Dark/Light Mode

Mengenal Islam Berkeindonesiaan (4)

Tawaquf Tetapi Kritis

Rabu, 8 Juli 2026 06:10 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu ciri Islam berkeindonesiaan ialah mudah mengakomodasi berbagai pandangan (tawaquf), tetapi tetap bersikap kritis. Tawaquf berarti menghentikan perdebatan mengenai suatu persoalan dengan memilih salah satu opsi yang dipandang paling baik di antara berbagai pilihan yang tersedia, meskipun pilihan tersebut belum tentu memuaskan semua pihak.

Tawaquf juga dapat dimaknai sebagai upaya mengintegrasikan unsur-unsur kebenaran yang terdapat dalam berbagai opsi, kemudian menetapkannya sebagai pegangan sementara. Apabila pegangan tersebut terbukti mampu menghadirkan keharmonisan di tengah masyarakat, maka ia dapat berkembang menjadi pegangan yang lebih permanen dan memperoleh legitimasi.

Tawaquf dapat menjadi jalan keluar bagi berbagai persoalan krusial yang dihadapi masyarakat. Namun, penerapannya harus didasarkan pada kriteria yang jelas dan dilakukan secara kritis. Tawaquf tanpa sikap kritis dapat menjerumuskan seseorang ke dalam sinkretisme, bid’ah, dan khurafat.

Sinkretisme adalah penggabungan nilai-nilai dari luar dengan nilai-nilai Islam yang selama ini dianut. Yang dimaksud dalam tulisan ini ialah sinkretisme agama, yaitu pencampuran berbagai paham, aliran, atau ajaran agama dan kepercayaan menjadi satu kesatuan yang kemudian berfungsi sebagai sistem nilai religius baru bagi seseorang atau suatu masyarakat. Sinkretisme dapat berupa perpaduan antara satu agama dengan agama lain, sehingga melahirkan sintesis antara kelompok ajaran yang berbeda.

Baca juga : Berbudaya Akomodatif

Contohnya ialah penggabungan ajaran Islam dengan aliran atau ajaran yang tidak sejalan dengan doktrin Islam sebagai agama tauhid.

Dalam sejarah, gnostisisme sering dijadikan contoh sinkretisme karena memadukan unsur-unsur filsafat Yunani, agama Yahudi, dan agama Kristen. Demikian pula Buddha Mahayana yang oleh sebagian kalangan dipandang sebagai hasil percampuran antara ajaran Buddha dengan unsur-unsur Hindu, khususnya tradisi pemujaan Dewa Siwa. Dalam konteks Islam, praktik tarekat dan amalan tasawuf juga kerap dituding mengakomodasi unsur-unsur sinkretisme karena terdapat kemiripan dengan praktik spiritual dari tradisi lain, misalnya metode meditasi yang dinilai memiliki kesamaan dengan praktik tafakur dan tazakur.

Namun, kemiripan dalam metode tidak serta-merta menunjukkan kesamaan dalam landasan akidah maupun tujuan spiritualnya.

Islam bukanlah suatu sistem ideologi yang dapat dibentuk berdasarkan kesepakatan para users atau stakeholders. Bagi pemeluknya, Islam merupakan agama yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dan Mahamutlak.

Baca juga : PM Modi Berkunjung, Indonesia-India Siap Tandatangani Sejumlah MoU Strategis

Karena itu, agama-agama samawi, khususnya agama-agama yang berasal dari tradisi Nabi Ibrahim atau yang lazim disebut Abrahamic Religions, berupaya mempertahankan orisinalitas ajarannya.

Mereka meyakini bahwa agama bukanlah hasil ciptaan manusia, melainkan wahyu yang diturunkan dari langit melalui para nabi dan rasul, serta dibimbing oleh kitab suci. Apa yang tercantum dalam kitab suci menjadi rujukan utama yang tidak dapat diubah atau direkayasa sesuai kehendak manusia.

Dalam perspektif Islam, sinkretisme dalam ajaran dapat berimplikasi pada syirik, yakni mempersekutukan Allah. Sinkretisme juga dapat dipandang sebagai bentuk bid’ah atau bahkan khurafat apabila mencampurkan unsur-unsur ajaran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akidah Islam.

Seorang muslim tidak dibenarkan mencampurkan ajaran agamanya dengan ajaran agama lain. Oleh karena itu, terdapat sejumlah agama atau aliran yang oleh sebagian kalangan dipandang tidak lagi merepresentasikan ajaran Islam secara utuh karena telah mengakomodasi berbagai praktik dan ajaran dari agama lain.

Baca juga : Toleransi Dengan Nilai-nilai Lokal

Contoh yang sering disebut ialah agama Sikh dan agama Bahá’í. Meskipun terdapat sejumlah persamaan tertentu, bahkan sebagian unsurnya diduga memiliki akar historis yang berkaitan dengan Islam, keduanya telah memadukan ajaran tersebut dengan unsur-unsur agama lain sehingga tidak dipandang sebagai bagian dari agama Islam.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 8 Juli 2026 dengan judul "Mengenal Islam Berkeindonesiaan (4) Tawaquf Tetapi Kritis"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.