Dark/Light Mode

Retorika Trump dan Luka Palestina

Kamis, 2 April 2026 14:15 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan kerusakan di Palestina (Gambar: pixabay.com)
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan kerusakan di Palestina (Gambar: pixabay.com)

Kekuatan Narasi dan Pengecilan Realitas

Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran dengan jelas menunjukkan satu hal bahwa di dunia politik saat ini, narasi yang dibangun sering kali lebih kuat daripada kenyataan. Cara para pemimpin berbicara dan berkomunikasi tidak hanya membentuk persepsi publik, tetapi juga menentukan pihak mana yang mendapat perhatian dan pihak mana yang terabaikan dalam diskursus global.

Gaya retorika Trump patut dicermati. Pendekatan yang lugas, cenderung menyederhanakan, dan kerap menunjukkan superioritas mengubah masalah-masalah kompleks menjadi pertarungan menang-kalah. Perang digambarkan sebagai sebuah perlombaan, bukan sebagai kondisi penuh ketidakpastian yang menimbulkan penderitaan bagi banyak pihak.

Konflik di Timur Tengah yang memanas ini bukan semata-mata soal strategi militer dan manuver politik. Ini adalah tentang kehidupan jutaan warga sipil. Setiap eskalasi konflik membawa konsekuensi nyata, jutaan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan luka emosional yang mendalam.

Narasi politik yang terlalu fokus pada kekuasaan cenderung mengabaikan dimensi kemanusiaan. Akibatnya, publik hanya melihat sebagian kecil dari kompleksitas konflik, bukan gambaran utuh. Hal ini melahirkan pandangan yang bias, di mana retorika mungkin kuat, namun empati justru minim.

Baca juga : Laboratorium Hari Jumat

Standar Ganda: Mengaburkan Penderitaan Palestina

Standar ganda Amerika yang sudah kelihatan jelas sejak lama, kin semakin ditelanjangi oleh Trump. Amerika Serikat secara terbuka memberikan dukungan kepada Israel, sementara penderitaan rakyat Palestina tidak mendapatkan perhatian proporsional dalam pernyataan-pernyataan resmi.

Ketidakseimbangan ini mungkin tidak selalu diucapkan secara eksplisit, namun terlihat jelas dari pilihan diksi dan penekanan dalam komunikasi. Isu-isu yang dianggap penting akan menjadi sorotan global, sementara isu-isu yang diabaikan akan memudar dari ingatan publik.

Dalam konteks ini, komunikasi politik tidak lagi bersifat netral, melainkan menjadi alat penentu prioritas. Ketika kekerasan terhadap satu pihak menjadi berita utama, penderitaan pihak lain sering kali luput dari pemberitaan. Kesannya, tidak semua korban diperlakukan sama pentingnya. Ketidakadilan terjadi tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam konstruksi narasi.

Kritik publik Amerika Serikat terhadap gaya komunikasi Trump justru memperparah isu ini. Mereka berpendapat bahwa retorika Trump "tidak realistis" atau mengabaikan kondisi di lapangan. Pernyataan yang terlalu optimis mengenai penyelesaian konflik, di tengah meningkatnya kekerasan, semakin melebarkan jurang antara narasi dan kenyataan.

Baca juga : Sektor Agribisnis RI Perkuat Ekonomi dan Daya Saing ASEAN

Bagi rakyat Palestina, jurang antara narasi dan kenyataan ini sangatlah dalam. Jika penderitaan mereka tidak menjadi bagian sentral dari narasi, eksistensi mereka dapat terancam terhapus dari kesadaran publik. Hilangnya perhatian ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan isu etika fundamental mengenai pengakuan eksistensi dan kelayakan untuk diperhatikan.

Mengembalikan Dimensi Kemanusiaan

Pembicaraan yang terus-menerus mengenai kekuatan dan superioritas dapat membuat konflik terasa dinormalisasi. Kebiasaan melihat kekerasan dapat menyebabkan mati rasa emosional dan hilangnya rasa empati.

Dampak jangka panjangnya sangat merugikan. Hilangnya empati yang dapat membuat ketidakadilan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, dan penyelesaian masalah menjadi tertunda. Akibatnya, konflik tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga moral. Dunia menjadi kurang peka dan kurang peduli.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengintegrasikan kembali dimensi kemanusiaan dalam komunikasi politik. Para pemimpin dunia memiliki dua tanggung jawab, pertama merumuskan dan menyampaikan strategi, yang kedua memastikan bahwa kehidupan manusia tetap menjadi prioritas utama.

Baca juga : Herdman Sebut Performa Timnas Makin Positif

Dalam hal ini, advokasi untuk Palestina dapat dipandang sebagai upaya untuk mengoreksi narasi yang timpang. Ketika satu pihak mendominasi diskursus global, menjadi penting untuk menyuarakan perspektif pihak yang selama ini terpinggirkan.

Pada intinya, konflik bukanlah sekadar soal negara, kekuasaan, atau politik. Konflik adalah soal manusia, tentang kehidupan yang terdampak, keluarga yang terpisah, dan masa depan yang terancam. Jika komunikasi politik gagal menyampaikan hal ini, yang tersisa hanyalah diskusi dangkal tanpa sentuhan kemanusiaan.

Dalam situasi yang kompleks ini, penting untuk selalu mengingat bahwa apa yang tidak diucapkan terkadang memiliki bobot yang sama, bahkan lebih, dibandingkan apa yang disorot secara terang-terangan. Dalam banyak kasus, termasuk konflik di Timur Tengah, penderitaan rakyat Palestina sering kali terabaikan.

Nurrohman Efendi
Nurrohman Efendi
Pemerhati Film dan Media, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi STIKOM Interstudi

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.