Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Kita tahu bersama bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam hal jumlah kasus tuberkulosis (TB). Laman Kementerian Kesehatan, 11 Juni 2025, bahkan menulis, “TBC Sebabkan Dua Kematian Setiap Lima Menit, Menkes Serukan Aksi Nasional.” Jadi, jelas bahwa tuberkulosis adalah masalah kesehatan penting bagi negara kita.
Dalam hal ini, kita patut bersyukur bahwa prioritas pengendalian tuberkulosis sudah masuk dalam Asta Cita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, dengan berbagai implementasinya termasuk program Desa Siaga Tuberkulosis.
Memang, pengendalian tuberkulosis tidak bisa hanya dilakukan melalui pelayanan kuratif di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan saja. Perlu ada kegiatan langsung di layanan kesehatan primer. Kegiatan ini harus dilakukan bukan hanya dengan mengajak masyarakat, tetapi bersama masyarakat, sehingga kita sebagai anggota masyarakat memiliki rasa memiliki (sense of belonging) dalam menanggulangi tuberkulosis di bumi tercinta ini.
Hal ini tentu harus ditunjang oleh skema anggaran dan pembiayaan yang jelas. Agar semua warga dapat mengakses penanganan yang baik tanpa harus terbebani secara finansial, sesuai dengan konsep Universal Health Coverage (UHC) atau pelayanan kesehatan untuk semua.
Baca juga : Terowongan Menembus Bendungan
Terkait hal ini, pada 15 Juli 2025, World Health Organization (WHO) mengeluarkan dokumen penting dalam bentuk policy brief berjudul "Tuberculosis and Primary Health Care: Synergies and Opportunities Towards Universal Health Coverage." Dokumen ini menegaskan pentingnya strategi menyeluruh untuk menyelaraskan program TB suatu negara (tentunya termasuk Indonesia) dengan pendekatan pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care–PHC). Sekaligus memperkuat upaya mewujudkan pelayanan kesehatan semesta (Universal Health Coverage–UHC).
Dalam dokumen terbaru WHO ini secara jelas disebutkan bahwa penyelarasan penanganan TB dengan program pelayanan kesehatan primer (PHC) di suatu negara merupakan kunci utama keberhasilan program TB. Ditegaskan pula, transformasi peran pelayanan kesehatan primer akan memberikan kontribusi penting dalam pelayanan tuberkulosis yang menyeluruh, merata, dapat diakses luas. Serta mampu menangani aspek sosial dan ekonomi yang sering menjadi akar masalah.
Pelayanan tuberkulosis yang terintegrasi di masyarakat juga akan memperkuat infrastruktur kesehatan lainnya. Seperti laboratorium kesehatan, pengendalian penyakit menular melalui udara (airborne infection control), serta meningkatkan keterlibatan masyarakat sipil dan publik secara luas.
Pada peluncuran dokumen policy brief ini, Dr. Tereza Kasaeva, yang memimpin program TB di WHO, menyampaikan bahwa pelayanan tuberkulosis yang berkualitas harus dapat diakses oleh semua orang yang membutuhkan, tanpa membebani secara finansial. Inilah inti dari konsep Universal Health Coverage (UHC) dalam konteks tuberkulosis.
Baca juga : Tiga Hal Tentang Bendungan Jatiluhur
Dr. Kasaeva juga menegaskan bahwa program TB harus ditangani secara multisektor. Dan pendekatan pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care – PHC approach) merupakan modalitas utama untuk menyediakan pelayanan tuberkulosis yang lengkap dan menyeluruh (comprehensive TB services).
Ada tiga hal yang perlu dicatat terkait peluncuran dokumen penting WHO ini.
Pertama, dokumen ini memperkuat komitmen yang telah diambil pada pertemuan TB internasional United Nations High-Level Meeting on the Fight Against TB tahun 2023, yang tentunya juga diikuti oleh Indonesia.
Kedua, berbagai dokumen dan panduan yang sudah ada harus benar-benar diimplementasikan di lapangan, bahkan secara proaktif. Tidak sekadar menjadi dokumen panduan semata.
Baca juga : “Dashboard” Virus Penyakit Paru
Ketiga, tentu akan sangat baik apabila para pengambil kebijakan di negara kita menerapkan pengendalian TB Indonesia dengan pendekatan pelayanan kesehatan primer (PHC) serta pelayanan kesehatan untuk semua (UHC).
Sebagai anggota masyarakat biasa, kita semua dapat berperan sesuai kapasitas masing-masing dalam menuju eliminasi tuberkulosis di tanah air tercinta. Semoga!
Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor, Griffith University, Brisbane, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024 sebagai Penulis Artikel Covid-19 Terbanyak di Media Massa
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.