Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dubes Muhsin Syihab Bidik Kursi Ketua ICAO Paparkan Kemajuan Aviasi Indonesia
Senin, 12 Oktober 2026 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia membidik kursi Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) periode 2026–2028. Upaya tersebut diperkuat melalui diplomasi di markas ICAO di Montreal, Kanada, yang turut menggaungkan pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya organisasi penerbangan sipil dunia.
Pesan Prabowo dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 ditampilkan melalui presentasi video dalam resepsi diplomatik peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI, Kamis (8/10/2026). Pernyataan mengenai peran ICAO itu disambut tepuk tangan para undangan.
Acara itu dihadiri lebih dari 200 perwakilan negara anggota ICAO dan komunitas industri penerbangan. Sejumlah pejabat yang hadir, antara lain Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, Presiden Dewan ICAO Toshiyuki Onuma, Sekretaris Jenderal ICAO Juan Carlos Salazar, serta Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno.
Pencalonan Indonesia sebagai anggota Dewan ICAO akan dibawa ke Sidang Majelis Luar Biasa ICAO ke-43 pada 19–20 November 2026. Indonesia mengincar peran yang lebih besar dalam mendukung tata kelola penerbangan sipil global.
Baca juga : Dubes RI Untuk Kanada Muhsin Syihab Pamer Keindahan Batik Melalui Fashion Show
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab mengatakan, sektor penerbangan berperan penting dalam perkembangan Indonesia karena menghubungkan Tanah Air dengan dunia dan membuka peluang ekonomi.
“Dengan sekitar 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, konektivitas udara menjadi kebutuhan strategis Indonesia,” terang Dubes Muhsin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/10/2026).
Lukman F. Laisa menegaskan, penerbangan sipil bukan sekadar industri, melainkan bagian penting kehidupan masyarakat di negara kepulauan.
Presiden Dewan ICAO Toshiyuki Onuma juga menyoroti kontribusi Indonesia bagi negara berkembang. Sejak bergabung dengan ICAO pada 1950, Indonesia melalui program Indonesia Developing Countries Training Program (DCTP) telah berbagi keahlian dengan lebih dari 60 negara.
Baca juga : Gandeng Anak Muda Guncang Panggung Merdeka & Bazaar
Onuma turut mengapresiasi capaian Indonesia dalam keselamatan dan keamanan penerbangan. Menurut dia, Indonesia secara konsisten menunjukkan standar di atas rata-rata global, yang mencerminkan komitmen terhadap standar penerbangan internasional.
ICAO dibentuk pada 1947. Indonesia pernah menjadi anggota Dewan ICAO pada 1962–2002. Sejak 2012, Indonesia juga membuka Kantor Kepentingan Indonesia pada ICAO (KKIP ICAO) di Montreal untuk memperkuat kerja sama dan meningkatkan partisipasi dalam berbagai agenda organisasi tersebut.
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia aktif mendukung negara berkembang melalui pelatihan, berbagi keahlian dan bantuan finansial untuk meningkatkan kapasitas penerbangan.
Resepsi diplomatik di Montreal diselenggarakan melalui kerja sama KBRI Ottawa, KKIP ICAO Montreal, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Luar Negeri, dengan dukungan AirNav Indonesia.
Baca juga : Dubes Muhsin Syihab Beri Penghargaan Ke Dua Tokoh Di HUT Kemerdekaan
Acara itu turut menampilkan kesenian gamelan Bali dari kelompok Giri Kedaton Montreal serta hidangan khas Indonesia.
Melalui pencalonan ini, Indonesia berupaya memperkuat kontribusi dalam pengembangan penerbangan sipil global, sekaligus membawa kepentingan negara kepulauan dan negara berkembang ke forum internasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya