Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sinergitas Angkutan KSPN, Pemda dan ASITA Untuk Menarik Wisatawan & Membenahi Angkutan Umum di Daerah
Selasa, 3 Desember 2024 07:58 WIB
Djoko Setijowarno
Pengamat Transportasi
Pengamat Transportasi
Sebelumnya
Dalam penyelenggaraan angkutan KSPN, terdapat sejumlah kendala (Perum. Damri, 2024), pertama sistem pengadaan layanan Angkutan KSPN masih berupa tender atau lelang tidak penunjukan langsung, sehingga dimungkinkan terjadinya pengoperasian tidak dimulai dari awal tahun. Kedua, lelang dilakukan setiap tahun dan tidak multiyears.
Ketiga, perlunya dukungan multisektoral, seperti Kemenparekraf dan SKPD di daerah terhadap program KSPN untuk mendukung dan mensosialisasikan terselenggaranya angkutan KSPN pada setiap wilayah guna meningkatkan minat wisatawan. Keempat, masih sering terjadinya kelangkaan BBM pada daerah tertentu, sehingga operasional tidak berjalan maksimal.
Kelima, dari faktor geografis terdapat daerah-daerah yang memiliki aksesibilitas jalan yang ekstrem dan rawan bencana alam, seperti tanah longsor. Keenam, belum terdapatnya halte khusus KSPN sebagai tempat menaikkan dan menurunkan wisatawan dan belum adanya informasi rute KSPN pada setiap daerah.
Baca juga : Jaga Keselamatan Angkutan Penyeberangan & Tingkatkan Konektivitas di Danau Toba
Ketujuh, jadwal keberangkatan atau timetable masih berubah-ubah (menyesuaikan kedatangan pesawat), sehingga membingungkan wisatawan. Dan kedelapan, belum familiarnya wisatawan dengan adanya tiket online yang bisa dibeli melalui Apps seperti tarveloka atau DamriApps.
Kepastian jadwal dan frekuensi perjalanan juga menjadi pertimbangan pilihan bagi pelancong. Di beberapa trayek juga sudah muncul angkutan wisata sejenis yang tarifnya jauh lebih tinggi dan laris. Hal ini dikarenakan keluwesan mengatur jadwal dan frekuensi perjalanan dibuat setiap jam dengan menambah jumlah armada.
Peran Pemda dan ASITA
Program Angkutan KSPN harus bekerjasama dengan pemerintah daerah dan asosiasi pengelola pariwisata (ASITA). Sesungguhnya, pemda yang sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata oleh Kementerian Pariwisata sangat berkepentingan untuk membenahi angkutan umum di daerahnya. Demikian pula dengan asosiasi pengelola pariwisata untuk memperbanyak jumlah pelancong.
Baca juga : Manfaatkan Jalur KA untuk Tangani Truk ODOL
Jangan sampai tujuan membuat Bali kedua, benar terwujud akan tetapi penataan transportasi diabaikan. Destinasi wisata di banyak negara maju, selalu diikuti dengan fasilitas layanan angkutan umum.
Lain halnya di Indonesia, ketika membangun destinasi wisata, akses transportasi umum diabaikan. Terkadang lahan parkir lebih luas ketimbang obyek wisatanya, mengistimewakan kendaraan pribai dan akhirnya kemacetan yang muncul menuju destinasi wisata.
Pengembangan destinasi wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mengembangkan destinasi wisata (tourism development desination), yakni 5 super prioritas dan 5 prioritas destinasi pariwisata.
Baca juga : Menertibkan Muatan Lebih Menunggu Ketegasan Presiden
Kelima super prioritas destinasi wisata, yaitu Manado-Likupang di Provinsi Sulawesi Utara (Ekowisata Taman Nasional Bunaken; dan Kawasan Pariwisata Bitung-Lembeh, Likupang dan Kota Manada), Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara (Toba; Ekowisata Gunung Leuser dan Kawasan Hutan Aek Nauli; dan Geoprak Kaldera Toba), Borobudur di Provinsi Jawa Tengah (Ekowisata Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Hutan Pendidikan Wanagama; Kawasan Pariwisata Prambanan-Kalasan, Kota Yogyakarta, Borobudur, Pantai Selatan, Gunung Kidul, Sangiran, Karimunjawa, Dieng; dan Geopark Gunung Sewu, Karangsambung-Karangbolong), Labuan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Wisata Bahari Laut Sawu; dan Ekowisata Taman Nasional Komodo dan Kelimutu), dan Lombok-Mandalika di Provinsi Nusa Tenggara Barat (Wisata Bahari Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan; Ekowisata Gunung Rinjani, Gunung Tambora, dan Gunung Tunak; Kawasan Pariwisata Pantai Selatan Lombok dan Gili Tramena; dan Geopark Rinjani dan Tambora).
Sementara 5 prioritas destinasi pawisata, yaitu Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya (WisataBahari Suaka Alam Kepulauan Raja Ampat dan Waigeo Sebelah Barat; Ekowisata Sorong; dan Geopark Raja Ampat), Morotai di Provinsi Maluku Utara (Kawasan Pariwisata Morotai), Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Ekowisata Taman Nasional Wakatobi; dan Kawasan Pariwisata Kendari dan Baubau), Bromo-Tengger-Semeru di Provinsi Jawa Timur (Ekowisata Bromo-Tengger-Semeru), dan Bangka-Belitung di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kawasan Pariwisata Tanjung Kelayang dan Pangkalpinang-Sungailiat; dan Geoprak Belitong).
Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Penguatan Wilayah MTI Pusat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya