Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Saya bersama Dr. Dicky Budiman dari Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI menjadi pembicara dalam “The 2025 International Symposium for One Health Research and Practice-From Vision to Collaboration and Action” yang diselenggarakan di Kota Shenzhen, China.
Simposium ini diselenggarakan oleh Southern University of Science and Technology bekerja sama dengan Shenzhen Third People’s Hospital, China One Health Network, dan Griffith University. Saya merupakan Adjunct Professor di Griffith University, dan Dr. Dicky Budiman juga merupakan lulusan program PhD dari universitas yang sama.
Baca juga : Diplomasi, Kata Kunci Indonesia Di Tengah Perang Yang Melebar
Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan materi berjudul “Antimicrobial Resistance (AMR) in Asia Pacific”, sedangkan Dr. Dicky Budiman membawakan topik “Future Proofing Global Health Security”.
Kami berdua juga tergabung dalam Scientific Committee simposium internasional ini, yang dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai belahan dunia. Para pembicara terdiri dari para pakar akademik dan peneliti tingkat dunia, perwakilan organisasi pemerintah dari berbagai negara, serta lembaga internasional seperti WHO dan lainnya.
Baca juga : Lima Antisipasi Cuaca Amat Panas Di Arafah Dan Mina
Topik yang dibahas dalam simposium ini sangat luas dan mendalam, mencakup kebijakan tingkat global, regional, dan nasional; pengalaman lapangan; serta aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan yang menjadi inti dari konsep “One Health” atau “Satu Sehat”.
Juga dibahas isu-isu seperti kemunculan mikroorganisme akibat pencairan es di kutub, analisis berbagai lapisan tanah, aspek genomik, perubahan iklim (climate change), termasuk pemahaman mengenai CSID (climate-sensitive infectious diseases), serta pentingnya konsep “proactive epidemic prevention” yang juga relevan untuk diterapkan di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.