Dark/Light Mode

Satu Kesehatan Dan Pandemi Di AFPC 2025

Senin, 6 Oktober 2025 07:44 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Medeka, RM.id 4 Oktober 2025 menurunkan berita berjudul “Sajikan 24 Diskusi Seputar ASEAN, Dino: AFPC 2025 Jadi ­Forum Dialog Terbuka”. Dituliskan bahwa acara “ASEAN for the Peoples Conference (AFPC)” ini diselenggara­kan ­“Foreign Policy Community of Indo­nesia (FPCI)” pada 4-5 Oktober 2025. Para pembicaranya datang dari ­kalangan pejabat Pemerintah negara anggota ASEAN, cendekiawan, rohaniawan, aktivis, ­hingga jurnalis senior untuk membahas tantangan dan misi menuju ASEAN yang inklusif.

Peserta yang hadir di acara dua hari ini sampai lebih dari 5 ribu orang, dan melibatkan sekitar 120 “civil society organization – CSO” dari berbagai negara ASEAN yang stand-stand-nya penuh di seputar gedung Grand Ballroom Hotel Sultan Jakarta, meriah sekali. Acara ini juga secara resmi diliput banyak sekali media massa, salah satunya adalah Rakyat Merdeka.

Saya menjadi salah seorang panelis di ­acara ­pada session berjudul “Closing the Gaps: How to Achieve a Robust Health System ­Throughout ­Southeast Asia". ­Panelis lainnya datang dari ­Vietnam, Singapura, dan Myanmar serta empat orang pembahas (“discussant”) dari Filipina. Laos, ASEAN Biological Threats Surveillance Centre ­(ABVC) dan Family Health Interna­sional (FHI 360). Jadi panelis dan pembahas benar-benar dari dan untuk ASEAN.

Baca juga : PSSI Sesalkan Insiden Cedera Pemain Di Liga 2

Saya mendapat tugas dua topik. Topik yang pertama adalah tentang “One Health” yang istilah Indonesia-nya adalah “Satu ­Kesehatan”. Ini adalah konsep yang amat pen­ting yang merupakan kerja bersama kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan, di mana di dalamnya juga ada aspek pertanian serta juga keamanan pangan.

Saya sampaikan tiga hal tentang “Satu Kesehatan” ini. Kesatu, sudah jelas, bahwa untuk menangani kesehatan kini dan di masa datang maka amat diperlukan keterkaitan erat ­antara kesehatan manusia, kesehatan hewan dan lingkungan, dan semua harus berjalan bersama.

Kalau ada sesuatu ­Kejadian Luar Biasa (KLB) pada manusia misalnya, maka perlu dilihat aspek yang lain. Contoh jelas adalah KLB keracunan makanan sekarang ini. ­Tentu berkait dengan konsep keamanan pangan, di berbagai media disebut berkait juga dengan ayam yang sudah tidak segar lagi, juga ada aspek lingkungan berupa higiene dan sanitasi. Hal ke dua yang saya sampaikan tentang “One Health” atau ­“Satu Kesehatan” ini adalah bahwa kita di ASEAN sudah memiliki Deklarasi Kepala Negara ASEAN tentang implementasi “One Health”, yang dikeluarkan waktu Indonesia memegang Keketuaan ASEAN di tahun 2023. Selanjutnya ­sudah terbentuk juga ­“ASEAN One Health ­Network” yang mengadakan pertemuan di Indonesia di tahun 2024 dan di Malaysia di tahun 2025, serta sudah ada pula “ASEAN One Health Join Plan of Action”.

Baca juga : Polri Sukses Amankan Gelaran MotoGP Mandalika 2025

Hal ketiga, yang saya sampaikan adalah pentingnya implementasi langsung di lapangan yang bersifat multi-sektor ini. Tentu, Deklarasi Kepala Negara adalah amat penting. Tapi, yang lebih penting juga adalah bagaimana implementasi nyatanya di lapangan di negara-negara ASEAN demi mewujudkan kesehatan masyarakat di kawasan kita.

Topik kedua yang saya bahas adalah tentang pandemi. Khususnya, sejauh mana kita siap menghadapi kemungkinan pandemi mendatang. Untuk topik ini saya juga membahasnya dalam dua hal.

Pertama, pengalaman pandemi H1N1 tahun 2009 dan juga Pandemi ­Covid-19 menunjukkan dunia tidak siap menghadapinya. Saya adalah salah satu anggota Reviu WHO untuk pandemi H1N1 tahun 2009, dan ketika itu tim ­kami sampai pada ke­simpulan bahwa dunia tidak siap. Terminologi­nya adalah “the world is ­ill-prepared”. Karena kesimpulan Tim kami itu, maka sepanjang 2011 sampai 2019 dunia mencoba bersiap lebih baik. Eh datang ­Covid-19 dan dunia kembali tidak siap ­sebagai kesimpulan Tim Reviu pandemi ­Covid-19, yang menyebutnya seba­gai “the world was not-prepared”.

Baca juga : Jasa Raharja Angkat UMKM Binaan Tampil Di INACRAFT 2025

Jadi dunia (termasuk ASEAN) sudah jatuh dua kali dalam lubang yang sama, jangan sampai jatuh ke tiga kalinya. Hal kedua, saya sampaikan bahwa di ASEAN sudah dibentuk “ASEAN Center for ­Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED)” yang meliputi tiga kegiatan ­dengan koordinasi tiga negara berbeda yaitu Vietnam (“Prevention and Preparedness”), Indonesia (“Detection and Risk Assesment”), dan Thailand (“Respons”). Tiga kegiatan itu adalah pilar penting untuk ke­siapan kawasan ASEAN menghadapi kemungkinan pandemi.

Saya sampaikan bahwa ketiga kegiatan itu harus mulai dilaksanakan ­dengan seksama. Saya juga menyampaikan tentang ­“African CDC” yang sudah lebih kuat dan bahkan sudah dapat mengeluarkan pernyataan “public health emergency of continent cocern”, semua di ASEAN kita juga punya kesiapan yang sama.

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI /Adjunct ­Professor Griffith University
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes
Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang ­Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima ­Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se Indonesia
Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.