Dark/Light Mode

Dampaknya Meluas, Putin Samakan Perang AS-Israel Vs Iran Dengan Covid-19

Senin, 30 Maret 2026 07:40 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Instagram/russian_kremlin)
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Instagram/russian_kremlin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Rusia Vladimir Putin menilai, perang antara Amerika Serikat-Israel vs Iran benar-benar mengguncang dunia. Dampak yang ditimbulkan, telah meluas hampir ke seluruh dunia. Karena dampak ini, Putin samakan perang yang berkecamuk di Timur Tengah ini dengan Covid-19. 

Pernyataan itu disampaikan Putin dalam forum pemimpin bisnis di Moskow. Ia menilai, dampak perang yang ditimbulkan dari aksi saling serang antara AS-Israel vs Iran sudah setara dengan krisis global seperti pandemi. “Perang ini bisa dibandingkan dengan masa epidemi Coronavirus,” kata Putin, dikutip Reuters

Menurutnya, seperti halnya Covid-19, konflik ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global secara masif. “Saya ingatkan, pandemi dulu memperlambat kemajuan di seluruh kawasan dan benua, tanpa terkecuali,” ujarnya. 

Putin juga menyoroti ketidakpastian dampak ke depan.

Baca juga : Rudianto Lallo: Harus Dipikirkan Bersama Regulasi Dan Penindakannya

Bahkan, menurutnya, negara yang terlibat konflik pun belum tentu bisa memprediksi konsekuensinya. “Mereka yang terlibat saja tidak bisa memprediksi. Bagi kita, tentu jauh lebih sulit,” tambahnya. 

Diketahui, dunia pernah dilanda pandemi Covid-19 pada tahun 2020 hingga 2023. Selain menelan banyak korban jiwa, virus yang awalnya berasal dari Wuhan, China itu membuat ekonomi dunia lumpuh. Bahkan sejumlah negara jatuh ke lubang resesi, akibat ekonomi tumbuh minus. 

Sementara, perang AS-Israel vs Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026, berdampak pada krisis energi di dunia. Selat Hormuz yang selama ini jadi jalur melintas kapal minyak dunia, dijaga ketat oleh Iran. 

Ancaman krisis energi membuat harga minyak dunia melonjak drastis. Sejumlah negara, bahkan sudah mulai kencangkan ikat pinggang demi agar keuangan dalam negeri tidak semakin kedodoran. 

Baca juga : Nasir Djamil: Harus Ada Ketegasan Dari Pemerintah

Di Indonesia, Pemerintah juga mulai ancang-ancang melakukan penghematan. Sebagai kebijakan tengah digodok, salah satunya melakukan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan. 

Di dunia usaha, konflik di Timur Tengah juga mulai terasa dampaknya. Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pelaku industri mulai merasakan tekanan, terutama dari kenaikan harga energi. 

“Hampir semua sektor melaporkan kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga minyak,” ujar Shinta. 

Tak hanya itu, gangguan rantai pasok global juga memperparah situasi. Biaya logistik naik, pengiriman melambat. Komponen yang paling cepat terdampak adalah energi dan logistik— dua sektor yang sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik. 

Baca juga : DPR Minta Lembaga Pendidikan Ikut Aturan Pembatasan Medsos

Selain itu, bahan baku impor juga mulai tertekan. Industri yang bergantung pada impor seperti gula, gandum, kedelai, hingga bahan kemasan plastik mulai merasakan dampaknya. 

“Gangguan di satu titik rantai pasok bisa menjalar ke berbagai sektor,” jelas Shinta. 

Meski begitu, pelaku usaha masih berusaha menahan kenaikan harga, terutama selama Ramadan dan Lebaran lalu, demi menjaga daya beli masyarakat. Berbagai langkah mitigasi pun dilakukan. Mulai dari efisiensi operasional, penyesuaian rantai pasok, hingga mencari sumber bahan baku alternatif. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.