Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
Sebelumnya
Sebagai contoh di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Sebelum haji, seseorang yang bukan bangsawan, ilmuan, atau pejabat tidak bisa duduk di samping atau berhadapan dengan tokoh birokrasi seperti camat atau lurah. Ia juga tidak diajak untuk mengantar pengantin dalam adat perkawinan.
Terkadang juga tidak bisa duduk di belakang imam di shaf pertama di masjid atau mushalah. Akan tetapi jika mereka sudah menunaikan ibadah haji, maka mereka dapat duduk bersebelahan dengan pejabat daerah, selalu diundang mengantar rombongan keluarga pengantin dengan pakaian formal hajinya, dan sudah dipersilakan duduk di shaf pertama belakang imam di masjid atau mushalah.
Baca juga : Mimpi Berjumpa Rasulullah
Bahkan orang yang mengenakan simbol dan atribut haji, pedagang grosir atau eceran bersedia bahkan menawarkan barang dagangannya untuk dicicil atau dipinjam oleh para hujjaj. Ini artinya para hujjaj memiliki kepercayaan, legitimasi, dan kelas sosial tersendiri di dalam masyarakat. Seolah-olah para hujjaj sudah masuk ke dalam kategori shalih dan amanah.
Tidak sedikit jumlahnya di antara para hujjaj terpilih sebagai tokoh masyarakat, ketua paguyuban, dan atau di dalam pemilukada, karena atribut hajinya. Wajar kalau di dalam papan nama dan kartu-kartu nama identitas, haji seringkali dilekatkan, karena memiliki nilai dan harga sosial yang tidak rendah.
Baca juga : Fenomena Haji Kultural
Para hujjaj seringkali terlibat di dalam suatu gerakan massa yang patut diperhitungkan. Lihat saja contohnya di dalam acara-acara keagamaan, seringkali para hujjaj secara otomatis dilibatkan sebagai pemeran penting di dalam acara-acara keagamaan dan pesta rakyat terutama di daerah pedesaan.
Itulah sebabnya pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Jepang selalu mewaspadai komunitas haji di Indonesia karena selalu menjadi faktor utama di dalam memobilisasi masyarakat. Andil para hujjaj dalam kemerdekaan RI sangat luar biasa.
Baca juga : Selamat Datang Haji Mabrur
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 3 Juli 2025 dengan judul "Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (45) Menunggu Peran IPHI"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.