Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- KCIC Perluas Pemanfaatan Energi Terbarukan Biodiesel B40 pada Kereta Perawatan
- Legenda Italia dan AC Milan Franco Baresi Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun
- Mariano Peralta Siap Adaptasi dengan Skuad Maung Bandung
- BAZNAS-Kemnaker Siapkan Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja
- Duh, Komponen Hidran Damkar di Jakarta Banyak Digarong Rayap Besi
AS Gempur Iran Lagi, Harga Minyak Dunia Langsung Mendidih
Jumat, 31 Juli 2026 08:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perang Amerika Serikat (AS) versus Iran kembali meletus. Setelah menghentikan serangan sementara selama empat hari, AS kembali menggempur Iran. Imbasnya, harga minyak dunia langsung “mendidih”.
Perang AS dan Iran sempat rehat dari 24 hingga 27 Juli 2026. Perang kembali meletus setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah pasukan dan fasilitas AS di Yordania, Selasa (28/7/2026) malam. Militer Yordania mengklaim telah mencegat lima rudal Iran.
Presiden AS Donald Trump langsung murka. Ia memerintahkan militer AS menyerang Iran habis-habisan. Militer AS langsung meluncurkan gelombang rudal selama dua jam ke puluhan target di Iran.
"Serangan ini respons atas upaya serangan Iran kemarin terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah. Kami telah menyerang puluhan target IRGC di Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, situs pengawasan dan pertahanan pantai, serta kemampuan maritim," tulis Komando Pusat AS CENTCOM dalam sebuah unggahan di X, seperti dilansir AFP, Kamis (30/7/2026).
Dalam laporan media Iran, Press TV, serangan AS itu menyebabkan terjadi ledakan di beberapa lokasi di Iran bagian selatan. Media Iran Tasnim melaporkan, tiga ledakan terjadi di tengah kota di Pulau Qeshm. Rudal menghantam daerah pemukiman. Dilansir media Iran lainnya, IRIB, ledakan juga terjadi di Provinsi Bushehr, dekat pembangkit listrik tenaga nuklir satu-satunya di Iran.
Baca juga : Digosipkan Masuk Calon Gubernur BI, Purbaya Bilang Nggak Tahu
Sementara, Kantor Berita Iran, Fars, seperti dilansir AFP, Kamis (30/7/2026) menyebut, serangan AS menewaskan tiga orang termasuk seorang anak berusia dua tahun, di Pulau Qeshm. Dua anak lainnya terluka.
"Serangan AS terhadap sebuah rumah tinggal di kawasan Chah Tangu, Qeshm, menewaskan tiga anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak mereka yang berusia 2 tahun," tulis laporan Fars.
Militer Iran pun membalas serangan terbaru AS. Rudal IRGC kembali menyasar fasilitas AS di Yordania, Kamis (30/7/2026). IRGC juga merilis video yang memperlihatkan momen peluncuran sejumlah rudal balistik ke Yordania. Dalam rekaman itu, salah satu rudal memuat pesan ancaman yang ditulis dalam Bahasa Persia. Isinya, komitmen Iran akan berjuang untuk melenyapkan musuh agresor, dan menekankan bahwa balas dendam dan upaya pembalasan adalah hal yang berbeda.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan, militernya kembali berhasil mencegat rudal Iran. "Tak ada korban jiwa dari pencegatan serangan ini," ujarnya, seperti dikutip Kantor Berita Yordania, Petra, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (30/7/2026).
Sebelumnya, Donald Trump menyatakan akan menyerang Iran dengan sangat keras usai IRGC merudal pasukannya di Yordania. "Sekarang giliran kami untuk menyerang mereka. Mereka tahu itu akan datang," kata Trump, kepada wartawan di Ruang Oval, seperti dilansir AFP, Rabu (29/7/2026).
Baca juga : Pesan Prabowo ke Pamong Praja Muda IPDN: Rakyat Tak Butuh Birokrasi Berbelit
Saling berbalas serangan ini juga terjadi setelah pasukan AS dan Arab Saudi menyerang milisi yang didukung Iran di Irak. Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras serangan udara gabungan AS dan Saudi tersebut.
Teheran mengatakan, serangan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Baghdad dan upaya yang disengaja AS dan Israel untuk memperluas perang regional.
IRGC menegaskan, angkatan lautnya terus menjalankan kendali dan pengelolaan penuh atas Selat Hormuz. Yang terbaru, dua kapal tanker minyak mencoba melintas dengan dukungan AS dipaksa putar balik setelah salah satu kapal terbakar.
"Dua kapal tanker minyak mencoba meninggalkan Selat Hormuz melalui jalur selatan yang tidak aman. Setelah kebakaran besar di salah satu kapal, kedua kapal tersebut segera berbalik arah," kata IRGC, dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP, Kamis (30/7/2026).
Medan perang di Timur Tengah pun meluas. Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (30/7/2026), sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik AS hingga terbakar di Pelabuhan Damietta, Mesir, di Laut Mediterania.
Baca juga : Wapres: Kritik Objektif Jadi Bahan Evaluasi Pemerintah
Memanasnya situasi di kawasan Teluk membuat harga minyak dunia mendidih, melonjak tajam, Rabu (29/7/2026). Dalam laporan CNBC International, harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 7,9 persen dan ditutup pada harga 90,74 dolar AS per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 6,6 persen menjadi 84,46 dolar AS per barel.
Dalam perdagangan Kamis (30/7/2026), harga minyak agak melandai, tapi tetap tinggi. Harga minyak mentah Brent turun 1,29 dolar AS atau 1,42 persen menjadi 89,45 dolar AS per barel. Sedangkan, harga minyak WTI melemah 0,56 dolar AS atau 0,66 persen ke level 83,90 dolar AS per barel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya