Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menutup kunjungan singkat padatnya ke China, Jumat (15/5/2926) dengan kabar positif dan optimisme baru dalam hubungan Washington-Beijing.
Di tengah masih tajamnya perbedaan soal Taiwan, Iran, dan perdagangan global, Kementerian Luar Negeri China menegaskan pertemuan keduanya telah memberikan “stabilitas” bagi dunia.
Trump pun menilai hubungan kedua negara tetap hangat dan terus berkembang usai serangkaian pembicaraan intensif di Beijing. Trump melalui media sosial menyebut Xi mengucapkan selamat atas berbagai keberhasilan luar biasa yang diraihnya.
Trump juga menilai, Xi hanya sedang menyindir mantan Presiden AS Joe Biden ketika menyebut Amerika sebagai negara yang tengah mengalami kemunduran.
Pada Jumat (15/5/2026), Xi dan Trump menggelar pembicaraan terakhir. Xi menyambut Trump di kediaman resminya, Zhongnanhai.
Xi mengajak Trump berjalan santai melintasi area kompleks yang dipenuhi pepohonan tua dan bunga mawar khas China. Kedua pemimpin tampak menyusuri lorong beratap dengan pilar-pilar hijau serta lengkungan yang dihiasi lukisan burung dan panorama pegunungan tradisional China.
Setelah itu, keduanya berkumpul di sebuah paviliu bersama para pejabat senior untuk menggelar pertemuan sambil minum teh. Trump juga dijadwalkan menghadiri jamuan makan siang sebelum kembali ke Washington DC.
Baca juga : Iran Di Tengah Perjumpaan Trump - Xi Jinping
“Ini benar-benar menjadi beberapa hari yang luar biasa,” kata Trump kepada wartawan saat duduk bersama Xi sebelum memulai pertemuan dengan para pejabat mereka.
Trump tampak terkesan dengan suasana asri kompleks tersebut. Ia bahkan menyebut bunga mawar di lokasi itu sebagai yang paling indah yang pernah dilihatnya. Xi pun berjanji akan mengirimkan benih mawar kepada Trump.
Kompleks Zhongnanhai mengelilingi dua danau buatan yang pada masa lalu dibangun untuk kesenangan para kaisar China. Zhongnanhai kerap dibandingkan dengan Gedung Putih di AS, Kremlin di Rusia, atau Blue House di Korea Selatan.
Namun berbeda dengan kediaman resmi pemimpin negara lainnya, Zhongnanhai biasanya tidak digunakan sebagai lokasi utama kunjungan diplomatik. Undangan Xi dinilai sebagai upaya memberikan sentuhan personal kepada Trump.
“Saya rasa dia sebenarnya pribadi yang hangat. Tapi dia sangat fokus pada urusan kerja,” ujar Trump mengenai Xi dalam wawancaranya dengan Fox News.
Meski Trump berupaya menampilkan hubungan AS-China dalam suasana hangat, sejumlah persoalan sensitif tetap membayangi hubungan kedua negara adidaya tersebut.
China, misalnya, belum menunjukkan ketertarikan besar untuk lebih aktif membantu penyelesaian konflik Iran. Padahal, Trump mengaku Xi sempat menawarkan bantuan dalam percakapan mereka, sebagaimana disampaikan dalam wawancara dengan Fox News.
Baca juga : Lima Perkembangan Terbaru Hantavirus
Pemerintah AS juga masih menyoroti peran China dalam aliran bahan kimia prekursor fentanyl ilegal yang masuk ke Meksiko dan kemudian beredar di AS. Gedung Putih menilai Beijing belum berbuat cukup untuk menghentikan rantai pasokan tersebut.
Isu Taiwan kembali menjadi titik paling sensitif dalam pertemuan kedua pemimpin. Menurut pejabat Pemerintah China, Xi memperingatkan Trump bahwa perbedaan pandangan mengenai Taiwan dapat memicu konflik apabila tidak ditangani secara hati-hati.
Peringatan Xi terkait Taiwan disebut membayangi keseluruhan agenda pembicaraan pada Kamis, meskipun Trump terus menekankan bahwa AS dan China memiliki “hubungan khusus”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak berubah. Ia bahkan memperingatkan bahwa langkah China untuk merebut Taiwan melalui kekuatan militer akan menjadi kesalahan besar.
“Mereka selalu mengangkat isu itu. Kami menjelaskan posisi kami, lalu beralih ke topik lain,” ujar Rubio yang ikut mendampingi Trump dalam pertemuan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Beijing menekankan bahwa Taiwan merupakan inti kepentingan nasional China dan menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas hubungan dengan AS.
Trump sebelumnya mendesak Taiwan meningkatkan anggaran pertahanan. Pada Desember lalu, Gedung Putih mengumumkan paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan, yang disebut sebagai paket terbesar bagi pulau demokratis tersebut. Namun hingga kini, realisasi penjualan senjata itu belum dimulai.
Baca juga : Danantara, Mesin Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Trump juga mengaku ingin membahas persoalan tersebut langsung dengan Xi di Beijing. Selain itu, Trump sempat menuding Taiwan “mencuri” bisnis semikonduktor AS dan meminta Taipei membayar biaya perlindungan keamanan kepada Washington.
Di tengah tekanan tarif tinggi dan kebijakan insentif industri semikonduktor warisan era Biden, pemerintahan Trump juga mendorong Taiwan menanamkan investasi besar di sektor manufaktur chip di AS serta membeli gas alam cair dan minyak mentah AS dalam jumlah besar.
Kebijakan itu memunculkan spekulasi bahwa Trump kemungkinan bersedia mengurangi dukungan terhadap Taiwan demi kepentingan negosiasi dengan Beijing.
Pakar hubungan China-Taiwan dari Tamkang University, Ma Chun-wei, menilai meningkatnya kerja sama pertahanan antara Washington dan Taipei membuat China memperkeras sikapnya terkait Taiwan.
“Bagi Xi Jinping, ia harus menunjukkan bahwa isu Taiwan berada di tangan China. Jika tidak, ia akan menghadapi kritik di dalam negeri,” kata Ma, dikutip dari APNews.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya