Dark/Light Mode

Trump Stop Bantuan Militer Ke Israel Rp 68 T Per Tahun

Eisenkot: Terbukti Gagal, Netanyahu Harus Digusur

Kamis, 5 November 2026 06:10 WIB
Seorang perempuan berjalan melewati baliho kampanye Partai Likud yang menampilkan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan pesan berbahasa Ibrani bertuliskan “Kita punya satu kesempatan untuk menang” di Tel Aviv, Israel, 26 Okt 2026. Foto: AP/ODED BALILTY
Seorang perempuan berjalan melewati baliho kampanye Partai Likud yang menampilkan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan pesan berbahasa Ibrani bertuliskan “Kita punya satu kesempatan untuk menang” di Tel Aviv, Israel, 26 Okt 2026. Foto: AP/ODED BALILTY

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Washington akan menghentikan bantuan tahunan senilai 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp 68 triliun, kurs Rp 18.000) untuk Israel.

Pengumuman itu disampaikan di tengah pelaksanaan Pemilu Sela (midterm elections) AS. Isu dukungan terhadap Israel menjadi topik perdebatan hangat.

“Israel adalah negara yang sangat makmur. Mereka tidak membutuhkannya,” tegas Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News, Selasa (3/11/2026).

Trump menegaskan, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyetujui keputusan tersebut. Dia menilai, kondisi ekonomi Israel saat ini sudah cukup kuat untuk mandiri tanpa bergantung pada dana hibah militer AS.

Baca juga : Brisia Jodie, Merinding Nemu Buhul Ilmu Hitam

“Sekarang kami akan membantu Israel jika mereka membutuhkannya,” ucap pebisnis real estate itu.

Trump mengaku, kritik dari kandidat Demokrat sayap kiri, Abdul El-Sayed, menjadi salah satu alasannya menghentikan bantuan ini. El-Sayed mencalonkan diri sebagai Senator AS dengan memanfaatkan keresahan publik dan sentimen anti-Israel.

Berdasarkan data Council on Foreign Relations, sejak berdiri 1948, Israel telah menerima bantuan ekonomi dan militer dari AS lebih dari 300 miliar dolar AS. Nilai fantastis bantuan ini merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima oleh satu negara manapun dalam periode tersebut.

Perdebatan soal bantuan ke Israel ini memang sedang panas-panasnya di Michigan, negara bagian asal El-Sayed yang punya komunitas Muslim cukup besar. Perbedaan pandangan ini bahkan terjadi di internal Partai Demokrat maupun Republik.

Baca juga : Berturut-turut, Prabowo Panggil Tim Ekonomi

Berdasarkan hasil penghitungan suara Pemilu Sela, El-Sayed berhasil mengalahkan calon Senator Partai Republik, sehingga dia bakal jadi anggota Muslim pertama di Senat AS. Pria keturunan Mesir itu memang vokal mengkritik hubungan AS-Israel dan terus mendesak agar bantuan dihentikan.

Sikap keras El-Sayed ke Israel ini juga yang membuat saingan utamanya di internal Demokrat, Haley Stevens, secara mengejutkan memberikan dukungan ke lawan mereka dari Partai Republik, Mike Rogers. Hal ini semakin memperjelas betapa terbelahnya pandangan politik di Negeri Paman Sam soal isu Israel.

Keputusan AS ini menuai kecaman keras dari pihak oposisi. Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot menilai, langkah ini mencerminkan kegagalan kepemimpinan Netanyahu. Eisenkot mengatakan, Netanyahu tidak lagi dapat dipercaya dan harus diganti.

“Fakta bahwa lembaga pertahanan Israel baru mengetahui pergeseran hubungan strategis kita melalui media menunjukkan betapa bahayanya tindakan Benjamin Netanyahu,” ujar Eisenkot dalam pernyataan resminya.

Baca juga : Jenderal LSP Tersangkut Penyadapan Presiden

Hingga saat ini, belum dipastikan tanggal resmi kapan penghentian kucuran dana militer tersebut mulai diberlakukan secara efektif.

Melansir Channel News Asia (CNA), Netanyahu pernah menyatakan ingin mengurangi ketergantungan Israel pada bantuan AS.

Pada Mei 2026, Pemimpin Zionis itu mengatakan, pihaknya memiliki target untuk menekan bantuan dari AS hingga nol persen. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Kamis, 5 November 2026 dengan judul "Trump Stop Bantuan Militer Ke Israel Rp 68 T Per Tahun Eisenkot: Terbukti Gagal, Netanyahu Harus Digusur"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.