Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
RM.id Rakyat Merdeka - Angin berhembus menusuk tulang meski matahari bersinar cerah di Distrik Chaoyang, Beijing di pertengahan September. Meskipun hal ini terjadi, para warga terutama lanjut usia tetap menjalankan aktivitasnya. Para lansia ini rutin berolahraga, menari tradisional hingga bercengkrama, mengolah tarik napas hingga bermain pingpong di area taman kota.
Beijing adalah kota terbesar kedua setelah Shanghai di China. Kota kosmopolitan dengan banyak taman kota, apartemen, kampus sekaligus salah satu pusat perekonomian dunia. Status sebagai ibu kota membuat populasinya pun membengkak mencapai 22,1 juta jiwa. Selain menjadi ikon politik global, Beijing juga dikenal sebagai cagar budaya peradaban China yang memiliki sejarah panjang mencapai tiga milenia. Banyak situs bersejarah seperti Tembok Besar, Kota Terlarang, hingga Istana Musim Panas.
Perjalanan saya masih seumur jagung di Beijing. Pengalaman libur nasional pertama berlangsung selama seminggu penuh (1-7 Oktober). Libur ini dalam rangka merayakan hari Kemerdekaan Republik Rakyat China (RRC) yang jatuh pada 1 Oktober 1949. Momen bersejarah yang diprakarsai Mao Zedong di Lapangan Tiananmen.
Ya, meskipun peradaban China sudah berlangsung hampir empat milenia, namun kelahiran RRC lebih muda dari Republik Indonesia yang saat itu telah berusia empat tahun dan sedang berkutat dalam eksistensi kedaulatan. RRC sempat dijuluki “Sickman of Asia” di akhir abad 19 dikarenakan serangkaian perang saudara dan intervensi asing.
Demikian peliknya periode ini hingga sejarawan RRC menjulukinya sebagai “Abad Penghinaan”. Pada awal abad 20, konflik ideologis yang berlangsung akhirnya usai dengan mundurnya kaum Nasionalis (Kuomintang) pimpinan Chiang Kai-shek ke Pulau Formosa di tahun yang sama. Kemenangan ini menandakan dukungan rakyat kepada Partai Komunis China (Kunchangtang) yang mendapat sokongan dari Uni Soviet.
Baca juga : Kolaborasi BCA Life dan Bank BCA Rilis Asuransi MyGuard di myBCA
Selama beberapa periode ke depan, Pemerintahan Mao terbagi menjadi beberapa peristiwa penting. Yang pertama, Lompatan Jauh ke Depan (The Great Leap Forward) pada 1958- 1962 berisikan kampanye ekonomi tentang industrialisasi dan kolektivitas pertanian. Kedua, Revolusi Budaya dari 1966-1976 yang memperkuat ideologi komunis dan penghilangan unsur-unsur “kapitalis” maupun “tradisional” dari struktur masyarakat China.
Kemudian, era perang dingin menjadikan hubungan pemerintahan Mao dengan Uni Soviet di bawah Stalin merenggang dan menjelang akhir kepemimpinannya, RRC kembali membuka normalisasi hubungan dengan Barat. Hal ini dibuktikan pada kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Richard Nixon ke Beijing di 1972. Momentum ini membuka spektrum pemikiran RRC terhadap dunia internasional serta mengakhiri isolasi hubungan diplomatiknya.
Mao Zedong kemudian mangkat pada 9 September 1976. Banyak pihak menganggap kebijakan politik RRC pada masa itu sangat keras dan tertutup. Namun, pada prinsipnya, warisan dari Mao Zedong bertujuan memperkuat pondasi masyarakat berdasarkan kekuatan kolektivitas. Kelak hal ini berperan penting guna membuka jalan dalam reformasi ekonomi dan politik RRC di masa depan.
Melompat ke era modern, terutama pada periode kepemimpinan Presiden Xi Jinping, kekuatan RRC telah berkembang pesat. Dalam konteks politik internasional, kekuatan ekonomi dan militer yang dimilikinya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Diplomasi aktif RRC ditunjukkan dengan perannya sebagai negara pendonor terbesar dalam beberapa organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) dan pembangunan infrastruktur negara-negara berkembang melalui proyek Belt and Road Initiative (BRI) sejak 2013.
China juga berselancar dalam tata kelola pemerintahan global dengan masuk ke dalam isu-isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan melalui industri ekonomi hijau dan energi baru terbarukan yang sedang mereka prioritaskan. Sudah banyak tokoh yang mengakui meningkatnya pengaruh RRC di sistem internasional namun ada benang merah yang penulis coba observasi selama tinggal di sini. Satu kata yang bisa mewakili yaitu karakter.
Baca juga : Tekan Inflasi, Tri Tito Karnavian Jempolin Gerakan Pangan Murah Di Bogor
Proses China dalam mencapai status menuju negara superpower di bidang ekonomi memang menarik untuk disimak. Mengacu pada beberapa kelas seperti bahasa Mandarin dan Politik dan Hubungan Internasional yang saya ikuti dalam studi doktoral di University International of Business and Economics (UIBE). Pada hakikatnya, RRC memiliki karakter yang berdasarkan pada filosofi ketimuran yaitu keseimbangan dan harmoni (Kusumohamidjojo, 2022, p.17-23).
Keseimbangan berdasarkan pola Konfusianisme yang mempengaruhi cara pandang masyarakat China terhadap nilai kehidupan dan penyerapan hal positif dalam mempelajari perkembangan teknologi dan inovasi keilmuan peradaban Barat. Kombinasi acapkali dilakukan untuk menciptakan harmoni antara keduanya. Saya melihat bagaimana masyarakat terus berinovasi namun tetap mempertahankan bentuk budaya kolektivitas melalui kegiatan-kegiatan sosial di ruang publik. RRC sebagai bagian dari bangsa Asia juga mengedepankan budaya pendidikan. Setiap hari di perpustakaan kampus ada banyak anak-anak muda yang giat belajar untuk mencapai prestasi akademis tertinggi. Sikap inilah yang menjadi landasan meningkatnya animo generasi muda untuk menjadikan China sebagai salah satu destinasi melanjutkan pendidikan.
Peran RRC dalam perekonomian dunia ternyata berdampak signifikan terhadap berkembangnya kualitas pendidikan di RRC. Setiap tahun, negara-negara di dunia seperti Asia dan Afrika mengirimkan ratusan hingga ribuan mahasiswanya untuk belajar berbagai bidang ilmu dari bahasa mandarin, sains, teknik, ekonomi hingga sosial humaniora. Kampus-kampus di China juga sudah mulai menjadi salah satu referensi bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia (Wang, 2020:3-4).
Salah satu bentuk kerja sama pendidikan antara negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) dengan Pemerintah China adalah program beasiswa ASEAN-China Young Leaders Scholarship (ACYLS). Beasiswa ACYLS merupakan beasiswa khusus Master (S2), Doktoral (S3) dan Posdoktoral ditujukan bagi para akademisi dan profesional muda dari Asia Tenggara. Perkembangan paradigma warga ASEAN untuk belajar di RRC ditunjukkan di kelas saya. Dari tujuh mahasiswa doktoral, lebih dari setengahnya berasal dari negara ASEAN (dua dari Indonesia, satu dari Malaysia, dan satu dari Brunei Darussalam). Selain jalur beasiswa, juga ada mahasiswa ASEAN yang berkuliah secara swadaya ke berbagai kota di RRC. Hal ini membuktikan meningkatnya minat masyarakat ASEAN dalam menuntut ilmu di negeri tirai bambu. Berdasarkan data, mayoritas negara-negara ASEAN telah memiliki hubungan dagang dengan RRC (Jones et al, 2007).
Peningkatan paradigma RRC di Asia Tenggara juga ditandai dengan mulai masuk ke dalam investasi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui beasiswa pemerintah dan pertukaran ilmu pengetahuan (Li et al, 2023). Posisi geografis Asia Tenggara sangat penting karena merupakan salah satu jangkar di kawasan Indo-Pasifik (Borchers, 2013). Meningkatnya perekonomian antara RRC dan ASEAN diharapkan akan menjaga kestabilan dalam kawasan yang relatif damai (Dosch, 2007).
Baca juga : Dukung Transisi Hijau Sektor Energi, BNI Gelar BEST Event
Keberlangsungan kerja sama ini juga dilandasi kepentingan bersama sebagai bagian dari solidaritas negara Selatan-Selatan (Hanggarini, 2010:30). Program beasiswa ataupun kegiatan akademis berperan krusial dalam meningkatkan kualitas pembangunan dan menciptakan kesetaraan ekonomi (Rolls, 2012). Oleh karena itu, kemitraan strategis antara ASEAN dan RRC hadir untuk menjaga keseimbangan kepentingan dan harmoni kawasan.
Referensi
Borchers, H. (2013). Indonesia’s national role conceptions: continuity amidst regional change (Doctoral dissertation, Open Access Te Herenga Waka-Victoria University of Wellington).
David Martin Jones, Michael L.R. Smith; Making Process, Not Progress: ASEAN and the Evolving East Asian Regional Order. International Security 2007; 32 (1): 148–184. doi: https://doi.org/10.1162/isec.2007.32.1.148
Dosch, J. (2007). Managing Security in ASEAN-China Relations: Liberal Peace of Hegemonic Stability. Asian Perspective, 31(1), 209-236.
Hanggarini, P. (2010). Interaksi Cina dengan ASEAN: Antara Kepentingan Nasional vs Identitas Bersama.
Kusumohamidjojo, B. (2022). Sejarah Filsafat China: Suatu Pengantar Komprehensif (Cetakan Kedua). Penerbit Yrama Widya, Bandung.
Li, B., Arsat, M., Latif, A., Amin, N., Daing, D., Men, Y., Li, W., Wang, L., & Zhu, C. (2023). China-ASEAN Qualifications Framework: Pathways to mutual recognition. Environment and Social Psychology, 9(2). doi:http://dx.doi.org/10.54517/esp.v9i2.1745.
Rolls, M. Centrality and Continuity: ASEAN and Regional Security since 1967. East Asia 29, 127– 139 (2012). https://doi.org/10.1007/s12140-011-9160-1
Penulis adalah mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR) di University International of Business and Economics (UIBE), Beijing. Penerima beasiswa ASEAN-China Young Leaders Scholarship (ACYLS) tahun 2024 yang berprofesi sebagai akademisi dengan fokus penelitian ekonomi global dan geopolitik. Bisa dihubungi melalui email: [email protected]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya