Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya dengan benar. Ibarat sebuah pengilon atau cermin, sejarah sebagai pengingat kita untuk belajar peristiwa masa lampau agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang.
Rencana penulisan ulang sejarah seputar pemerkosaan 1998 menuai pro dan kontra di masyarakat. Penulisan ulang sejarah tersebut tidak mendesak dilakukan saat ini. Menulis ulang sejarah harus memiliki dasar yang kuat dan memerlukan partisipasi masyarakat untuk mencegah kecurigaan revisi sejarah yang dimaksud.
“Nulis ulang sejarah kesannya buru-buru, Mo. Seperti mau nulis pakem cerita wayang,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem tidak mau komentar banyak tentang rencana pemerintah merivisi sejarah peristiwa pemerkosaan tahun 1998. Romo Semar sedang galau terhadap dampak konflik berkepanjangan perang Iran dan Israel.
Baca juga : Geger Rebutan Wilayah Tunggorono
Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan Tiwul dan pisang rebus tidak ketinggalan sebagai makanan favorit Padepokan Klampis Ireng. Ibu Kanestren tahu persis menu kalengenan sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Ketika itu, Adipati Drestarastra mengubah cerita peralihan kekuasaan Hastina.
Kocap kacarito. Peristiwa kelam Balai Segala-Segala memojokkan Adipati Drestarastra sebagai penguasa kerajaan Hastina setelah Prabu Pandu Dewanata mangkat. Sebelum wafat, Pandu Dewanata menitipkan tahta kerajaan Hastina untuk diberikan kepada anak-anaknya, Pandawa, setelah dewasa.
Di sisi lain, Drestarastra memiliki anak Kurawa yang berjumlah seratus belum memiliki wilayah kekuasaan. Muncul ide untuk menyingkirkan Pandawa dan memberikan tahta Hastina kepada anak-anaknya, Kurawa.
Baca juga : Ekosistem Sungai Gangga Tercemar
Untuk memuluskan rencana jahat tersebut, Drestarastra minta Patih Sengkuni mencari jalan menyingkirkan Pandawa. Patih Sengkuni merancang pesta pora dengan nama Bale Segala-Segala di pinggiran wilayah Hastina. Kurawa sengaja mengundang Pandawa untuk berpesta pora. Sejatinya Kurawa ingin melenyapkan satria Pandawa dan Ibu Kunti setelah pesta pora berlangsung.
Pandawa terlelap letih setelah pesta usai. Timbul niat jahat Patih Sengkuni membakar pasanggrahan tempat Pandawa dan Ibu Kunti tidur. Kobaran api dengan cepat melalap habis pesanggrahan Pandawa. Namun Pandawa selamat dari koboran api berkat pertolongan seekor landak putih. Landak putih jelmaan Dewa Baruna membawa Pandawa ke dasar samudera.
Adipati Drestarastra kaget mendengar Pandawa masih hidup. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Drestarastra membuat cerita bahwa Bale Segala-Segala diadakan untuk menyerahkan kekuasaan tahta Hastina kepada Pandawa. Akan tetapi tahta kerajaan Hastina sudah terlanjur diberikan kepada anak-anaknya, Kurawa.
Baca juga : Diksi Nirempati Pandita Durna
“Becik ketitik olo ketoro, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Yang namanya niat baik dan buruk pasti akan terungkap,” jawab Romo Semar pendek. Seperti halnya penulisan ulang sejarah, kalau misinya baik untuk menyatukan anak bangsa pasti akan didukung rakyat. “Namun kalau niatnya tidak baik pasti akan terkuak. Pada dasarnya penulisan sejarah dilakukan untuk membuka partisipasi masyarakat untuk menciptakan sejarah yang inklusif dan akuntabel,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya