Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dicomblangi Menhan AS
Israel-Lebanon Duduk Satu Meja Usai 43 Tahun Musuhan
Kamis, 16 April 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Marco Rubio memimpin pertemuan langka antara utusan Israel dan Lebanon di Washington DC, Selasa (14/4/2026) atau Rabu (WIB). Sebagai mak comblang, dia berharap, kedua negara menyepakati kerangka kerja untuk proses perdamaian ke depan.
Departemen Luar Negeri AS menyebut, pertemuan berlangsung produktif dan menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan negosiasi langsung.
“Ini sebuah proses, bukan sekadar peristiwa. Ini lebih dari sekadar satu hari. Ini akan memakan waktu, tetapi kami yakin upaya ini layak dilakukan, dan ini pertemuan bersejarah yang kami harapkan dapat menjadi landasan untuk langkah selanjutnya. Harapan kami, hari ini kita dapat merumuskan kerangka kerja yang dapat menjadi dasar bagi terciptanya perdamaian yang permanen dan langgeng,” kata Rubio, dilansir Reuters, Rabu (15/4/2026).
Baca juga : Syifa Hadju, Susah Tidur Jelang Nikah
Dua negara akhirnya duduk dalam perundingan langsung pertama sejak 1983, namun dengan agenda yang bertolak belakang. Dalam perundingan selama dua jam di Washington, kedua pihak memaparkan posisi masing-masing.
Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Moawad menyebut, pertemuan awal berlangsung konstruktif. Dia menegaskan, desakan Lebanon untuk gencatan senjata, pemulangan pengungsi ke Lebanon selatan, serta peningkatan bantuan kemanusiaan bagi korban perang.
Pemerintah Lebanon memberi mandat penuh kepada Moawad untuk membahas gencatan senjata. Namun, juru bicara Israel Shosh Bedrosian menegaskan, negaranya tidak akan membicarakan gencatan senjata dalam forum tersebut.
Baca juga : Di Tengah Konflik Timur Tengah, Investor Global Percaya Fundamental Ekonomi RI
Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyatakan, Pemerintah Lebanon mengklaim tidak lagi berada di bawah kendali Hizbullah. Namun, dia tidak menyinggung kemungkinan penghentian invasi Israel ke Lebanon.
Konflik memanas setelah Hizbullah menyerang posisi Israel pada 2 Maret 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap Iran yang diserang AS-Israel. Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar 1,2 juta warga Lebanon mengungsi.
Secara historis, Israel dan Lebanon masih berada dalam kondisi perang sejak Israel berdiri pada 1948. Israel bersedia membahas gencatan senjata dengan syarat, senjata Hizbullah dilucuti. Namun, Hizbullah menolak tuntutan tersebut dan bahkan menyerukan agar perundingan dibatalkan.
Baca juga : Tentang Perang, Paus Leo Tak Takut Trump
Di tengah situasi ini, krisis kawasan semakin kompleks akibat konflik yang lebih luas, termasuk ketegangan antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026. Meski AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, Iran menuntut agar Lebanon juga dimasukkan dalam kesepakatan tersebut—sesuatu yang ditolak AS dan Israel.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya