Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan, situasi saat ini tidak dapat disamakan dengan Pandemi Covid-19. “Ini bukan Covid baru. Risiko kesehatan masyarakat akibat hantavirus saat ini masih rendah,” tulis Tedros dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Sabtu (9/5/2026).
Dia mengaku sengaja menyampaikan pernyataan langsung kepada publik guna meredakan kekhawatiran masyarakat.
Tedros menjelaskan, para penumpang akan dipindahkan melalui Pelabuhan Industri Granadilla yang berada jauh dari kawasan permukiman.
Mereka akan diangkut menggunakan kendaraan tertutup dan dikawal ketat melewati jalur steril sebelum dipulangkan langsung ke negara masing-masing. “Anda tidak akan bertemu dengan mereka,” ujarnya.
Baca juga : Temui Jokowi, Wamentan Lapor Petani Kini Happy
Kapal tersebut berangkat menuju Spanyol pada Rabu (6/5/2026) dari pantai Tanjung Verde setelah WHO dan Uni Eropa meminta negara tersebut mengelola evakuasi penumpang setelah wabah hantavirus terdeteksi.
Pada Jumat (8/5/2026), WHO mencatat, delapan orang jatuh sakit, termasuk tiga orang yang meninggal, yaitu pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman. Enam dari orang-orang ini dipastikan telah tertular Hantavirus.
Satu kasus kematian akibat infeksi hantavirus dilaporkan terjadi di Taipei, menurut laporan media China.
Stasiun televisi China Central Television (CCTV) pada Jumat (8/6/2026) melaporkan, otoritas Taipei saat ini melakukan langkah sanitasi besar-besaran serta menambah jumlah titik pemasangan umpan tikus.
Baca juga : Pengawasan Fasilitas Arafah Diperketat
Laporan itu juga menyebutkan tenaga ahli pemantauan dan pengendalian hewan pengerat telah dikerahkan untuk membantu warga dalam upaya pencegahan penyebaran virus. Sejauh ini, baru satu kasus yang dikonfirmasi di Taipei. Namun, kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan penyebaran virus tersebut masih tinggi.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang menular ke manusia melalui kontak dengan hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal serta sindrom paru akibat hantavirus.
Sementara itu, Epidemiolog sekaligus Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Masdalina Pane mengatakan, risiko penyebaran hantavirus di Indonesia sejauh ini masih relatif kecil. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan 23 kasus positif hantavirus sepanjang 2024 hingga 2026.
“Kita tidak perlu panik tetapi tetap harus waspada,” ujar Masdalina dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Baca juga : Aji Muhawarman: Nakes Dan RS Rujukan Sudah Kami Siapkan
Masdalina menjelaskan, hantavirus memiliki masa inkubasi yang bervariasi. Mulai dari satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus dari tikus atau hewan pengerat lainnya. [DAY/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya