Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Berpidato di SICIESST 2026
Konselor Iran: AI Bisa Mengancam Kedaulatan Negara
Senin, 2 November 2026 19:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam pengolahan informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Teknologi ini juga memunculkan persoalan serius terkait kedaulatan data, kebebasan manusia, hingga kemampuan berpikir kritis.
Peringatan tersebut disampaikan Konselor Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri, dalam International Conference on Islamic Studies, Education, Science, and Social Transformation (SICIESST) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan, Sumatera Utara pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.
Dalam pidatonya, Yahya mengingatkan bahwa penguasaan data dalam skala besar dapat menjadi sumber kekuatan baru yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan pengambilan keputusan suatu negara.
Baca juga : Dua Tahun Prabowo, Sumut Surplus Beras 27.633 Ton, Cabe Melimpah
Menurutnya, sistem AI saat ini mampu mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi mengenai kehidupan manusia. Data ekonomi, kesehatan, gaya hidup, perilaku individu, hingga pilihan sehari-hari dapat terkonsentrasi dalam sistem yang dikuasai oleh kekuatan tertentu.
"Hari ini, data ekonomi, gaya hidup, mode, kesehatan fisik-mental, perilaku individu, hingga pilihan harian manusia telah berubah menjadi sumber daya strategis. Konsentrasi mahadata ini di tangan kekuatan besar dapat mengancam kedaulatan pengambilan keputusan dan keadilan tata kelola negara-negara mandiri di masa depan," ujar Yahya.

Dia menilai, dominasi penguasaan data berpotensi melahirkan bentuk kolonialisme baru. Jika sebelumnya dominasi dapat berlangsung melalui kekuatan militer dan politik, perkembangan teknologi digital membuka kemungkinan penguasaan melalui informasi dan pemetaan perilaku manusia.
Baca juga : PAN Sumatera Utara Resah Dengan Peredaran Narkoba
Kebebasan Manusia dan Kendali Algoritma
Selain persoalan kedaulatan data, Yahya menyoroti hubungan antara algoritma AI dan kebebasan manusia. Menurut dia, teknologi tersebut memang menawarkan beragam pilihan kepada pengguna. Namun, pilihan yang tersedia tidak selalu sepenuhnya terbebas dari pengaruh sistem algoritma.
Melalui pengumpulan dan analisis data perilaku, algoritma dapat menyusun rekomendasi sekaligus memengaruhi preferensi seseorang. Kondisi ini, menurut Yahya, memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana manusia masih memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan.
Baca juga : Tarik Tombur Toba, Lestarikan Kuliner dan Budaya Sumatera Utara
Persoalan tersebut tidak cukup dilihat dari sudut pandang teknologi. Para pemikir, filsuf, dan teolog Muslim juga perlu mengkajinya dari perspektif etika, tanggung jawab moral, serta otonomi kehendak manusia.
Yahya menegaskan, kalangan akademisi Muslim tidak seharusnya hanya menjadi pengguna teknologi yang dihasilkan negara atau perusahaan lain.
"Cendekiawan Muslim tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus berperan aktif menganalisis fondasi epistemologis dan kerangka etika pengaturannya," katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya