Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Jadi Pelatih Belanda, Xavi Bidik Gelar Piala Dunia 2030
- Erick Thohir Puji Komitmen Prabowo Bangun Prestasi Olahraga
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- KUR Mandiri Tembus Rp 25,63 Triliun, 56 Ribu UMKM Naik Kelas
- MBG Berkah Penjual Bumbu & Sayur, Barang Cepat Berputar, Omzet Ikut Terdongkrak
Digelar Di Perairan Timur Taiwan
Latihan TNI AL Dan China Bikin Taipei Meradang
Kamis, 13 Agustus 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kerja sama militer antara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Angkatan Laut China, memasuki babak baru. Kedua angkatan laut dijadwalkan menggelar latihan navigasi bersama di perairan sebelah timur Pulau Taiwan pada pertengahan Agustus 2026.
Latihan navigasi bersama di timur Taiwan ini, menjadi momen bersejarah bagi Beijing.
Sebab, ini adalah kali pertama Angkatan Laut China menggelar latihan militer bersama militer asing di wilayah perairan sensitif tersebut. Rencana ini langsung membuat Taiwan geram.
Kementerian Pertahanan China dalam pernyataannya, Selasa (11/8/2026), menyebut fregat tipe 054A Honghe akan melaksanakan latihan navigasi bersama fregat TNI AL. Latihan akan mencakup komunikasi dan pengisian bahan bakar di laut.
Beijing menyatakan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan operasional gabungan, sekaligus menjaga stabilitas regional.
Secara teknis, latihan komunikasi dan pengisian bahan bakar di laut merupakan kemampuan dasar yang penting dalam operasi angkatan laut. Namun, China tidak merinci tanggal dimulainya latihan, lokasi koordinat maupun rute pelayaran kedua kapal.
Baca juga : Tak Akan Hadiri Sidang Tahunan MPR, SBY Cek Kesehatan di AS
Satu hal penting dalam membaca latihan ini adalah posisi kapal perang Indonesia. Menurut Reuters, kapal TNI AL yang terlibat latihan berada di sekitar 70-80 mil laut atau 112,65 hingga 128,75 kilometer.
Kapal tersebut disebut sedang dalam perjalanan pulang dari Jepang. Artinya, kapal tersebut tidak berlayar dari Indonesia menuju Taiwan khusus untuk mengikuti latihan dengan China.
Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa latihan tersebut dilakukan ketika kapal Indonesia dan China berada di kawasan yang sama.
Meski latihan militer kedua negara telah berlangsung sejak 2011, lokasi latihan kali ini bikin heboh karena berada di perairan yang sensitif bagi Taiwan.
Taiwan merupakan pulau dengan pemerintahan sendiri. Namun, China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengakui kedaulatan Pemerintah Taipei.
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing meningkatkan aktivitas militernya di sekitar Taiwan. Kehadiran kapal asing dalam latihan bersama di sebelah timur Taiwan memberikan warna baru terhadap perkembangan tersebut.
Baca juga : Diguncang Gempa Dahsyat, Kolombia Luluh Lantak, 132 Orang Meninggal
Taiwan menilai, langkah Beijing bagian dari rangkaian aktivitas yang bertujuan memperkuat klaim China di wilayah tersebut. Taipei murka begitu China mengumumkan rencana latihan tersebut.
Pada Selasa malam, Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council) Taiwan—lembaga yang merumuskan kebijakan terkait China—menyatakan bahwa latihan tersebut merupakan provokasi militer dan mendesak Beijing segera menghentikan tindakan berbahaya yang merusak status quo ini.
“Ini merupakan manipulasi politik, latihan atas nama ekspansi dalam praktik,” demikian pernyataan Dewan Urusan Daratan Taiwan, sebagaimana dilansir Reuters.
Rencana latihan TNI AL-China juga muncul ketika Taiwan sedang menggelar latihan militer tahunan Han Kuang. Latihan yang dirancang untuk menguji kesiapan militer Taiwan ini menghadapi kemungkinan serangan China.
Analisis senior untuk wilayah Timur Laut Asia di International Crisis Group William Haowei mengatakan, latihan kali ini merupakan upaya Beijing untuk menegaskan dan mengukuhkan klaimnya atas perairan di sebelah timur Taiwan.
“Ini tindakan mengkhawatirkan dan terus dijalankan Beijing untuk melemahkan kedaulatan
Baca juga : Menuju Kursi Gubernur Bank Indonesia, Jalan Destry Diprediksi Mulus
Duta Besar Indonesia Untuk Kenya Witjaksono Adji Hadirkan Kuliner Nusantara Di Perayaan ASEAN Day
de facto Taiwan dan mengubah status quo kawasan yang telah lama berlaku secara sepihak oleh China,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Situasi ini menunjukkan kecaman diplomatik dari negara-negara besar tidak cukup untuk mengubah niat teguh China menganeksasi Taiwan.
“Mungkin, negara-negara yang masih ingin menjaga stabilitas kawasan harus mencari cara lain untuk membelokkan niat China mengukung Taiwan,” sarannya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya