Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perang Harus Berhenti, Bebas Aktif Bukan Pasif Demi Cegah Kejahatan Kemanusiaan
Rabu, 6 Mei 2026 09:12 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Topik ini harus dibaca jernih…
Selama Donald Trump memberi dukungan kuat kepada Israel, perang terus bergolak._
Topik ini menarik… Benarkah demikian? Dukungan dari kekuatan besar selalu mengubah cara sekutu bertindak. Ketika dukungan itu terasa penuh, rasa aman meningkat dan batas kehati-hatian ikut menurun. Keputusan menjadi lebih agresif karena ada keyakinan bahwa dukungan tidak akan ditarik. Dampaknya terlihat pada konflik yang saat ini terjadi di Timur Tengah.
Trump sejak awal menunjukkan sikap keras terhadap Iran dan sangat terbuka membela Israel. Ia bahkan beberapa kali menyampaikan ultimatum ekstrem, termasuk tuntutan “unconditional surrender” kepada Iran serta ancaman kehancuran besar jika tidak dipatuhi.
Trump juga terlihat acuh terhadap berbagai kritik internasional yang diarahkan kepadanya. Dalam berbagai pernyataan, pendekatan yang digunakan tetap keras dan tidak menunjukkan tanda untuk menurunkan tensi. Ini memberi pesan kuat bahwa tekanan terhadap Iran akan terus dijaga pada level tinggi.
Iran dilabeli sebagai sumber teror, sementara Israel ditempatkan sebagai pihak yang harus didukung penuh. Di sisi lain, Netanyahu merespons dengan langkah yang sama kerasnya di lapangan. Keduanya beberapa kali saling menguatkan posisi secara terbuka. Hubungan ini membentuk dorongan politik yang nyata di balik eskalasi konflik.
Pola terlihat jelas. Trump dukung Israel untuk serang Iran, Netanyahu melanjutkan operasi dengan keyakinan bahwa dukungan itu tetap ada. Setiap langkah dari satu pihak menjadi bahan bakar bagi langkah berikutnya. Iran membaca tekanan itu sebagai ancaman langsung terhadap eksistensinya, lalu merespons dengan serangan balasan dan penguncian jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Baca juga : Menkop Dorong Merek Kolektif Jadi Jaminan Kredit Perbankan
Ketegangan meningkat dan menyentuh ekonomi global, dengan gangguan besar pada distribusi energi dunia. Konflik akhirnya bergerak seperti reaksi nuklir yang tak habis-habisnya. Padahal senjata nuklir masih belum dipakai.
Yang lebih memprihatinkan, dunia seperti kehilangan kemampuan untuk menghentikan ini. PBB menggelar rapat darurat, pernyataan keluar, kecaman disampaikan, tetapi tidak ada perubahan nyata di lapangan. Sistem internasional tidak mampu menghentikan jatuhnya korban.
Bahkan dalam banyak situasi, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mekanisme di bawahnya terlihat tidak memiliki daya paksa untuk menghentikan agresi yang terjadi. Dunia seperti menyaksikan konflik berjalan tanpa kontrol yang efektif.
Di sisi lain, Trump terlihat tidak terlalu terpengaruh oleh kritik global dan tetap melanjutkan pendekatan keras terhadap Iran. Bahkan pernyataan-pernyataan ekstrem tetap muncul, menunjukkan sikap yang cenderung mengabaikan tekanan internasional. Dalam situasi seperti ini, mekanisme global tampak cacat.
Jangan-jangan… Bukan Trump yang mendukung Israel, tetapi Israel yang menyetir Trump?
Hubungan ini sudah saling memengaruhi. Netanyahu membawa kepentingan keamanan dan politik Israel, sementara Trump membawa ambisi kekuatan global dan citra kepemimpinan yang tegas. Ketika keduanya bertemu, arah kebijakan menjadi semakin keras. Dalam kondisi seperti ini, keputusan damai menjadi semakin sulit muncul. Karena definisi “damai” itu sendiri sudah terdistorsi oleh kepentingan masing-masing negara.
Baca juga : Cek Layanan Haji Di Juanda, Gibran Pastikan Keberangkatan Jemaah Aman & Lancar
Di tengah semua itu, yang paling menderita tetap warga sipil. Nyawa hilang setiap hari, keluarga hancur, kehidupan runtuh tanpa pilihan. Setiap serangan yang menghilangkan nyawa orang tak bersalah harus dikutuk tanpa pengecualian. Amerika, Israel, Iran, atau siapa pun, semua harus tunduk pada batas kemanusiaan. Tidak ada kepentingan politik yang lebih tinggi dari nyawa manusia. Ini harus menjadi garis yang tidak bisa dilewati.
Dalam membaca posisi Iran, pendekatan yang diambil harus tetap rasional. Iran tidak boleh melakukan over action yang justru memperbesar eskalasi konflik. Secara realitas, akan sangat sulit bagi Iran untuk menghadapi tekanan langsung dari negara adikuasa seperti Amerika Serikat. Narasi bahwa Iran berada di atas angin perlu dibaca hati-hati, karena keseimbangan kekuatan global tetap tidak berpihak secara penuh kepada Iran.
Justru di titik ini, Iran memiliki peluang strategis untuk menurunkan level ketegangan dan membuka jalur perundingan dengan Amerika. Pesan bahwa Iran bukan negara yang bisa dipermainkan sudah tersampaikan. Namun langkah berikutnya harus diarahkan pada stabilitas, jangan dieskalasi terus.
Pendekatan kawasan juga perlu dibuka lebih luas. Iran sebenarnya memiliki peluang untuk memperkuat komunikasi dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi. Fakta bahwa Iran dapat berkomunikasi dengan Oman dan bekerja sama dengan Pakistan dalam pengamanan wilayah udara menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap tersedia.
Pertanyaannya, mengapa peluang ini tidak diperluas menjadi koalisi kawasan yang lebih stabil. Apakah Israel menjadi faktor penghalang utama dalam dinamika ini.
Pemerintah Indonesia harus berdiri tegas dalam situasi ini. Indonesia tidak perlu ikut dalam arus dukungan kekuatan besar mana pun. Indonesia harus mengutuk setiap agresi yang merenggut nyawa manusia dan mendorong penghentian perang secara nyata. Prinsip bebas aktif memberi posisi yang kuat untuk bersuara tanpa terikat. Pada akhirnya, perang tidak akan berhenti dengan sendirinya. Perang berhenti ketika ada keberanian politik untuk menghentikannya.
Baca juga : Gibran Tinjau Bendungan Bagong, Proyek Dikebut Demi Ketahanan Air Dan Pangan
Saya pernah menyampaikan bahwa Indonesia dapat mengambil peran aktif dalam mendorong proses perdamaian. Pendekatan kolaboratif dapat dibangun melalui Malaysia dan Brunei bersama Inggris sebagai bagian dari Commonwealth, serta Indonesia bersama Yordania, Turki dan Pakistan yang telah ada dengan upaya selama sebagai jalur lain yang saling melengkapi. Pendekatan ini membuka kemungkinan komunikasi lintas kawasan yang lebih efektif dan lebih diterima oleh berbagai pihak.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam geopolitik, semua kemungkinan dapat terjadi. Iran hari ini memiliki kemampuan yang pada masa lalu justru berkembang dengan dukungan Amerika. Iran juga pernah memiliki hubungan dekat dengan Israel.
Artinya, perubahan dalam hubungan internasional adalah sesuatu yang nyata dan mungkin terjadi. Dengan posisi Indonesia yang semakin strategis di tengah kedekatan dengan berbagai kekuatan global, peluang untuk berkontribusi dalam perdamaian tetap terbuka.
Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP. Partai Golkar dan Visiting Professor Tomsk State Universiti (TSU) Siberia Russia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya