Dark/Light Mode

Tiga Masukan Untuk Kepala BGN Baru

Jumat, 24 Juli 2026 13:57 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam beberapa minggu terakhir diberitakan akan beberapa perubahan dalam program MBG. Diberitakan bahwa penerima manfaat bukan hanya akan terbatas pada anak sekolah tetapi akan meliputi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dll. Selain itu, diberitakan juga bahwa program akan di perluas ke 3 T.

Juga ada pembahasan bahwa yang akan memasak bukan hanya SPPG tetapi dipertimbangkan sarana lain, mungkin seperti dapur sekolah yang mampu dll. Kita berharapm agar rencana-rencana yang sudah dibicarakan ini memang akan diimplementasikan.

Juga sudah diputuskan -dan nampaknya sudah dilaksanakan- bahwa tidak ada pemberian MBG di hari libur.

Pada 22 Juli 2026 Presiden Prabowo Subianto melantik Sudaryono sebagai kepala BGN yang baru. Tentu kita harapkan akan ada lagi perbaikan tatakelola program MBG.

Baca juga : Nanik Mundur, Sudaryono Ditunjuk Jadi Kepala BGN

Di sisi lain, kita lihat juga kenyataan bahwa pada 23 Juli 2026 dilaporkan ada keracunan makanan di Garut, yang kini sedang ditangani. Untuk perbaikan ke depan maka ada tiga hal lagi yang kita usulkan.

Pertama adalah prinsip utama bahwa makanan harus aman. Untuk ini antara lain dapat dilihat dan dikaji publikasi WHO Juni 2026 “Unsafe food causes 866 million illness and 1.5 million death”.

Masukan kedua adalah pemahaman penuh tentang rantai penyediaan makanan, yang dikenal sebagai “from farm to plate”. Jadi yang harus dijaga mutu nya bukan hanya di SPPG dan di sekolah tetapi mulai dari pertanian/peternakan, transportasi dan penyimpanan di gudang yang terjamin mutunya, lalu tentu bagaimana proses masak di SPPG, transportasi dari SPPG ke sekolah, kebiasaan makan di sekolah sampai ke pembuangan limbahnya. Semua mata rantai harus terjaga baik.

Masukan ketiga adalah agar sejak sekarang dilakukan dua jenis monitoring dan evaluasi.

Baca juga : Pesan Padmanaba Kepada Sang Juara

Kesatu adalah survei kepuasan pengguna, baik murid, orang tua, guru dll. Kedua adalah melakukan studi kohort sampai beberapa tahun ke depan untuk melihat secara ilmiah dan valid tentang dampak kesehatan dari program MBG ini.

Dengan pendekatan ilmiah ini maka akan terwujud “evidence-based public policy”, kebijakan publik berdasar bukti ilmiah.

Prof Tjandra Yoga Aditama.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University.

Baca juga : Nanik S Deyang Mundur Dari Jabatan Kepala BGN, Fokus Berobat Jantung

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :