Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Harga Minyak Anjlok Setelah Iran Umumkan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Sabtu, 18 April 2026 06:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga minyak anjlok setelah Iran menyatakan Selat Hormuz akan sepenuhnya terbuka bagi kapal komersial, dalam sisa masa gencatan senjata dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Mengutip BBC, harga minyak mentah Brent turun menjadi 88 dolar AS per barel setelah pengumuman tersebut, dari angka 98 dolar AS pada Jumat (17/4/2026) pagi.
Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit di selatan Iran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Presiden AS Donald Trump menyambut baik pernyataan Iran, namun kelompok maritim masih melakukan verifikasi.
“Lalu lintas semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata," tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi via X, Jumat (17/4/2026).
Baca juga : PHM Selamatkan 7 Nelayan Terapung 2 Hari di Selat Makassar
Pasar global menguat setelah pengumuman tersebut, dengan indeks S&P 500 ditutup naik 1,2 persen. Indeks CAC di Paris dan DAX di Frankfurt masing-masing naik sekitar 2 persen, sementara FTSE 100 London ditutup naik 0,7 persen.
Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran, sejak AS dan Israel melancarkan serangan militer pada akhir Februari 2026. Lalu lintas kapal tanker sempat menurun drastis, sehingga mengurangi pasokan minyak dan gas di pasar global dan mendorong harga naik tajam.
Sebelum konflik, harga Brent berada di bawah 70 dolar AS per barel. Harga kemudian melonjak di atas 100 dolar AS dan melampaui 119 dolar AS pada Maret 2026. Pada Jumat (17/4/2026) malam, harga kembali naik ke 92 dolar AS.
Potensi Risiko
Meski Iran menyatakan selat “sepenuhnya terbuka” dan Trump menyambutnya, organisasi pelayaran internasional BIMCO menyampaikan kekhawatiran terkait potensi risiko.
Jakob Larsen dari BIMCO mengatakan, status ancaman ranjau di jalur pelayaran masih belum jelas. Perusahaan pelayaran sebaiknya mempertimbangkan untuk menghindari area tersebut.
Baca juga : Gelar RUPST, Ancol Bagikan Dividen dan Umumkan Direksi Baru
Sementara pimpinan International Maritime Organization (IMO) masih memverifikasi rincian pembukaan kembali selat. Sekretaris Jenderal Arsenio Dominguez menyatakan, pihaknya sedang memastikan apakah pembukaan tersebut sesuai dengan prinsip kebebasan navigasi dan keselamatan pelayaran.
Lonjakan harga minyak sebelumnya telah meningkatkan harga bensin dan solar, serta memicu kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar pesawat. Penutupan selat juga mengganggu pasokan pupuk global—sekitar sepertiga bahan kimia pupuk dunia melewati jalur ini—yang berpotensi menaikkan harga pangan.
Namun, beberapa jam sebelum pernyataan Iran, kelompok otomotif RAC melaporkan harga bensin dan diesel di Inggris mulai sedikit turun untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, meski masih jauh lebih mahal dibanding Februari.
Pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran muncul, setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Dalam postingan Truth Social, Trump menulis bahwa Iran telah menyatakan selat sepenuhnya terbuka.
Baca juga : Dari Mulung ke Sekolah Rakyat, Fikri Temukan Lagi Senyum dan Harapan
Trump yang berterima kasih atas langkah tersebut, juga mengklaim Iran setuju untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz di masa depan. Namun, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap berlaku sampai ada kesepakatan permanen.
Meski demikian, pelaku industri pelayaran masih berhati-hati. Seorang operator kapal tanker mengatakan bahwa situasi ini “tidak langsung mengubah apa pun” dan perusahaannya tidak ingin mengambil risiko.
Perusahaan tanker Stena Bulk juga menyatakan akan terus memantau situasi, dan tidak akan melintas sampai dianggap benar-benar aman.
Ekonom Capital Economics, Kieran Tompkins mengatakan gencatan senjata yang tersisa sekitar sembilan hari hanya memberi “jendela kesempatan sempit” bagi kapal tanker untuk masuk dan keluar dari selat.
Sementara Profesor ManMohan Sodhi dari Bayes Business School memperingatkan dampak ke konsumen akan tetap terasa, karena rantai pasok membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya