Dark/Light Mode

Evakuasi Korban Gempa Venezuela Masih Berlanjut

Warga Bongkar Puing Dengan Tangan Kosong

Selasa, 30 Juni 2026 06:10 WIB
Warga di La Guaira, Venezuela, menanti kabar baik dari tim relawan yang masih menggali puing reruntuhan bangunan akibat gempa, Minggu (28/6/2026). Foto: Dok. REUTERS
Warga di La Guaira, Venezuela, menanti kabar baik dari tim relawan yang masih menggali puing reruntuhan bangunan akibat gempa, Minggu (28/6/2026). Foto: Dok. REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya penyelamatan korban gempa dahsyat di Venezuela masih berlangsung. Di tengah harapan yang kian menipis, tim Search and Rescue (SAR) berhasil mengevakuasi 33 korban selamat sepanjang akhir pekan.

Salah satu yang berhasil diselamatkan adalah bocah berusia 11 tahun yang bertahan hidup selama empat hari di balik reruntuhan rumahnya. Meski begitu, kabar duka terus bertambah. Hingga Minggu (28/6/2026), sedikitnya 1.450 orang dilaporkan tewas, sementara puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang.

Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan, gempa kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang negara itu pada 24 Juni 2026 sebagai bencana paling dahsyat dalam lebih dari satu abad. Dua gempa yang terjadi hanya berselang 39 detik itu merobohkan hampir 800 bangunan dan menjebak ribuan orang di dalamnya.

Sejumlah keluarga korban nekat membongkar puing-puing dengan tangan kosong. Kepada BBC, beberapa warga mengaku masih mendengar suara minta tolong dari balik reruntuhan, tetapi tak mampu mengangkat bongkahan beton tanpa bantuan alat berat.

Meski masa emas penyelamatan 72 jam telah terlewati, operasi pencarian belum dihentikan. Koordinator Residen PBB Gianluca Rampolla mengatakan, peluang menemukan korban selamat masih ada.

“Walau waktu makin sedikit, kami masih berharap ada banyak korban selamat,” ujarnya.

Di Caraballeda, salah satu wilayah terparah, tim SAR dari Prancis dan Amerika Serikat (AS) berhasil menyelamatkan seorang ayah dan putranya yang masih hidup dari balik reruntuhan pada Minggu (28/6/2026).

Di tengah operasi penyelamatan itu, petugas pemadam kebakaran yang bertugas di Caraballeda mengatakan kepada BBC, masih ada puluhan bangunan yang belum diperiksa.

Baca juga : Larissa Chou, Bantah Selingkuh

“Tenaga yang ada tidak memadai. Kemungkinan besar masih ada orang yang terjebak di balik puing,” ujarnya.

Di Catia La Mar, La Guaira, salah satu wilayah yang paling parah terdampak, warga berupaya mencari korban di reruntuhan blok apartemen bertingkat hanya dengan menggunakan tangan.

Seorang warga bernama Wilber, yang tampak kelelahan, menangis sambil bercerita bahwa dia kehilangan delapan kerabatnya. Lima di antaranya masih tertimbun di dalam rumah mereka.

Wilber mengeluhkan, alih-alih membantu, pihak berwenang justru menjadi penghambat penyelamatan.

“Pemerintah memutuskan menutup jalan-jalan. Ini mempersulit upaya penyaluran bantuan,” protes Wilber.

“Kemarin kami menunggu dari pukul 6 pagi hingga 4 sore untuk mendapatkan izin khusus agar bisa datang ke sini. Waktu terbuang sia-sia,” ucapnya.

Situasi diperparah gempa susulan yang terus mengguncang wilayah terdampak. Selain menghambat proses evakuasi, warga khawatir bangunan yang tersisa kembali ambruk.

Tak hanya itu, aksi penjarahan massal menambah penderitaan korban. Beredar video yang memperlihatkan orang-orang membawa kabur barang elektronik, peralatan rumah tangga hingga kebutuhan pokok dari toko dan supermarket yang runtuh.

Baca juga : Prabowo Berusaha Selalu Terbuka

Sejumlah apotek, supermarket dan toko milik warga ikut menjadi sasaran. Bahkan, sebagian pelaku disebut tetap menjarah meski masih terdapat jenazah di lokasi.

Maria Esther Bernal (71), pemilik toko yang habis dijarah, tak kuasa menahan kesedihan. “Apakah adil jika rakyat kita saling memangsa?” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Zulay de Carvajal (72), yang mengaku kehilangan seluruh harta benda akibat ulah penjarah.

“Tidak ada apa-apa lagi di sini. Mereka mencuri semuanya: pakaian, sepatu, peralatan kami, panci, cangkir, mangkuk, hingga gelas kami,” tutur Zulay de Carvajal kepada AFP.

Selain menyasar toko-toko kelontong, aksi penjarahan massal ini turut menghantam jaringan apotek besar seperti Farmatodo, serta berbagai supermarket dan bisnis lokal lainnya.

Modus kejahatan baru di La Guaira juga tak kalah mengagetkan. Beberapa orang kedapatan menyedot bahan bakar dari mobil-mobil warga. Sementara yang lain nekat menyamar sebagai petugas pemadam kebakaran untuk mengambil keuntungan dari situasi bencana.

Melihat situasi keamanan yang memburuk, Pemerintah Venezuela memobilisasi militer ke negara bagian La Guaira. Akses menuju wilayah tersebut kini diperketat dan hanya dapat dilalui warga yang mengantongi izin khusus dari pihak militer.

Beberapa pengamat menilai, situasi karut-marut ini terjadi karena adanya oportunisme bencana. Namun, sebagian pihak menekankan bahwa kelaparan dan kemiskinan ekstrem memaksa warga yang telah kehilangan segalanya mengambil langkah nekat. Terutama di negara yang sudah mengalami krisis kronis sebelum bencana gempa terjadi.

Baca juga : Brazil vs Jepang, Samurai Biru Siap Jagal Tarian Samba

Mantan koordinator aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Provea Marino Alvarado menilai, fenomena kriminalitas di tengah bencana ini bukan hal baru bagi La Guaira.

Wilayah pesisir ini sebelumnya pernah hancur lebur pada 1999 akibat hujan lebat dan tanah longsor besar yang menyapu seluruh lingkungan dan menewaskan lebih dari 10.000 jiwa.

Menurut Alvarado, gelombang kriminalitas serupa juga meletus pada masa silam.

“Tidak mengherankan jika kita dapat menemukan tiga situasi yang juga terjadi selama bencana tanah longsor dahulu,” jelas Alvarado. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 30 Juni 2026 dengan judul "Evakuasi Korban Gempa Venezuela Masih Berlanjut Warga Bongkar Puing Dengan Tangan Kosong"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.