Dark/Light Mode

AI Bisa Buat 1.000 Konten, Tapi Tak Bisa Beli Kepercayaan

Akademisi Vokasi UI Ingatkan Masa Depan Profesi Public Relations

Jumat, 16 Oktober 2026 21:21 WIB
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia di Global Digital Forum II 2026 di Moskow. [Foto: Dok]
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia di Global Digital Forum II 2026 di Moskow. [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepulang dari Forum Digital Dunia di Moskow, peneliti UI dorong audit reputasi AI, perlindungan data klien, dan sertifikasi profesi: praktisi humas harus naik kelas dari pembuat konten menjadi penjaga kepercayaan.

Kecerdasan artifisial (AI) dapat menghasilkan iklan dalam sepuluh detik, menyusun siaran pers dalam sekejap, bahkan membuat wajah manusia yang tampak nyata. Namun, ada satu kemampuan yang tidak otomatis dimiliki mesin mengembalikan kepercayaan publik ketika organisasi melakukan kesalahan.

Peringatan tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, saat menjadi pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow. Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi dunia.

Devie, yang telah berbicara di berbagai forum internasional, di antaranya di Australia, Belanda, Inggris, Jepang, dan Malaysia ini menilai, industri public relations (PR) sedang menghadapi perubahan paling mendasar, yaitu dari persaingan memproduksi informasi menuju tanggung jawab membuktikan kebenaran.

Baca juga : Tips Kreator TikTok untuk Berkreasi & Menikmati Konten AI Lebih Bijak

“AI dapat membuat organisasi semakin sering dibicarakan. Tetapi hanya keputusan dan tindakan yang benar yang membuat organisasi layak dipercaya,” ujar Devie.

Viral Menuju Vital: Reputasi Bukan Sekadar Tayangan

Devie mengingatkan bahwa popularitas digital tidak selalu berbanding lurus dengan reputasi. Wakil Indonesia di PR Leadership Forum di San Fransisco ini mencontohkan, perusahaan yang menghasilkan satu juta tayangan positif menggunakan AI, tetapi membiarkan seribu keluhan pelanggan tanpa penyelesaian.

Kampanyenya mungkin berhasil, namun persoalan kepercayaannya tetap ada. Menurutnya, profesi PR harus bergerak dari sekadar mengelola pemberitaan menjadi mitra strategis pimpinan dalam memperbaiki kebijakan, pelayanan, dan hubungan dengan masyarakat.

Baca juga : Negara Perluas Kesempatan, YPKBI Perkuat Keunggulan

“PR masa depan bukan yang paling pandai membuat organisasi dipuji, tetapi yang paling mampu membuat organisasi pantas dipuji.”

Lima Ancaman AI bagi Industri Komunikasi

Merujuk kajian praktik industri Folks Strategic, Devie menyoroti lima persoalan yang perlu segera diantisipasi, yaitu kebocoran atau penyalahgunaan data klien, penggunaan wajah dan suara tanpa persetujuan, kesalahan hasil produksi AI, dampak penggunaan energi, serta kesenjangan keterampilan pekerja kreatif.

Kajian tersebut merupakan identifikasi risiko praktik industri, bukan survei yang mewakili seluruh perusahaan komunikasi Indonesia. Devie menilai kesalahan kecil dapat memiliki konsekuensi besar. Satu huruf yang berubah pada kemasan produk, satu identitas yang digunakan tanpa izin, atau satu dokumen rahasia yang dimasukkan ke layanan AI tanpa pengamanan dapat berkembang menjadi krisis reputasi.

Baca juga : Akademisi UI Bawa Gagasan Indonesia: Dunia Punya AI, Kita Punya Ngopi

“AI membuat produksi semakin murah, tetapi kesalahan dapat membuat kepercayaan semakin mahal.” Karena itu, penerima Australia Award ini mendorong penerapan pemeriksaan manusia sebelum publikasi, pengamanan data klien, transparansi konten sintetis, dan audit reputasi AI secara berkala.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.