Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Tema mengenai Diplomasi Islam Indonesia selalu menghadirkan ruang perenungan yang luas. Topik ini membutuhkan kejelian dalam menelusuri akar peradaban Islam Nusantara dan bagaimana nilai-nilai tersebut berperan di tengah perubahan global.
Islam di Nusantara adalah Islam yang hadir melalui perjumpaan. Ia bertemu budaya, bertemu adat, bertemu keragaman, dan bertemu jalur perdagangan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dari perjumpaan itu tumbuh karakter keberagamaan yang damai, karakter yang tenang dalam menghadapi perbedaan, serta karakter yang tidak mudah goyah meski dunia berubah.
Inilah wajah Islam yang sering disebut sebagai rahmatan lil alamin, bukan dalam bentuk wacana, tetapi dalam bentuk kehidupan sosial yang memberi keteduhan bagi siapa pun tanpa melihat identitasnya.
Beberapa waktu lalu, saya menerima amanah sebagai Visiting Professor di Tomsk State University di Siberia. Percakapan dengan para akademisi di sana memberi sudut pandang baru tentang bagaimana dunia memandang masyarakat Muslim Indonesia. Mereka menaruh perhatian besar pada keragaman kita dan ingin memahami bagaimana nilai keberagamaan di Indonesia dapat berjalan harmonis.
Baca juga : Gelar Konferensi Internasional, BSMI Serukan Misi Kemanusiaan Dan Stop Genosida
Mereka bertanya bagaimana masyarakat Muslim Indonesia dapat menjalani kehidupan religius sambil tetap menghormati minoritas, bagaimana pesantren mampu mendidik sambil merawat kebudayaan, serta bagaimana hubungan antarumat beragama tetap stabil dalam masyarakat yang begitu beragam. Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan rasa ingin tahu sekaligus harapan bahwa Indonesia memiliki sesuatu yang dapat dibagikan kepada dunia.
Dari sinilah terlihat bahwa diplomasi Islam Indonesia sesungguhnya adalah diplomasi yang memberi manfaat. Diplomasi yang kehadirannya membawa kesejukan dan stabilitas sosial, bukan diplomasi dalam bentuk slogan, melainkan diplomasi yang tumbuh dari perilaku sehari-hari masyarakat.
Dalam konteks global, saya teringat pada sosok Zohran Mamdani di New York. Ia seorang Muslim yang dipercaya menjadi walikota oleh masyarakat yang sangat beragam.
Ia hadir membela minoritas, membantu para imigran, serta melindungi warga yang tidak memiliki suara. Identitasnya bukan menjadi tembok, melainkan menjadi jembatan yang membuatnya diterima oleh masyarakat. Ketika minoritas merasa aman, seluruh masyarakat menjadi stabil. Pada titik itulah agama mendapat penghormatan yang lebih besar karena kehadirannya membawa ketenangan.
Baca juga : BEM SI Soroti Arah Diplomasi Iklim Indonesia di COP30
Jika perjalanan diplomasi Islam Indonesia diarahkan menuju tatanan dunia baru, maka nilai yang dapat dibawa Indonesia adalah kebijaksanaan hidup bersama. Kebijaksanaan menjaga keseimbangan nilai, kebijaksanaan menempatkan agama sebagai energi yang menenangkan kehidupan sosial.
Dunia sedang letih menghadapi polarisasi dan sedang mencari model hidup bersama yang stabil. Indonesia memiliki modal sejarah, modal sosial, dan modal budaya untuk menjawab kebutuhan itu.
Kerja sama akademik, pertukaran pengetahuan, dan ruang belajar lintas negara, termasuk dengan Rusia tentu dapat menjadi jembatan penting bagi diplomasi Indonesia ke masa depan. Dengan kekayaan pengalaman Nusantara, Indonesia dapat memperkenalkan wajah Islam yang damai, berkarakter, dan mampu menjaga keberagaman.
Moderasi Islam Indonesia adalah kekuatan yang harus dirawat. Selama nilai-nilai ini terus dipelihara, Inshaallah Indonesia akan tetap menjadi rujukan bagi banyak bangsa yang sedang mencari jalan menuju stabilitas dan kehidupan bersama yang harmonis.
Baca juga : MIND ID Perkuat Integrasi Komunikasi, Demi Terwujudnya Generasi Emas Indonesia
Ali Mochtar Ngabalin adalah Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan dan Visiting Professor of Tomsk State University, Siberia Russia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya