Dark/Light Mode

Iran Siapkan Pemakaman Khamenei: Waktunya 3 Hari, Akan Dihadiri 20 Juta Orang

Kamis, 4 Juni 2026 08:33 WIB
Ilustrasi pemakaman Ayatollah Ali Khameini (Gambar dibuat dengan ChatGPT)
Ilustrasi pemakaman Ayatollah Ali Khameini (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Iran tengah menyiapkan upacara kenegaraan pemakaman Ayatollah Ali Khameini. Prosesi pemakaman untuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran ini akan berlangsung selama tiga hari dan dihadiri sekitar 20 juta orang.

Ayatollah Ali Khamenei meninggal akibat serangan Amerika Serikat (AS)-Israel di hari pertama perang Timur Tengah, 28 Februari 2026. Khamenei, yang memimpin Republik Islam Iran selama hampir 37 tahun, wafat bersama istri, anaknya dan keluarga inti, di rumahnya di pusat Ibu Kota Teheran.

"Upacara pemakaman umum selama tiga hari telah direncanakan," kata Wakil Wali Kota Teheran Mohammad Amin Tavakolizadeh, seperti dikutip televisi Pemerintah Iran dilansir kantor berita AFP, Rabu (3/6/2026).

Otoritas Iran belum mengumumkan tanggal pasti pemakaman Khamenei. Upacara pemakaman kenegaraan awalnya direncanakan pada 4 Maret 2026, namun ditunda karena perang masih berkecamuk.

Tavakolizadeh mengatakan, kemungkinan pemakaman bakal berlangsung awal Muharram, bulan pertama kalender Islam, yang jatuh pada pertengahan Juni. "Masyarakat akan dapat menghadiri upacara pemakaman selama periode ini, dan detail akhir tempat upacara ini akan segera diumumkan," katanya.

Tavakolizadeh menerangkan, acara pemakaman akan berlangsung di Teheran. Acara juga digelar di Kota Suci Qom dan Mashahd. Dia memperkirakan, 20 juta orang akan hadir di acara ini.

Baca juga : Melemah Hampir 5%, IHSG Berdarah-darah

Di Teheran, upacara tersebut akan berlangsung selama 24 jam. Setelah dari Teheran, seremoni akan dilanjutkan di Kota Qom serta Kota Mashhad.

"Tiga hari telah direncanakan untuk pemakaman Imam yang syahid, agar masyarakat dapat menghadiri jenazahnya dan melaksanakan upacara pemakaman. Tempat upacara ini kemungkinan besar adalah Masjidil Haram Imam Khomeini Tehran atau Mausoleum Imam Khomeini," beber Tavakolizadeh.

Ia memperkirakan, Mashhad kemungkinan akan menjadi tuan rumah bagi peziarah dari luar negeri, termasuk Irak, Pakistan, Afghanistan, India, dan Bangladesh.

"Sesuai dengan wasiat dan rekomendasi kerabat, tempat pemakaman Imam yang syahid Ali Khamenei akan berada di sebelah makam suci Imam Reza," ucapnya.

Upacara pemakaman Khamenei rencananya bakal digelar megah. Kepala Dewan Koordinasi Propaganda Islam Teheran Mohsen Mahmoudi menyatakan, sebuah markas khusus telah dibentuk untuk mempersiapkan upacara pemakaman. "Berbagai lembaga saat ini sedang merencanakan pengaturan," kata Mahmoudi, seperti dikutip AFP, Jumat (29/5/2026).

Selain itu, berbagai organisasi dan kelompok sedang berupaya menyediakan akomodasi yang diperlukan agar upacara megah terselanggara dengan lancar. Ia meyakini, acara ini akan jadi salah satu pemakaman kenegaraan terbesar dalam sejarah modern Iran.

Baca juga : Aturan Bagasi Haji Diperketat Demi Keselamatan

"Kita akan menyaksikan salah satu pertemuan terbesar umat Syiah, bahkan mungkin salah satu pertemuan terbesar umat Islam secara keseluruhan. Sebelumnya, berbagai kota di Irak telah menggelar prosesi pemakaman simbolis," tambahnya.

Perang skala besar antara Iran vs AS dan Israel sejak akhir Februari lalu sempat terhenti sejak gencatan senjata diberlakukan awal April, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump.

Saat ini, AS dan Iran sedang terlibat negosiasi damai. Kedua pihak tengah merundingkan poin-poin proposal perdamaian. Khususnya soal Selat Hormuz dan program nuklir Iran.

Dalam pembicaraan terbaru, kabarnya telah tercapai kesepakatan kerangka kerja. Sumber Pemerintah AS mengatakan kepada AFP, kedua pihak telah menyepakati nota kesepahaman (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran berlangsung cepat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Namun, Iran membantah, masih ada sejumlah poin negosiasi yang belum disepakati.

Di tengah proses negosiasi dan gencatan senjata yang rapuh ini, serangan-serangan skala kecil antara kedua negara, khususnya di Selat Hormuz, terus berlangsung. Yang terbaru, militer AS menyerang kapal tanker Iran di Selat Hormuz dan menara telekomunikasi di Pulau Qeshm, Selasa (4/6/2026). Komando Pusat AS atau CENTCOM menuduh kapal tersebut melanggar blokade laut AS terhadap pelabuhan Teheran.

Baca juga : SBY Bagikan Tips Hindari Krisis 2008

"Kapal tanker itu mengabaikan peringatan berulang kali selama 24 jam, dan akhirnya dilumpuhkan dengan menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal," tulis CENTCOM.

Atas serangan terbaru ini, Iran menuding Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dan hukum internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menegaskan pihaknya punya hak membela diri dan akan menggunakan semua cara untuk membalas.

Kemlu Iran juga menyebut Kuwait dan Bahrain bertanggung jawab langsung atas serangan-serangan AS yang dilancarkan dari wilayah kedua negara tersebut. Teheran menuduh kedua negara tetangga mengizinkan wilayah dan fasilitas mereka digunakan mendukung operasi militer AS terhadap Iran.

Militer Iran pun langsung melancarkan serangan drone ke salah satu terminal penumpang di Bandara Internasional Kuwait Rabu (3/6/2026) pagi. Serangan melukai beberapa orang, dan memaksa aktivitas penerbangan dihentikan sementara.

"Ini agresi kriminal Iran yang mengakibatkan kerusakan material yang signifikan terhadap bangunan dan memicu cedera," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait Brigadir Jenderal Saud Abdulaziz Al-Atwan, seperti dilansir AFP, Rabu (3/6/2026).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.