitik saat ini.
"TNI menunjukkan kepekaan dan antisipasi sedini mungkin, sekecil apapun gangguan akibat perang yang terjadi di Timur Tengah," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang, Minggu (8/3/2026).
Sarman menyatakan, tak ada yang tahu konstelasi perang ke depan. Oleh karena itu, TNI harus melakukan mitigasi hal-hal yang tak diinginkan, khususnya yang menjadi perhatian di wilayah udara dan laut Indonesia.
Ia meminta masyarakat dan pelaku usaha menyikapi Siaga 1 TNI dengan tenang. "Tetap menjalankan usahanya seperti biasa, terlebih menjelang Idul Fitri, banyak kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi. Tak perlu ada kekhawatiran, ekonomi harus tetap produktif dan normal seperti biasa," pesannya.
Baca juga : Bahas Bantuan Untuk Palestina, Prabowo Berlinang Air Mata
Sementara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, Siaga 1 TNI justru membuat psikologi masyarakat terganggu. Padahal, menjelang Lebaran adalah momen efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Sekarang, masyarakat jadi takut berbelanja, karena situasi penjagaan berlebihan," ulas Bhima, Minggu (8/3/2026).
Dampaknya, lanjut dia, Indonesia bisa melewatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama periode Lebaran. Karena itu, dia memandang, strategi yang dikeluarkan TNI kurang tepat.
“Kunci stabilitas dan ketahanan nasional adalah ekonomi. "Bukan siaga satu," terangnya.
Dalam momentum ini, sambungnya, Pemerintah semestinya menebar paket kebijakan untuk memberi kepercayaan bagi pelaku usaha dan konsumen. Contohnya, diskon 50 persen tarif listrik rumah tangga selama enam bulan ke depan.
Menurut Bhima, saat ini musuh nyata Pemerintah adalah inflasi. Karena itu, mengatasinya bukan dengan menyiagakan militer. "Segera tarik siaga satu, karena kontraproduktif terhadap ketahanan ekonomi nasional," sarannya. FAQ/MEN
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya