Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Janji Radovan Pankov Bikin Lini Belakang Persija Makin Kokoh
- Latih Italia Lagi, Mancini Fokus Bawa Azzurri ke Piala Dunia 2030
- OTT, KPK Bawa 12 Orang ke Gedung Merah Putih, Termasuk Bupati Pemalang
- PSIM Yogyakarta Rekrut Striker Asal Spanyol
- KPPU dan K&K Advocates Dorong Kepatuhan Pelaku Usaha, Wujudkan Persaingan Sehat
Bantah Kehabisan Rudal
Trump Buka Peluang Dialog dengan Iran
Rabu, 29 Juli 2026 08:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah kabar militernya kehabisan rudal untuk menyerang Iran. Trump mengklaim, stok amunisinya masih banyak. Penghentian serangan dilakukan karena ia membuka peluang dialog dengan Iran.
Sejak Sabtu (25/7/2026), AS berhenti menyerang Iran. Padahal, sebelumnya Trump mengancam akan menggempur Iran dengan besar-besaran. Penghentian serangan ini, kemudian memunculkan isu bahwa AS kehabisan amunisi.
Trump menepis isu tersebut. Ia memastikan, militer AS punya segala yang dibutuhkan untuk terus melancarkan serangan.
"Kami memiliki banyak amunisi tingkat menengah. Kami berada dalam kondisi yang sangat baik," kata Trump, kepada wartawan di atas Air Force One, seperti dilansir CNN, Selasa (28/7/2026).
Baca juga : Buzzer Hoax Disikat Polisi
Trump menyatakan, AS sebenarnya dapat menggunakan amunisi yang lebih canggih seiring dengan berkurangnya persediaan dalam perang di Iran. Ia pun menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang telah mengirim senjata yang lebih canggih ke medan perang Ukraina.
Ia menambahkan, kontraktor pertahanan AS akan mempercepat produksi amunisi, termasuk pencegat rudal Patriot. "Tetapi untuk beberapa hal yang lebih canggih. Sejujurnya kita tentu ingin memiliki lebih banyak," ucapnya.
Mengenai penghentian serangan, Trump mengklaim, hal itu atas permintaan Iran. Trump yakin, diplomasi dengan Iran dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan.
"Mereka meminta kami dengan sangat baik. Kata mereka, tolong berhenti, mari kita bertemu. Dan itulah posisi kita sekarang,” imbuhnya.
Baca juga : Presiden Selaraskan Kebijakan Ekonomi
Trump lalu mengancam Iran akan melanjutkan serangan jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata baru. “Saya punya banyak kesabaran. Saya pikir ada peluang bagus. Tapi, jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan kembali ke hal yang sama (menyerang Iran)," ancamnya.
Mendengar ini, pihak Iran membantah tengah melakukan negosiasi. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut, kabar negosiasi adalah rekayasa Trump.
"Saat ini, kami tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan AS. Klaim Iran telah meminta negosiasi adalah rekayasa yang disebarkan pihak lain dari waktu ke waktu," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Bafhaei, seperti dilansir AFP, Selasa (28/7/2026).
Baghaei lalu mengutuk pemerintahan Trump. Ia menyebut, perilaku AS dalam beberapa waktu terakhir menyerupai geng mafia yang tidak mematuhi aturan dan hukum.
Baca juga : LPS Pastikan Warga Tidak Mantab” (Makan Tabungan)
"Selama perilaku itu berlanjut, kita tak dapat berharap akan muncul proses yang adil dan masuk akal," tambahnya.
Ia menegaskan, Iran akan tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Termasuk pemungutan biaya layanan dan pelibatan Oman sebagai negara yang berbatasan langsung dengan jalur perairan strategis itu. Ia menekankan, AS tidak ada hubungannya dengan pembicaraan baru-baru ini dengan Oman soal pengelolaan Selat Hormuz.
"Ini adalah masalah bilateral antara Iran dan Oman, dan pembicaraan tersebut masih berlangsung," tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya