Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Soft Diplomacy Prabowo Subianto Di Inggris Menentukan Masa Depan Dunia
Rabu, 21 Januari 2026 05:50 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Dari kunjungan ke London hingga manuver netral di antara Amerika, Rusia, China, dan kekuatan Timur Tengah, Indonesia unjuk gigi di panggung diplomasi dunia. Semangat politik luar negeri bebas aktif kembali menemukan relevansinya, justru ketika dunia bergerak menuju polarisasi tajam dan ancaman konflik global.
Diplomasi Soft Power ala Prabowo di London
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di London pada 18 Januari 2026 untuk memulai kunjungan kerja resmi ke Inggris. Kunjungan ini selain agenda bilateral rutin, juga merupakan bagian dari strategi diplomasi yang lebih luas dalam membaca arah dunia.
Setibanya di London, Presiden Prabowo disambut hangat oleh perwakilan Kerajaan Inggris, pejabat Kementerian Luar Negeri setempat, serta Duta Besar Republik Indonesia. Sambutan ini mencerminkan satu hal penting: posisi Indonesia yang dihormati dan diperhitungkan.
Agenda di London padat dan sarat makna soft diplomacy. Pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dimanfaatkan untuk memperkuat dialog strategis di bidang ekonomi, iklim, dan kerja sama global. Selain itu, audiensi dengan Raja Charles III di Istana St. James’s menjadi simbol kuat pendekatan personal dan kultural dalam diplomasi Indonesia.
Menariknya, salah satu topik pembahasan menyentuh isu pelestarian alam dan konservasi satwa. Di tengah dunia yang gaduh oleh konflik dan ancaman perang, Indonesia justru mengangkat isu lingkungan lintas negara. SIkap ini adalah pernyataan sikap. Bahwa diplomasi tidak harus selalu keras untuk menjadi relevan.
Presiden Prabowo juga menunjukkan wajah lain diplomasi Indonesia. Di luar agenda resmi, ia menyempatkan diri bertemu dengan pelajar dan diaspora Indonesia di London. Ia menyapa, menyalami, berbincang ringan, dan memberi motivasi. Gestur sederhana ini menyampaikan pesan kuat bahwa intisari dari diplomasi hubungan antar-manusia.
Baca juga : Keponakan Prabowo Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI
Inilah soft power Indonesia bekerja. Tidak menggurui. Tidak mengintimidasi. Tetapi menyentuh dan mengikat.
Dari lawatan ini pula lahir hasil konkret. Indonesia dan Inggris menandatangani Economic Growth Partnership yang memperdalam kerja sama di sektor energi bersih, ekonomi digital, infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Di balik jamuan resmi dan protokol kenegaraan, terdapat substansi ekonomi nyata yang menguntungkan kedua belah pihak.
Usai dari London, Presiden Prabowo melanjutkan perjalanan ke Davos, Swiss, untuk menghadiri World Economic Forum 2026. Kehadiran Indonesia di forum elite global ini menandai pergeseran penting: dari sekadar pengikut menjadi aktor yang ikut membentuk agenda global.
Benang merahnya jelas. Diplomasi Indonesia hari ini dijalankan dengan pendekatan lunak, tetapi berisi. Ramah, namun berdaulat. Terbuka, tetapi teguh pada kepentingan nasional.
“Bebas Aktif” di Pusaran Kekuatan Besar
Dunia semakin terbelah. Rivalitas antara Amerika Serikat, Rusia, dan China kian tajam. Timur Tengah terus bergejolak. Di tengah situasi ini, Indonesia memilih jalan yang tidak populer, tetapi justru paling rasional: bebas dan aktif.
Sejak era pendiri bangsa, politik luar negeri bebas aktif menempatkan Indonesia tidak berpihak pada blok mana pun, namun aktif berkontribusi menjaga perdamaian dunia. Prinsip ini kembali diuji di era Presiden Prabowo.
Baca juga : Bamsoet Dukung Prabowo Gandeng Kampus Elite Inggris Tingkatkan SDM
Indonesia menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, memperkuat kemitraan ekonomi dengan China, tetap membuka komunikasi dengan Rusia, dan merawat jejaring Timur Tengah secara seimbang. Indonesia tidak mau dipaksa memilih. Karena satu musuh terlalu banyak, dan kawan harus terus ditambah.
Pendekatan ini memberi Indonesia keunggulan reputasi. Indonesia dapat berbicara dengan semua pihak. Diterima oleh yang berseteru. Dipercaya untuk menjadi jembatan dialog. Netralitas Indonesia adalah netralitas yang aktif dan bertanggung jawab.
Ketegangan global hari ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Konflik di Timur Tengah berpotensi meluas. Perang Rusia–Ukraina terus menguji stabilitas Eropa. NATO meningkatkan kesiapsiagaan. Perang dagang kembali menguat, dengan tarif dan tekanan ekonomi dijadikan alat politik.
Dunia ibarat berjalan di atas kawat tipis. Satu kesalahan kecil bisa memicu eskalasi besar. Sejarah mengajarkan bahwa perang dunia sering kali lahir dari akumulasi kesalahan kecil yang dibiarkan.
Di tengah situasi ini, Indonesia memilih untuk tidak ikut meniup api. Indonesia hadir sebagai suara penyejuk. Mengingatkan bahwa tidak ada pemenang dalam perang besar. Tidak ada kemenangan dalam kehancuran.
Diplomasi Indonesia di era Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberanian dan kejernihan. Keberanian untuk tidak ikut arus. Kejernihan untuk membaca dunia dengan kepala dingin.
Baca juga : Soal Wacana Danantara Danai Sritex, Mensesneg Tegaskan Hal Ini
Indonesia sadar posisinya. Bukan penguasa dunia maupun polisi global. Tetapi penjaga nurani dan penyeimbang tatanan. Soft power, dialog, dan kejernihan moral menjadi senjata utama. Ketika banyak negara sibuk mengeras, Indonesia memilih menenangkan. Ketika banyak pemimpin terjebak ego, Indonesia memilih merangkul.
Sejarah kelak akan mencatat siapa yang mendorong dunia ke jurang, dan siapa yang berusaha menariknya kembali. Indonesia telah memilih jalannya. Jalan diplomasi berkeadaban.
Garuda akan terus terbang di tengah badai. Tidak untuk menantang angin, tetapi untuk menunjukkan arah. Dan selama Indonesia setia pada jati dirinya, bebas dan aktif, suara perdamaian dari Jakarta akan terus menggema di dunia.
Prinsip Presiden Prabowo sederhana namun kuat. 100 teman masih terasa kurang namun 1 musuh terasa terlalu banyak. Karena itu, ia memilih jalan dialog dan menghindari konflik dengan siapa pun, baik di dalam negeri maupun di panggung dunia. Sikap ini mencerminkan kedewasaan kepemimpinan. Di tengah dunia yang mudah tersulut ego dan emosi, Indonesia hadir membawa kesejukan dan menjadikan perdamaian sebagai investasi masa depan.
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si
Ketua DPP. Partai GOLKAR, Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan, Visiting Professor, Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU) Russia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya