Dark/Light Mode

Berpidato di SICIESST 2026

Konselor Iran: AI Bisa Mengancam Kedaulatan Negara

Senin, 2 November 2026 19:04 WIB
SICIESST 2026 di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, 31 Oktober hingga 1 November 2026. [Foto-foto: Dok]
SICIESST 2026 di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, 31 Oktober hingga 1 November 2026. [Foto-foto: Dok]

 Sebelumnya 
Pengetahuan Manusia Tidak Bisa Digantikan AI

Dalam perspektif filsafat Islam, Yahya juga mengangkat perbedaan antara ilmu hushuli dan ilmu hudhuri. Keduanya merupakan konsep penting dalam tradisi epistemologi Islam untuk menjelaskan hakikat pengetahuan manusia.

Ilmu hushuli merujuk pada pengetahuan yang diperoleh melalui representasi, konsep, dan proses pemikiran. Sementara itu, ilmu hudhuri berkaitan dengan pengetahuan langsung melalui kehadiran dan pengalaman batin.

Baca juga : Dua Tahun Prabowo, Sumut Surplus Beras 27.633 Ton, Cabe Melimpah

Menurut Yahya, AI memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengolah data, menganalisis konsep, serta memproses berbagai teks. Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta menjadikan mesin memiliki keseluruhan kapasitas pengetahuan manusia.

Dengan merujuk pada tradisi filsafat Islam, khususnya pemikiran iluminasi Suhrawardi, ia menjelaskan bahwa pengalaman hidup dan pengetahuan yang bersifat langsung tidak dapat disamakan dengan hasil pengolahan informasi oleh mesin.

Karena itu, kemajuan AI perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai batas-batas kemampuan teknologi dan kedudukan manusia sebagai subjek yang berpikir, mengalami, serta mengambil keputusan.

Baca juga : PAN Sumatera Utara Resah Dengan Peredaran Narkoba

Capaian Sains dan Pendidikan Iran

Dalam kesempatan tersebut, Yahya juga memaparkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Iran setelah Revolusi Islam. Kemajuan itu mencakup sejumlah bidang, antara lain humaniora, teknik, kedokteran, dan teknologi mutakhir.

Menurut dia, perkembangan tersebut tidak semata-mata ditopang pembangunan infrastruktur teknologi, tetapi juga kepercayaan diri nasional, kemandirian ilmiah, fondasi keimanan, serta kerja keras para ilmuwan.

Baca juga : Tarik Tombur Toba, Lestarikan Kuliner dan Budaya Sumatera Utara

Dia turut menyoroti keterlibatan perempuan Iran dalam pendidikan tinggi, penelitian, dan kegiatan akademik. Yahya menilai, kontribusi perempuan dalam berbagai bidang keilmuan perlu mendapatkan perhatian yang lebih objektif dalam pemberitaan internasional.

Di bidang AI, ia menyampaikan bahwa Iran memiliki pusat-pusat riset dan produk berbasis pengetahuan (knowledge-based) yang terus dikembangkan. Potensi tersebut, menurut dia, dapat menjadi salah satu landasan untuk memperkuat kolaborasi ilmiah antarnegara Islam.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.