Dark/Light Mode

Kecuali kepada Musuh, Iran Izinkan Kapal Lintasi Selat Hormuz

Kamis, 26 Maret 2026 08:31 WIB
Ilustrasi Iran izinkan kapal non-musuh lalui Selat Hormuz. (Foto: Gambar dibuat dengan ChatGPT)
Ilustrasi Iran izinkan kapal non-musuh lalui Selat Hormuz. (Foto: Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Iran akhirnya memberi izin kapal melintasi Selat Hormuz. Namun, untuk kapal-kapal milik musuh, Iran tetap melarang melintasi selat penting ini.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut, pihaknya membolehkan kapal yang tak berafiliasi dengan AS dan Israel melintasi Selat Hormuz.

"Iran telah mengambil langkah memastikan keamanan pelayaran lewat jalur air ini dan akan melakukan koordinasi yang diperlukan bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor," ujar Pezeshkian, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, seperti dikutip kantornya, Senin (23/3/2026).

Penegasan serupa juga disampaikan Misi Diplomatik Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Kapal-kapal non-musuh, dengan syarat tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran, dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan, memperoleh manfaat melintasi dengan aman melalui Selat Hormuz dalam koordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang," tulisnya, dalam pernyataan via media sosial X, Selasa (24/3/2026).

Baca juga : Prabowo Pastikan MBG Tak Kena Efisiensi

Perang antara AS-Israel dengan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Ribuan orang tewas, fasilitas militer hingga publik hancur. Kawasan Teluk pun memanas. 

Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara Teluk ke pasar global, ditutup dan dibatasi oleh Iran. Sebelum perang berkecamuk, sekitar 20 juta barel minyak global biasanya melintasi jalur perairan penting tersebut setiap harinya.

Anggota Dewan Iran Alaeddin Boroujerdi mengungkapkan, Teheran telah memulai penerapan tarif 2 juta dolar AS bagi setiap kapal tanker yang ingin melintas di Selat Hormuz. Merujuk The Cradle, Selasa (24/3/2026), kebijakan itu langkah kedaulatan Iran atas jalur laut strategis tersebut.

"Mengumpulkan 2 juta dolar AS biaya transit bagi kapal-kapal yang melintas di Selat (Hormuz) merefleksikan kekuatan Iran," ujar anggota Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen tersebut.

Media seperti Bloomberg dan Lloyd’s List Intelligence melaporkan, Iran telah memulai menerapkan tarif tersebut terhadap kapal-kapal tanker yang ingin melintas dengan aman di selat ini. Beberapa kapal sudah mematahui aturan ini. Namun, tak disebutkan bagaiman mekanisme teknisnya.

Baca juga : Soal Negosiasi Selat Hormuz, Klaim Trump Dibantah Iran

Sejauh ini, sudah lima negara yakni China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand, yang telah berkoordinasi atau bernegosiasi langsung dengan otoritas Iran 

Berdasarkan Laporan Lloyd’s List Intelligence, seperti dilansir bne Intellinews, jumlah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terus bertambah. Selasa (24/3/2026), ada 20 kapal yang telah bergerak mengambil jalur antara Pulau Qeshm dan Larak seperti yang diarahkan oleh otoritas dan diawasi oleh militer Iran, IRGC. Dalam laporan yang sama, jumlah minyak yang keluar dari Teluk Persia saat ini telah meningkat di angka 8 juta barel per hari.

Di lain sisi, Departemen Pertahanan AS berencana mengerahkan satu brigade tempur dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang juga pasukan elite Angkatan Darat AS, ke kawasan Timur Tengah. Pengerahan pasukan ini untuk mendukung operasi militer AS menggempur Iran.

Rencana ini diungkap media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), yang mengutip dua sumber pejabat Pemerintahan AS, dalam laporannya, Selasa (24/3/2026). Perintah tertulis untuk mengerahkan unit elite Divisi Lintas Udara ke-82 diperkirakan akan dirilis segera. Satu brigade tempur Divisi Lintas Udara ke-82, menurut WSJ, terdiri atas sekitar 3.000 tentara AS.

Laporan serupa juga disampaikan Reuters, yang mengutip sejumlah sumber pejabat AS. Dalam laporan itu disebutkan, Pentagon berencana mengirimkan pasukan tambahan antara 3.000 hingga 4.000 personel.

Baca juga : Idul Fitri Rekatkan Silaturahmi, Para Tokoh Guyub

Sejumlah sumber Reuters mengatakan, militer AS sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mengamankan Selat Hormuz yang berpotensi melibatkan pengerahan pasukan militer AS ke garis pantai Iran. Menurut laporan yang sama, AS juta membahas opsi mengirimkan pasukan darat ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran.

Sementara Iran, dalam laporan media yang sama, mengeluarkan peringatan langsung kepada Divisi Lintas Udara ke-82 AS. Iran menegaskan, pengerahan pasukan baru tak akan mengubah kondisi di lapangan. "Tetapi justru akan mengekspos pasukan Amerika tambahan pada konfrontasi langsung," sebut laporan ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.