Dark/Light Mode

Perjalanan Moksa Darmakusuma

Senin, 28 April 2025 07:39 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Prosesi pemakaman Paus Fransiskus berjalan lancar dan sederhana. Jauh dari kemewahan, aspek spiritualitas terlihat jelas ketimbang upacara ­kenegaraan. Keteladanan Paus yang rendah hati meng­inspirasi umat Katolik di seluruh dunia. Di sisi lain, pengganti Paus mendatang ­harus dipilih sosok yang ­tanggap terhadap peru­bahan global dan tetap ­berakar kepada pe­layanan umat. 

“Kesederhanaan dan rendah hati perlu dicontoh, Mo,” celetuk Petruk sambil mengikuti prosesi pemakaman pemimpin umat Katolik dari layar ­telivisi. Romo Semar ­mengamini apa yang dikatakan anaknya, Petruk. Romo Semar sejatinya sedang galau dengan maraknya penegak hukum tertangkap kasus penyuapan. Kesederhanaan Paus seharusnya menjadi contoh dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan ujian. 

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Ubi rebus dan jadah bakar merupakan menu sarapan kelangenan padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, pencapaian perjalanan moksa Darmakusuma menuju swarga loka bersama Pandawa. 

Baca juga : Penegakan Hukum Rama Bargawa

Kocap kacarito, pasca­perang Baratayuda, para satria Pandawa memilih pergi ke hutan ­untuk bertapa dan meninggalkan gemerlapnya kehidupan dunia. Sebagai satria, tugas mereka sudah selesai dan saatnya kembali ke asal muasalnya. Para kawula mengelu-elukan Pandawa dalam perjalanannya, karena teringat perjuangan mereka semasa masih berkuasa di Hastina. 

Satu per satu satria Pandawa moksa untuk menghadap Sang Pencipta. Mulai dari ­Nakula dan Sadewa. Kedua anak ­Pandu dari perkawinannya dengan Dewi Madrim me­ninggalkan dunia fana dengan gembira. Semasa hidupnya kedua satria ini bertindak adil dan bijaksana. Sehingga perjalanan keduanya tidak mengalami kendala untuk berkumpul dengan dewata di Khayangan. 

Kemudian disusul ­Arjuna. Anak Pandu ini terkenal sakti mandraguna. Selama hidup­nya, Arjuna suka berkorban membela para dewa. Maka saat moksa, Arjuna diberi tempat yang murwat sesuai dengan pengobanannya sebagai satria tama. 

Baca juga : Perundungan Seksual Begawan Wisrawa

Bima merupakan anak Pandu nomor dua. Selama hidupnya Bima dikenal seba­gai satria teguh dalam memperjuangkan kebenaran. Bima diangkat anak Bethara Bayu dewanya angin. Maka saat ajal menjemput, Bima tidak merasakan penderitaan yang berarti. Bima diperbolehkan berkumpul dengan keluarga­nya di Swarga Loka. 

Puntadewa adalah anak tertua Pandu. Puntadewa atau yang dikenal Darmakusuma memerlukan waktu enam ratus tahun untuk bisa moksa menyusul saudaranya. Raja yang terkenal sabar dan bijaksana masih diperlukan keberadaannya di Arcapada. Para Dewa menjemput Punta­dewa masuk surga setelah tugasnya selesai. 

Puntadewa memasuki pintu gerbang Swarga Loka ­untuk menyusul saudaranya. Namun di depan pintu gerbang dilarang masuk oleh penjaga pintu surga. Karena Punta­dewa membawa seekor ­anjing. Punta­dewa me­milih tidak masuk surga kalau ­anjing yang ­selama ini menjadi temannya dilarang masuk. ­Anjing berubah wujud menjadi ­Bethara Darma yang tidak lain guru angkat Puntadewa.

Baca juga : Rapuhnya Pertahanan Ekonomi Wirata

“Keteladanan seseorang akan terus dikenang walau sudah meninggal, Mo,” sela ­Petruk membuyarkan ­lamunan Romo Semar. “Be­tul, Tole. Seperti Paus Fransiskus yang terkenal sederhana dan sabar. Akan terus dikenang ­selama­nya sebagai kompas hidup umatnya,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.