Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mengejutkan: Anak Dibatasi Main Medsos Ternyata Lebih Pintar & Sehat Mental!
Minggu, 30 Maret 2025 14:57 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial
Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia baru saja mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP Tunas. Kebijakan ini dirancang untuk melindungi anak-anak di ruang digital melalui beberapa langkah, seperti pembatasan penggunaan media sosial, klasifikasi risiko platform digital, serta kewajiban edukasi literasi digital bagi anak dan orang tua.
Langkah ini patut diapresiasi mengingat risiko eksploitasi, perundungan siber, kecanduan gawai, dan paparan konten negatif semakin mengancam anak-anak Indonesia. Namun, seperti kebijakan serupa di negara lain, PP Tunas juga menuai pro-kontra, terutama terkait efektivitas pembatasan dan potensi pelanggaran privasi.
Belajar dari Negara Maju: Pembatasan Media Sosial untuk Anak
Indonesia bukanlah yang pertama menerapkan kebijakan pembatasan akses digital bagi anak. Beberapa negara maju telah lebih dulu melakukannya dengan hasil yang cukup menggembirakan.
1. Australia: Batas Usia 16 Tahun untuk Media Sosial
Mulai Januari 2025, Australia memberlakukan batas usia minimum 16 tahun** untuk mengakses media sosial. Langkah ini diambil setelah berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia tersebut lebih rentan terhadap *cyberbullying, gangguan mental, dan kecanduan digital*. Pemerintah Australia juga bekerja sama dengan platform teknologi untuk memperketat verifikasi usia.
2. Prancis: Persetujuan Orang Tua untuk Anak di Bawah 15 Tahun
Prancis mewajibkan izin orang tua bagi anak di bawah 15 tahun yang ingin membuat akun media sosial. Hasilnya, dalam setahun, paparan konten berbahaya pada anak-anak turun hingga 30%. Kebijakan ini didukung dengan edukasi literasi digital di sekolah dan kampanye kesadaran bagi orang tua.
3. Inggris: "Age-Appropriate Design Code"
Inggris menerapkan aturan ketat bagi platform digital untuk memastikan konten yang disajikan sesuai usia pengguna. Perusahaan teknologi seperti TikTok dan Instagram wajib mendesain ulang algoritma agar tidak memicu kecanduan atau mengekspos anak pada konten berbahaya.
Baca juga : Lewat Aplikasi PINTU, Kirim THR Crypto Lebih Mudah Saat Lebaran
Dampak Positif Pembatasan Media Sosial bagi Anak: Bukti Empiris
Berbagai penelitian di negara-negara yang telah menerapkan pembatasan media sosial untuk anak menunjukkan hasil yang signifikan:
Penurunan Gangguan Mental (University of Bristol, 2023)
Studi terhadap 10.000 remaja di Inggris menemukan bahwa pembatasan akses media sosial pada anak di bawah 16 tahun mengurangi gejala depresi dan kecemasan sebesar 22%. Paparan berlebihan terhadap konten negatif dan tekanan sosial di platform digital berkontribusi besar pada masalah kesehatan mental remaja.
Peningkatan Interaksi Sosial Langsung (Journal of Child Psychology, 2022)*l
Penelitian di Prancis menunjukkan bahwa anak-anak yang dibatasi penggunaan media sosial lebih banyak terlibat dalam aktivitas fisik dan interaksi tatap muka, yang berdampak positif pada perkembangan sosial-emosional mereka.
Baca juga : Menkum Supratman Ajak Dialog Mahasiswa Trisakti tentang RUU TNI
Pengurangan Kecanduan Digital (American Psychological Association, 2021)
Kebijakan pembatasan waktu layar di beberapa negara bagian AS terbukti menurunkan gejala kecanduan internet pada anak-anak usia 12-15 tahun sebesar 15-20% dalam kurun dua tahun.
Tantangan Implementasi PP Tunas
Meski kebijakan pembatasan media sosial untuk anak terbukti efektif di beberapa negara, tantangan terbesar justru ada di implementasi. Beberapa isu yang perlu diantisipasi:
Verifikasi Usia yang Rentan Manipulasi
Banyak anak yang dengan mudah mengakali batasan usia dengan bantuan orang tua atau menggunakan data palsu. Tanpa sistem verifikasi yang kuat (seperti KTP digital atau autentikasi biometrik), kebijakan ini bisa jadi tidak efektif.
Peran Orang Tua dan Sekolah
Pembatasan akses saja tidak cukup. Edukasi literasi digital harus masif diberikan kepada orang tua dan anak agar mereka paham cara berinternet secara sehat. Tanpa pemahaman ini, anak-anak tetap bisa terpapar risiko meski ada pembatasan.
Keseimbangan Antara Perlindungan dan Hak Digital
Baca juga : Amezcua Bio Disc 3, Rubah Air Biasa Jadi Sumber yang Lebih Sehat dan Aman
Kritik juga muncul bahwa pembatasan bisa membatasi akses anak pada konten edukatif dan peluang belajar di dunia digital. Karena itu, kebijakan ini harus disertai dengan peningkatan konten positif yang ramah anak.
Menuju Perlindungan Anak yang Holistik
PP Tunas adalah langkah awal yang baik, tetapi harus diperkuat dengan:
1. Kolaborasi dengan platform digital untuk memperketat verifikasi usia.
2. Program literasi digital nasional bagi orang tua, guru, dan anak.
3. Pengawasan ketat terhadap konten berbahaya dengan bantuan kecerdasan artifisial.
Jika diimplementasikan dengan baik, PP Tunas bisa menjadi pelindung anak-anak Indonesia di dunia digital, sekaligus memastikan mereka tetap bisa menikmati manfaat teknologi secara positif. Kita tidak bisa sepenuhnya melarang anak dari internet, tetapi kita bisa membuat internet lebih aman untuk mereka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya