Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sukses melakukan negosiasi mengenai pembukaan Selat Hormuz dibantah Iran. Iran menegaskan, tidak pernah menerima negosiasi. Perang Iran melawan AS-Israel pun tetap berlanjut.
Trump mengaku telah melakukan negosiasi dengan pemimpin Iran soal Selat Hormuz. Dia lalu mengklaim bahwa selat yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia tersebut akan segera dibuka.
"Itu (Selat Hormuz) akan segera dibuka, jika negosiasi dengan Iran terus berjalan lancar," kata Trump, seperti dilansir CNN, Senin (23/3/2026).
Menurut Trump, selat vital ini akan dikendalikan oleh Iran dan AS, siapa pun pemimpin Iran ke depan. "Itu akan dikendalikan bersama. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah saat ini, siapa pun Ayatollah berikutnya," ucapnya.
Selain itu, Trump menegaskan bakal ada perubahan rezim di Iran. "Akan ada perubahan rezim yang sangat serius," imbuh Trump.
Baca juga : Idul Fitri Rekatkan Silaturahmi, Para Tokoh Guyub
Trump juga meyakini, dialog di akhir pekan lalu dengan pihak Iran menandakan ada harapan perang berakhir segera. Dia pun telah memerintahkan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari setelah pembicaraan yang disebutnya sangat baik dan produktif dengan Teheran selama dua hari terakhir.
"Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," tulis Trump, di platform media sosialnya, Truth Social.
Namun, semua klaim ini dibantah Iran. Penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa perang dengan AS dan Israel akan berlanjut hingga Iran menerima kompensasi penuh atas kerusakan yang dideritanya selama agresi militer.
Rezaei bersumpah, Iran akan terus berperang hingga semua sanksi ekonomi dicabut dan ada jaminan internasional yang mengikat secara hukum diperoleh untuk mencegah campur tangan AS di Iran.
"Angkatan bersenjata kita melakukan operasi dan aktivitas dengan efektif. Kepemimpinan kita, dengan pemilihan pemimpin baru, telah berada di bawah kendali," kata Rezaei, dalam pidato yang disiarkan televisi Iran, Senin (23/3/2026).
Baca juga : Mudik Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Razaei mengklaim, perang pada dasarnya telah berakhir lebih dari seminggu yang lalu. Dia menyebut, AS siap berhenti dan mengupayakan gencatan senjata.
"Usai hari ke-15 perang, AS paham tak akan ada jalan menuju kemenangan dalam perang ini. Tetapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong untuk melanjutkan," ucapnya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga membantah ada negosiasi atau dialog dengan AS selama 24 hari terakhir sejak agresi militer.
"Posisi Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat-syarat untuk mengakhiri perang tidak berubah," kata dia, kepada kantor berita resmi IRNA, dilansir Anadolu Agency, Selasa (24/3/2026).
Mendengar bantahan ini, Trump berkilah. Dia mengaku berbicara dengan orang penting dalam rezim Iran, namun bukan dengan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Baca juga : Sempat Lebaran Di Rumah, Yaqut Kembali Masuk Sel
"Seorang tokoh penting. Jangan lupa, kita telah melenyapkan kepemimpinan pada fase satu, fase dua, dan sebagian besar fase tiga. Tetapi kita berurusan dengan seorang pria yang saya yakini paling dihormati dan pemimpinnya," klaim Trump.
Kata Trump, utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terlibat dalam pembicaraan dengan Iran. "Bukan pemimpin tertinggi. Saya tidak menganggap dia (Mojtaba) sebagai pemimpin sejati," tambahnya.
Perang antara AS-Israel dengan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Ribuan orang tewas, fasilitas militer hingga publik hancur. Kawasan Teluk pun memanas. Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara Teluk ke pasar global, ditutup oleh Iran.
Soal selat ini, dalam pernyataan terbarunya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membolehkan kapal yang tak berafiliasi dengan AS dan Israel melintas.
"Iran telah mengambil langkah memastikan keamanan pelayaran lewat jalur air ini dan akan melakukan koordinasi yang diperlukan bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor," kata Pezeshkian, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, seperti dikutip kantornya, Senin (23/3/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya